Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERAN LABORATORIUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK ( Studi Kasus di SMA Negeri 3 Malang) Subur Wijaya
Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 2, No 2 (2018): EVALUASI-edisi SEPTEMBER
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/evaluasi.v2i2.160

Abstract

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Laboratorium Pendidikan selanjutnya disebut laboratorium, adalah unit penunjang akademik pada lembaga pendidikan, berupa ruangan tertutup atau terbuka, bersifat permanen atau bergerak, dikelola secara sistematis untuk kegiatan pengujian, kalibrasi, dan/atau produksi dalam skala terbatas, dengan menggunakan peralatan dan bahan berdasarkan metode keilmuan tertentu dalam rangka pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Jadi Laboratorium agama adalah suatu unit penunjang akademik yang di dalamnya terdapat alat peraga praktik keagamaan, mulai dari yang berbasis hard copy, e-book, software digital, dan lain-lain. Hal ini bertujuan agar pendidikan agama Islam yang diajarkan di sekolah tidak hanya sekedar teori keagamaan saja dalam artian peserta didik hanya mampu mendengarkan akan tetapi lebih dari itu, para peserta didik diajak untuk mengeksploitasi dan mempraktikkan pengetahuan agama yang didapat melalui sarana media laboratorium agama.Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membetuk peserta didik agar menajdi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa  dan berakhlak  mulia.  Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan  dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengamalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual  ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya  bertujuan pada  optimalisasi berbagai potensi  yang dimiliki manusia  yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.Proses kegiatan belajar dan mengajar di laboratorium agama sedikit banyak dapat menciptakan atmosfir pembelajaran yang efektif, inovatif dan menyenangkan, berdasarkan pengamatan peneliti salah satu indikasinya adalah siswa dapat lebih aktif dalam menyimak pelajaran yang disampaikan. Dalam proses transfer of knowledge yang di lakukan di lab agama bisa dikatakan peserta didik dapat cepat menerima materi karena mereka bukan hanya dari sisi teori tetapi sedikit banyak mereka dapat mengapikasikannya langsung, dengan cara mempraktikan, berdiskusi, tanya jawab dan lain-lain.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL PERSPEKTIF AL-QUR’AN Subur Wijaya; Idris Hisbullah Huzen
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.345 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh mengenai nilai-nilai multikultural yang terkandung di dalam alQur’an untuk kemudian dikaitkan atau dikorelasikan dengan konsep pendidikan multikultural.  Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan Library Research (penelitian kepustakaan) dan menggunakan metode deskriptif-analisis (Descriptive-analytis) yaitu dengan mendeskripsikan kemudian menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an terkait nilai-nilai pendidikan multikultural. Sumber data berupa sumber-sumber tertulis berupa kitab-kitab tafsir, buku-buku, artikel, jurnal, makalah, karya tulis dan sumber-sumber otoritatif lainnya yang relevan dengan tema.   Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali nilai-nilai multikultural di dalam al-Quran yang sesuai dan sejalan yang dapat di aplikasikan dalam pendidikan multikultural. Semua nilai itu terfokus pada tiga nilai yang menjadi nilai inti (core value) pada pendidikan multikultual. Nilai keadilan, nilai toleransi dan nilai kebangsaan apabila mampu di aplikasikan dengan baik oleh masyarakat multikultur seperti bangsa Indonesia, dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa saling menghargai atas perbedaan dan keberagaman ras, suku, budaya, etnis dan agama sehingga mampu mereduksi timbulnya konflik yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan.  
KONSEP TA`WIL SUNNI-MUKTAZILAH (STUDI ANALISIS AYAT-AYAT MUTASYÂBIHÂT DALAM MAFÂTIH AL-GHAÎB KARYA FAKHRUDDIN AL-RÂZI DAN TANZÎH AL-QUR’ÂN ‘AN AL-MATHÂʻIN KARYA QÂDLÎ ʻABDUL JABBÂR) Subur Wijaya; Zakiyal Fikri Mochamad
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.018 KB)

