Wayan Resmini
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PADA MASYARAKAT HUKUM ADAT Wayan Resmini; Abdul Sakban
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No. 1: Maret 2018
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.115 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v6i1.625

Abstract

Pengadilan, oleh masyarakat tidak lagi dilihat sebagai lembaga penyelesaiain sengketa satu-satunya. Saat ini keberadaan lembaga pengadilan sudah terindikasi dengan berbagai kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang lebih dikenal dengan istilah KKN. Hal ini mengingat banyak produk keputusan pengadilan yang menyimpang dari asas-asas keadilan, cepat dan berbiaya murah. Dalam konteks inilah diperlukan model alternative penyelesaian sengketa pada masyararakat hukum adat yang lebih efisien, adil serta akomodatif guna menjaga kelesterian dan keberlanjutan kehidupan masyarakat hukum adat, yang lebih manusiawi dan berkeadilan. Tradisi penyelesaian sengketa pada masyarakat hukum adat didasarkan pada nilai filosofi kebersamaan (komunal), pengorbanan, nilai supernatural, dan keadilan. Dalam masyarakat hukum adat kepentingan bersama merupakan filosofi hidup yang meresap pada setiap anggota masyarakat adat. Pelaksanaan hasil mediasi yang sudah disakralkan dihadapan tokoh adat, apalagi sudah dilakukan dengan suatu upacara adat (ritual), maka kesepakatan tersebut harus dilaksanakan dengan segera, bila salah satu pihak mengingkari atau tidak bersedia melaksanakan hasil mediasi, maka pihak tersebut akan mendapatkan sanksi adat dari masyarakat hukum adat. Sanksi adat diberikan atas pertimbangan, bahwa pengingkaran kesepakatan damai merupakan bentuk pengingkaran terhadap nilai dan rasa keadilan masyarakat hukum adat. Penjatuhan sanksi adat dijatuhkan oleh tokoh adat yang bertindak sebagai penjaga nilai keadilan dan warisan leluhur dalam masyarakat hukum adat.The court, by the community is no longer seen as the only dispute resolution agency. At present the existence of a court institution has been indicated by various cases of corruption, collusion and nepotism, which are better known as KKN. This is because there are many products of court decisions that deviate from the principles of justice, fast and low cost. In this context an alternative model of dispute resolution is needed in the customary law community that is more efficient, fair and accommodative in order to maintain the sustainability and sustainability of the life of indigenous peoples, who are more humane and just. The tradition of dispute resolution in indigenous peoples is based on the values of communal philosophy, sacrifice, supernatural values, and justice. In indigenous peoples the common interest is a life philosophy that permeates every member of the indigenous community. The implementation of the mediation results that have been sacred before traditional leaders, moreover has been done with a traditional ceremony (ritual), then the agreement must be carried out immediately, if one party denies or is unwilling to carry out the mediation results, the party will get customary sanctions from the community customary law. Customary sanctions are given for consideration, that the denial of a peace agreement is a form of denial of the values and sense of justice of indigenous peoples. The imposition of customary sanctions is imposed by traditional leaders who act as guardians of the value of justice and ancestral heritage in indigenous and tribal peoples. 
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Budaya Pada Rumah Tradisional Masyarakat Sade Lombok Tengah Hendri Adrian; Wayan Resmini
CIVICUS : Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 6 No 2: September 2018
Publisher : Muhammadiyah University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.337 KB) | DOI: 10.31764/civicus.v6i2.670

Abstract

Rumah Tradisional masyarakat suku sasak yang ada di pulau Lombok masih menjaga keaslian dan memperkuat Lanti (Belulut) dengan kotoran kerbau. Menjaga nilai-nilai yang ada dalam kepercayaan turun-temurun dari nenek moyang, namun seiring perkembangan zaman dan globalisasi telah mempengaruhi keaslian rumah dan nilai-nilai budaya masyarakat Sade. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan globalisasi terhadap nilai-nilai budaya pada rumah teradisional masyarakat Sade Lombok Tengah dan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh gelobalisasi terhadap nilai-nilai budaya pada rumah tradisional masyaraakt Sade Lombok Tengah. Metode Penelitian adalah metode kulitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Dusun Sade, Desa Rambitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, informan dalam penelitian ini adalah masyarakat, tokoh adat, dan pemerhati budaya. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dilapangan bahwa pengaruh globalisasi terhdap nilai-nilai budya pada masyarakat sudah mulai terpengaruh dimana nilai-nilai atau kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat setempat yang merekat dan memperkuat lantai menggunakan kotoran kerbau. Juga terlihat dari bentuk bangunan rumah masyarakat yang sudah banyak meniggalkan keaslian dari rumah teradisional tersebut. Hal ini membuat nilai-nilai budaya pada rumah tradisional masyarakat sedikit mengalami perubahan. Traditional House of Sasak tribe people in the island of Lombok still keep the authenticity and strengthen Lanti (Belulut) with Buffalo dung. Maintaining the values that exist in the hereditary belief of the ancestors, but as the development of the Times and globalization has influenced the authenticity of the home and cultural values of Sade society. The purpose of this article is to find out the influence of globalization on cultural values in the houses of the communities of the Sade Central Lombok community and the problems posed by the globalization of cultural values in Traditional home of the people of Aakt Sade central Lombok. The research method is the method of qualitative with a descriptive approach. This research was conducted in Sade Hamlet, a village of Rambitan district of Pujut Central Lombok Regency, the informant in this research is a community, indigenous people, and cultural observers. Data collection methods using observations, interviews, and documentation with data analysis techniques using interactive analysis models. Based on the research obtained in the field that the influence of globalization in the values of the culture of the community has begun to be affected where the values or habits that have been done by the local community that is blocking and strengthening Floor using buffalo dung. Also seen from the shape of the building community House that has a lot to leave the originality of the house. This makes cultural values at traditional homes of society a little changed.