Budi Wardono
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRSDM KP

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PROSPEKTIF PERAN AKTOR DALAM STRATEGI FORMULASI PEMBANGUNAN PERIKANAN DI KABUPATEN NATUNA Budi Wardono; Rizky Muhartono; Yayan Hikmayani; Tenny Apriliani; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 14, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v14i2.8241

Abstract

Abstrak Peranan perikanan dalam perekonomian Kabupaten Natuna cenderung meningkat. Kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Natuan sebesar 9%, namun apabila migas tidak dihitung peranannya hampir 30%. Permasalahan peningkatan sektor perikanan dalam perekonomian wilayah adalah: geografis yang terpencil, sarana transportasi terbatas, IUU Fishing, terbatasnya jumlah dan ukuran kapal dan alat tangkap dan kurangnya keterpaduan kerjasama antar pemangku kepentingan/aktor/stakeholder. Tujuan penelitian untuk mengetahui peran pemangku kepentingan/aktor/stakeholder dalam perumusan strategi pembangunan perikanan di daerah terluar Kabupaten Natuna. Penelitian dilakukan di Kabupaten Natuna pada bulan Maret-November 2017. Metode analisis yang digunakan dengan pendekatan analisis Mactor. Analisis Mactor menyediakan beragam alat dan analisis yang berguna untuk mendapatkan informasi  dan agregat situasi dari beberapa masukan sederhana tentang permasalahan yang sedang dianalisis. Aktor-aktor adalah para stakeholder yang terkait dengan pembangunan sektor perikanan di Kabupaten Natuna.  Data dikumpulkan dengan teknik wawancara dan  diskusi terfokus (FGD). Hasil penelitian menunjukkan aktor-aktor pedagang, pelaku usaha BBM, dan pemilik cold storage merupakan aktor-aktor yang mempunyai peranan/pengaruh yang tinggi dan mempunyai ketergantungan yang rendah (terletak pada kuadran I/Kiri Atas). Sebagian aktor berada di kuadran II adalah aktor yang mempunyai pengaruh tinggi, namun juga mempunyai ketergantungan yang tinggi. Aktor tersebut adalah nelayan, penyuluh, koperasi, tauke, Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), perbekalan, pengelola Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT), Kelompok Usaha Bersama (KUB), Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT), Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) dan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Diperlukan keterpaduan antar stakeholder untuk dapat meningkatkan pengaruh sektor perikanan dalam pembangunan daerah. Stakeholder yang mempunyai pengaruh rendah dan mempunyai ketergantungan yang tinggi, diperlukan perhatian agar pengaruhnya lebih tinggi dan ketergantungannya lebih rendah.Kata kunci: aktor/pemangku kepentingan; ketergantungan; mactor; pengaruh; perikananabstractThe role of fisheries in the Natuna Regency economy tends to increase. Its contribution to Natuna Regency's GRDP is 9%, but if oil and gas is not counted its role is almost 30%. Problems in increasing the fisheries sector in the regional economy: remote geography, limited transportation facilities, fish theft (IUU Fishing), limited number and size of ships and fishing gear and lack of integrated cooperation among stakeholders / stakeholders. The research objective is to determine the role of stakeholders / actors in the formulation of fisheries development strategies in the outer regions of Natuna Regency. The study was conducted in Natuna Regency in March-November 2017. The analytical method used was the Mactor analysis approach. Mactor analysis provides a variety of tools and analysis that are useful for getting information and aggregate situations from a few simple inputs about the problem being analyzed. Aktors are stakeholders related to the development of the fisheries sector in Natuna Regency. Data was collected by interview technique and focused discussion (FGD). The results showed that traders, fuel business actors, and cold storage owners are actors who have a high role / influence and have a low dependency (located in quadrant I / Upper Left). Most of the actors in quadrant II are actors who have a high influence, but also have a high dependency. The actors are fishermen, extension workers, cooperatives, tauke, Marine and Fisheries Business Capital Management Institution (LPMUKP), Supplies, SKPT Manager, business group, Fisheries Agency of Natuna Regency, Directorate General of Capture Fisheries (DJPT), Indonesia Fisheries State-owned enterprises (Perum Perindo) and Directorate General of Marine and Fisheries Resources Supervision (PSDKP). Integration among stakeholders is needed to increase the influence of the fisheries sector in regional development. Stakeholders who do not have influence and have a high dependency, attention is needed so that the influence is higher and the dependency is lower.Keywords: actors / stakeholders; Mactor, influence, dependency, fisheries
DAMPAK PEMBANGUNAN SENTRA KELAUTAN DAN PERIKANAN TERPADU (SKPT) KABUPATEN MERAUKE Budi Wardono; Hikmah Hikmah; Hakim Miftahul Huda
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v12i1.10299