Abstract

Skripsi ini berjudul “Konsep Ta`wil Sunni-Muktazilah (Studi Analisis Ayat-Ayat Mutasyâbihat dalam Mafâtih Al-Ghaîb Karya Fakhruddin Al-Râzi dan Tanzih Al-Qur’ân ‘an Al-Mathâ’in karya ʻAbdul Jabbâr).” Penilitian ini difokuskan pada perbandingan model dan manhaj penafsiran al-Râzî (w. 606 H) dari aliran suni dengan Qâdlî “Abd al-Jabbâr (w. 415 H) dari muktazilah terhadap ayat-ayat mutasyâbihât berupa ayât shifât (lafaz istiwâ`, yad, dan ‘ain), al-hurûf al-muqathaʻah dan ru`yatullâh (melihat Allah SWT). Skripsi ini sejalan dengan kitab “al-Mufassirûn baina al-Taˋwîl wa al-Itsbât fî Ayât al-Shifât” karya Muẖammad bin Abd al-Raẖmân al-Mugrâwî dan skripsi (2005) “Metode Ulama Salaf dalam Memahami Ayât-ayât Mutasyâbihât” susunan Abdul Kadir. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menyatakan bahwa persoalan ayat-ayat mutasyâbihât seperti ayât shifât, itu telah didekati dengan menggunakan metode ta`wîl tafshîlî oleh ulama salaf maupun khalaf dan juga oleh ulama suni maupun muktazilah termasuk al-Râzî (w. 606 H) dan Abd al-Jabbâr (w. 415 H) tersebut. Sementara penelitian ini berbeda dengan kitab “al--Taˋwîl fî al-Tafsîr baina al-Mu‘tazilah wa al-Sunnah” karya al-Sa„îd Syanuqah yang hanya menegaskan bentuk penafsiran aliran suni dan muktazilah secara umum itu pun hanya dipusatkan pada penafsiran Zamakhsyarî (w. 538 H). Penelitian ini menunjukkan bahwa manhaj pena`wilan kedua tokoh tersebut terlihat sangat unik bahkan seringkali saling menjatuhkan satu sama lain. Hal itu terlihat pada pemahaman keduanya terhadap ayat ru`yatullâh. Di mana al-Râzî (w. 606 H) menilainya muhkam, sementara Abd al-Jabbâr (w. 415 H) sebagai mutasyâbih. Disamping itu, keduanya juga sama-sama terpengaruh oleh ideologi mazhab yang dianutnya, sehingga hasil penafsirannya pun sangat condong untuk mempertahankan mazhabnya itu.
KIBLAT PERSFEKTIF MUFASSIRIN (Kajian Analitis Penafsiran Ayat-Ayat Kiblat dalam Tafsir Al-Thabari, Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Mishbah) Subur Wijaya; Husnul Maab
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 1 (2021): Edisi Juni 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.019 KB)

Abstract

Skripsi ini berjudul “Kiblat Persfektif Mufassirîn (Kajian Analitis Penafsiran Ayat-Ayat Kiblat dalam Tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir, dan Tafsir al-Mishbah)”. Pembahsan skripsi ini hanya berfokus pada tiga ayat tentang perpindahan arah Kiblat yang terdapat di dalam surat al-Baqarah ayat 144,142, 115. Peneltian di dalam skripsi ini hadir sebagai upaya reksonstruksi atas beberapa tudingan negatif yang dilontarkan oleh kelompok orientalis mengenai perpindahan arah Kiblat yang terdapat di dalam tiga ayat surat al-Baqarah yang penulis sebutkan di atas. Salah seorang tokoh mereka Gardner mengatakan, jika perpindahan arah Kiblat yang disitir di dalam surat al-Baqarah itu adalah satu bentuk dari adanya kontradiktif yang terkandung di dalam al-Qur’an. Untuk mewujudkan apa yang penulis sebutkan di atas, maka di dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga kitab tafsir sebagai data utama yang akan penulis gunakan di dalam melihat bagaimana interpretasi sesungguhnya tentang peralihan arah Kiblat yang disebutkan oleh tiga ayat di dalam surat al-Baqarah tersebut. Diantara tafsir tersebut adalah tafsir al-Thabari, Ibnu Katsir dan tafsir al-Mishbah. Adapun penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kajian pustaka, sumber data yang terdiri dari sumber-sumber tertulis berupa kitab, buku, jurnal makalah dan sumber-sumber otoritatif lainnya yang relevan dengan judul ini. Selain itu, untuk memudahkan proses penelitian ini penulis juga menggunakan pendekatan tematiknya ‘Abdul Hayyi al-Farmawi. Dan diakhir penelitian ini berdasasrkan interpretasi yang disebutkan oleh masing-masing mufassir di dalam kitab tafsirnya, tidak ditemukan adanya indikasi yang mengarah kepada adanya kontradiktif di dalam penafsiran tiga ayat tersebut, bahkan diantara tafsiran antara yang satu dengan yang lainnya cenderung sama dan melengkapi satu sama lain.
KONSEP TOLERANSI PERSPEKTIF PARA PAKAR DAN MUFASIR Subur Wijaya
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 1, No 2 (2020): edisi DESEMBER
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.524 KB)

