Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Kereta Api sebagai Angkutan Barang di Provinsi Lampung Rahayu Sulistyorini
Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan Vol 3 No 02 (2015): August 2015
Publisher : Balitbangda Provinsi Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.434 KB)

Abstract

In terms of traffic volume, land transportation plays an important role at Lampung Province. In land transport sub-sector at Sumatera Region, road transportation still dominate, especially for the movement of the passengers and goods. Specifically for the transport of goods, trains is primary conveyance to insure transportation continuity from commodity sourcing to processing place, marketing spot, or transfer spot to airport, bus station or shipping dock. Coal is greatly potential goods that can transport at Lampung particularly and generally at Sumatera. Coal from mine site at Tanjung Enim, South Sumatera, carried to Tarahan Port by train along the 60 railway coach each series of train and each railway coach load 50 ton coal. But there are still companies that use trucks to transport coal. It makes a negative externality for the residents who live along the streets be passed by coal trucks. The negative externality that appear is the destruction of a nation road and road infrastructure, traffic jam, pollution and the number of traffic accidents caused by coal trucks. Research conducted in three mining companies, they are PT. Bukit Asam Tbk, that used train, and two other companies, PT. Sumatera Bahtera Raya dan PT. Putera Lampung, that used trucks. Data collection was conducted using survey and interview. From analysis we can take that the factors affected the company in determining transportation was location of the mine and stockpile and The company's production targets. For transport costs per tonne/km railway has the advantage has the advantage of cheaper costs for large loads and further distance but less flexible to reach certain places. So, trucks still needed for companies that less production. Special line for coal trucks need for the trucks do not pass the highway that make destruction of a nation road and traffic jam in the interest of private companies.
Berapa Rupiah Terbuang Percuma Akibat Kemacetan Ditinjau dari Pemborosan Bahan Bakar Studi Kasus Jl Za. Pagar Alam-Teuku Umar Bandar Lampung Rahayu Sulistyorini
Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan Vol 3 No 01 (2015): April 2015
Publisher : Balitbangda Provinsi Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.234 KB)

Abstract

Kemacetan terjadi hampir di setiap selang waktu lalulintas di kota besar, termasuk di Bandar Lampung. Kemacetan ini menyebabkan banyak kerugian ditinjau secara finansial dari beberapa faktor seperti polusi, kehilangan waktu, pemborosan bahan bakar, dan faktor psikologis diantaranya stres. Kerugian finansial ini akan berimplikasi pada penurunan poduktifitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Penelitian ini mencoba menganalisis seberapa besar kerugian akibat kemacetan jika ditinjau dari pemborosan bahan bakar. Diharapkan hasil yang diperoleh dapat menjadi perhatian bagi pemerintah untuk mengurangi kerugian seperti contohnya menerapkan manajemen lalulintas. Penelitian ini dilakukan sepanjang Jalan Z.A Pagar Alam - Teuku Umar (±3.7 km). Semakin lama waktu perjalanan dibutuhkan, maka semakin besar jumlah liter bahan bakar yang dibuang sehingga jika dirupiahkan akan besar. Jenis kendaraan yang ditinjau adalah mobil pribadi berbahan bakar bensin dan solar, angkot serta BRT. Survey pencacahan kendaraan serta wawancara dilakukan untuk mendapatkan data yang diperlukan, yaitu konsumsi bahan bakar pada kondisi kendaraan tertunda akibat macet. Hasil penelitian menunjukkan kerugian akibat konsumsi bahan bakar sangat besar sekitar Rp. 4.765.223.503, - per tahun dengan sample sepanjang 3,7 km segmen jalan. Angka ini hanya mengambil sampel 8.123 kendaraan. Dengan mengasumsikan jumlah kendaraan di Bandar Lampung pada Tahun 2015 sebesar 169.370 kendaraan (dengan asumsi pertumbuhan kendaraan 12 % per tahun). Jika diasumsikan lagi rata-rata setiap kendaraan menempuh 8-10 km per hari nya, maka total jumlah kerugian per tahunnya menjadi Rp. 267.2 Miliar per tahun. Suatu jumlah yang sangat besar mengingat hitungan ini hanya berdasar satu faktor saja yaitu konsumsi bahan bakar akibat kemacetan. Jika ditambah dengan keugian akibat polusi, kehilangan nilai waktu juga kerugian lainnya, maka jumlah ini akan jauh lebih besar lagi. Hal ini bisa menjadi pertimbangan pemerintah untuk mengambil tindakan pengurangan kemacetan yang tidak begitu mahal seperti manajemen lalulintas, tetapi dapat menguangi kemacetan sehingga kerugian finansial tadi dapat ditekan bahkan dihilangkan.