ABSTRAK Latar belakang: Bernapas melalui hidung dengan mulut tertutup merupakan tanda berkembangnya saluran pernapasan yang baik dan normal. Bernapas melalui hidung sangatlah vital untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Gangguan pernapasan bisa menyebabkan malformasi kraniofasial, maloklusi, dan deformasi rahang. Penyumbatan saluran pernapasan bagian atas pada anak-anak dapat menyebabkan gangguan tidur dan sleep apnea dan memiliki konsekuensi jangka panjang antara lain adalah kegagalan dalam prestasi akademik, gangguan perilaku seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), terhambatnya perkembangan fisik yang mempengaruhi berat badan, tinggi badan, dan cor pulmonale. Tujuan: Untuk mengevaluasi perbedaan kondisi saluran pernapasan pada pasien dengan maloklusi kelas II dan kelas III Angle. Metode penelitian: Sebanyak 32 pasien yang memenuhi kriteria inklusi antara lain tidak pernah menjalani perawatan ortodontik, bersedia dilakukan radiografi sefalometri lateral, dan memiliki maloklusi kelas II dan kelas III Angle dikumpulkan dengan metode purposive sampling. Hasil foto radiografi tersebut kemudian dilakukan analisis saluran pernapasan menurut metode McNamara. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada upper pharyngeal airway space pada maloklusi kelas II dan kelas III Angle, tetapi tidak menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada lower pharyngeal airway space. Kesimpulan: berdasarkan hasil dari penelitian, pasien dengan maloklusi kelas II Angle memiliki saluran pernapasan atas yang lebih sempit dibandingkan dengan pasien dengan maloklusi kelas III Angle.