Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PENGOLAHAN PRODUK KARET REMAH SIR 20 DENGAN PENDEKATAN STATISTICAL QUALITY CONTROL Melani Anggraini; Sulastri Sulastri; Nur Ali Anggriawan
Jurnal Rekayasa Teknologi dan sains Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jrets.v3i1.1133

Abstract

Kualitas yang baik merupakan persyaratan penting bagi perusahaan untuk memperoleh daya saing produknya dipasaran. PT Perkebunan Nusantara VII adalah perusahaan yang memproduksi karet SIR 20, yang saat ini mengalami permasalahan kualitas yang dihasilkan selalu bervariasi terkadang kualitasnya rendah, terkadang tinggi bahkan pernah terjadi tidak memenuhi standar mutu yang telah di tetapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengendalian kualitas menggunakan pendekatan Statistical Quality Control (SQC). Analisa pengendalian kualitas ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu statistik berupa check sheet, peta kendali X dan R, dan diagram sebab akibat. Hasil pengolahan data yang dilakukan, menunjukkan bahwa untuk kadar kotoran sebanyak 18 data dari 50 data pengolahan X (36,0%) tidak memenuhi standar mutu. Nilai kapabilitas proses untuk kadarkotoran adalah baik yaitu 1,05. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan dengan diagram sebab akibat dapat diidentifikasi faktor-faktor penyebab penyimpangan kualitas, seperti faktor bahan baku yang kurang baik penanganannya saat pasca panen, faktor mesin yang kurang mendapatkan perawatan, faktor metode kerja yang sering terjadi penyimpangan pada pelaksanaan kerja, faktor lingkungan yang kotor, dan faktor manusia yang kurang mematuhi standar operasi perusahaan.Kata Kunci : diagram sebab akibat, pengendalian kualitas , statistical quality Control (SQC)ABSTRACT: Quality Control Analysis on SIR 20 Crumb Rubber Products by Statistical Quality Control Approach.Good quality is an important requirement for companies to obtain the competitiveness of their products on the market. PT Perkebunan Nusantara VII is a company that produces rubber SIR 20, which is currently experiencing quality problems that are produced always vary, sometimes the quality is low, sometimes high, even if it has never happened, it does not meet the quality standards that have been set. The purpose of this study was to determine quality control using a Statistical Quality Control (SQC) approach. Quality control analysis is carried out using statistical tools such as check sheets, X and R control chart, and cause and effect diagrams. The results of data processing were carried out, showing that for 18 levels of dirt data from 50 data processing X (36.0%) did not meet quality standards. The value of process capability for dirt levels is good, which is 1.05. Based on the results of evaluations carried out with a causal diagram, it can be identified factors causing quality deviations, such as raw material factors that are not good at handling after post-harvest, machine factors that lack treatment, work method factors that often occur deviations in work performance, environmental factors. that is dirty, and human factors lack compliance with company operating standards.Keywords: cause effect diagram, quality control, statistical quality Control (SQC).
Analisis Strategi Pemasaran Pabrik Tahu dengan Metode SWOT dan QSPM Riski Saputra; Marcelly Widya; Melani Anggraini
Jurnal Riset Teknik Industri Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Teknik Industri (JRTI)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrti.v5i2.8625

Abstract

Abstrak. Pabrik Tahu Mas Puguh adalah industri pengolahan pangan berbahan baku kedelai yang menghadapi masalah produk tahu yang belum terjual akibat persaingan pabrik tahu lain, sehingga diperlukan strategi pemasaran yang tepat guna menaikkan jual beli. Tujuan dilakukan penelitian guna menganalisis strategi pemasaran yang efektif. Metode yang digunakan yaitu bauran penjualan (Marketing Mix) 4P (Price, Product, Promotion, dan Place), analisis SWOT, serta QSPM. Hasil penelitian mengindikasikan nilai IFAS sebesar 3,339 dan EFAS sebesar 3,198 yang menempatkan pabrik pada sel 1 matriks IE. Analisis SWOT didapatkan selisih nilai aspek internal (1,5886) dan seilisih nilai faktor eksternal -0,0909) yang menunjukan posisi pabrik menunjukkan kuadran II (strategi diversifikasi), sehingga strategi yang direkomendasikan yaitu ST (Strenght–Threats). Melalui matrik SWOT menghasilkan tujuh alternatif strategi pemasaran, kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan QSPM dengan hasil tertinggi strategi prioritas berupa promo “beli 10 dapat gratis 1” dengan nilai STAS tertinggi sebesar 4,049. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan loyalitas pelanggan dan daya saing pabrik di tengah persaingan ketat. Abstract. Mas Puguh Tofu Factory is a soybean-based food processing industry that faces declining sales due to increasing competition from other tofu producers. This condition indicates the need for an appropriate marketing strategy that leverages internal strengths and responds to external dynamics. This study aims to determine the priority marketing strategy for Mas Puguh Tofu Factory using SWOT analysis and the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). The methods applied include the 4P Marketing Mix, internal and external environmental analysis, and IFAS–EFAS weighting to determine the strategic position. The analysis results show an IFAS score of 3.339 and an EFAS score of 3.198, placing the company in Cell I of the IE matrix (grow and build). Meanwhile, the SWOT matrix indicates an internal factor difference of 1.5886 and an external factor difference of –0.0909, positioning the factory in Quadrant II (diversification strategy). The QSPM analysis produces seven alternative strategies, with “buy 10 get 1 free” as the highest-ranked priority strategy (STAS = 4.049). This strategy is expected to strengthen customer loyalty and enhance the factory’s competitiveness in an increasingly competitive market.