Abstract

Keberadaan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) diproyeksikan untuk mendorong pembangunan dan pemanfaatan potensi sumber daya perikanan. Salah satu lokasi pengembangan SKPT adalah Merauke, yang diproyeksikan menjadi pusat bisnis kelautan dan perikanan terpadu di wilayah perbatasan, mulai dari hulu sampai ke hilir dengan berbasis kawasan di lokasi tersebut. Pertanyaannya adalah sejak diluncurkan beberapa tahun lalu, seberapa jauh upaya pengembangan SKPT ini membawa dampak. Terkait hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak pengembangan SKPT di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Penelitian ini dilakukan di lokasi tersebut pada bulan Agustus— November 2018 dan dimutakhirkan berdasarkan data yang dikumpulkan pada pada Februari 2022. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan studi kasus di kawasan SKPT Merauke dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SKPT membawa sejumlah dampak positif bagi perkembangan perikanan di wilayah itu. Dampak primer adalah berupa dorongan untuk penyediaan sarana dan prasarana untuk kegiatan usaha perikanan. Lebih lanjut, dampak primer tersebut memicu peningkatan aktivitas usaha perikanan dapat mendorong konektivitas dan perkembangan aktivitas usaha hulu maupun hilir. Termasuk dalam perkembangan aktivitas hulu adalah (i) penyediaan sarana dan prasarana penangkapan, (ii) perkembangan galangan kapal, (iii) penyediaan perbekalan, BBM, perbengkelan, dan suku cadang. Termasuk perkembangan aktivitas hilir, adalah: (i) pengolahan, (ii) pembiayaan, (iii) distribusi ikan, (iv) jasa bongkar, dan (v) pergudangan. Terlepas dari dampak-dampak positif tersebut, penelitian ini menemukan kurangnya partisipasi swasta. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan tetap berlanjutnya investasi pemerintah untuk peningkatan sarana dan prasanara fisik, yang diarahkan untuk menarik investasi swasta dan menjadi stimulus perkembangan perekonomian di Kabupaten Merauke.. Title: Impact of the Development of Merauke Regency Integrated Marine and Fisheries CenterThe existence of the Integrated Marine and Fisheries Center (SKPT) is projected to encourage the development and utilization of potential fishery resources. One of the locations for the development of the SKPT is Merauke, which is projected to become an integrated marine and fisheries business center in the border area, from upstream to downstream based on the area in that location. The question is, since it was launched several years ago, how far has this SKPT development effort made an impact. Therefore, this study aims to analyze the impact of developing SKPT in Merauke Regency, Papua Province. This research was conducted at the location in August- ovember 2018 and was updated based on data collected in February 2022. The research was carried out using a case study approach in the SKPT Merauke area with a qualitative descriptive analysis method. The results showed that the development of SKPT brought a number of positive impacts for the development of fisheries in the region. The primary impact is the encouragement to provide facilities and infrastructure for fishery business activities. Furthermore, the primary impact triggers an increase in fishery business activities that can encourage the connectivity and development of upstream and downstream business activities. The development of upstream activities includes (i) provision of fishing facilities and infrastructure, (ii) development of shipyards, (iii) provision of supplies, fuel, workshops, and spare parts. The development of downstream activities includes: (i) processing, (ii) financing, (iii) fish distribution, (iv) unloading services, and (v) warehousing. Despite these positive impacts, this study finds a lack of private participation. Therefore, this study recommends continuing government investment to improve physical facilities and infrastructure, which is directed to attract private investment and become a stimulus for economic development in Merauke Regency.