Ketersediaan sumberdaya mineral yang melimpah menjadikan Indonesia sebagai negara yang berpotensi signifikan dalam pengembangan dan pengolahan mineral. Indonesia memiliki bahan baku yang berlimpah berupa bijih besi dan material pendukung lainnya. Tetapi keterbatasan penerapan teknologi menyebabkan ketergantungan Indonesia pada impor sponge iron dan besi kasar (pig iron) sebagai bahan baku industri logam masih tinggi. Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi cadangan bijih besi lokal yang menguntungkan dan memenuhi syarat untuk diolah. Proses reduksi pellet bijih besi dalam tungku diam dan tungku putar (rotary kiln) telah dilakukan dengan cukup memuaskan. Pada penelitian yang telah dilakukan pada tahun 2011 dihasilkan sponge iron dengan metalisasi mencapai 96% pada tungku diam dan tertutup. Upaya untuk meningkatkan derajat metalisasi pellet bijih besi hingga min. 90% dalam proses reduksi di rotary kiln dengan proses kontinyu telah dilakukan pada tahun 2012. Pada unit rotary kiln variabel operasi penting untuk diperhatikan dan diamati agar memperoleh kualitas sponge iron yang dikehendaki meliputi komposisi umpan pellet bijih besi, ukuran umpan, laju alir umpan, profil temperatur operasi, kecepatan putar rotary kiln, sudut kemiringan rotary kiln, waktu tinggal, laju alir dan temperatur udara masuk untuk burner dan komposisi sponge iron. Proses reduksi pellet bijih besi dilaksanakan pada temperatur 950 – 1200oC dalam rotary kiln menggunakan pulverized burner hasil rekayasa UPT. Balai Pengolahan Mineral Lampung LIPI (UPT BPML LIPI) yang telah dipatenkan dan ditetapkan sebagai salah satu hasil Inovator pada tahun 2010 berbahan bakar batu bara lokal dan sumber energi lainnya berbasis biomassa. Target kualitas sponge iron komersial yang diharapkan memiliki kadar Fe metal ≥ 80% dan derajat metalisasi ≥ 90%. Pada penelitian ini hasil terbaik sponge iron yang diperoleh memiliki kadar Fe metal 62,62% dan derajat metalisasi 95,31%.