Abstract

Toleransi merupakan hal yang sangat urgen dalam kehidupan yang majemuk seperti negara Indonesia. Keadaan ini membuat negara yang kaya akan keragaman ini yang mungkin tidak ditemukan di Negara lain, namun keadaan yang seperti ini juga rentan terhadap permusuhan dan perpecahan antar golongan. Dari sini pendapat mufassir menjadi penting melihat mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Muslim yang berpegang teguh pada ajaran al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan al-Qurtubi terhadap penafsirannya tentang toleransi. Hasil dari penilitian ini adalah konsep toleransi menurut al Qurtubi diantaranya: pertama, Pengakuan terhadap adanya keberagaman yang Allah SWT tetapkan, kedua, Tidak ada pemaksaan untuk memeluk agama, ketiga, menerapkan keadilan baik untuk Muslim maupun non-Muslim, keempat, mengutamakan perdamaian, kelima, meneguhkan persatuan, keenam, larangan merusak dan mencela simbol keagamaan orang lain.
KONSTRUKSI METODOLOGIS PENAFSIRAN AYAT-AYAT JILBAB Subur Wijaya; Syaifullah Syaifullah
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2, No 2 (2021): Edisi Desember 2021
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.7 KB)

Abstract

Berawal dari suatu acara disebuah acara di TV, M. Quraish Shihab menjawab pertanyaan salah satu audiens tentang jilbab, Shihab menjelaskan dengan berbagai macam pendapat para ulama'. Jawaban ini membuat semua yang mendengarkan jawabannya menjadi resah, karena dianggap bertentang dengan paham yang ada di Indonesia. Dari kejadian ini penulis ingin membedah bagaimana metode penafsiran yang digunakan oleh Shihab, sehingga berpendapat seperti jawaban yang telah di utarakan. Metode yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini, menggunakan metode pendekatan kualitatif. Di dalam skripsi ini juga menggunakan kajian pustaka yakni meneliti dengan menggunakan data yang sudah ada dan data-data yang yang mempunyai relevansi dengan judul skripsi ini. Dari penelitian ini melahirkan kesimpulan, bahwa dari kedua mufassir tersebut di dalam penggunaan metode tidak jauh berbeda, hanya saja Shihab lebih banyak menggunakan pendekatan bahasa, dan penggunaan metode sumber penafsirannya, dengan menukil berbagai pendapat, namun tanpa ada pentarjihan darinya. Berbeda dengan al-Qurtubi yang lebih sedikit menggunakan pendekatan bahasa, dan di dalam penggunaan metode sumber penafsirannya, ia menyatakan pentajihan pribadinya. Dari metode yang digunakan masing masing mufassir tersebuat juga mempunyai kesimpualan yang sama, atas kebolehan perempuan menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya, hanya saja Shihab mengatakan bahwa tidak pantas mencela perempuan yang menampakkan dari apa yang telah disepakati oleh keduanya, karena masih ada ulama' yang memperbolehkan menampakkan selain wajah dan kedua telapak tangan.
VALIDITAS QIRA’AT IMAM ABŪ ‘AMR DALAM KITAB TANWĪR AL-ṢADR BI QIRA’AT AL-IMĀM ABĪ ‘AMR (STUDI QS. AL-ANFĀL) Muhamad Dikron; Subur Wijaya
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.726 KB) | DOI: 10.59622/jiat.v3i2.64

Abstract

Eksistensi praktek qira’at tujuh tidak merata di dunia Islam, dan tidak mencakup keseluruhan imam tujuh (al-qurra’ al-sab’ah). Di Indonesia, ulama nusantara yang berkhidmat di tanah haram, Muhamad Mahfudz al-Tarmasi (w. 1920 M) memberikan konsen di bidang qira’at dengan menulis karya Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr. Karya ini, hemat penulis sebagai salah satu usaha untuk terus menghidupkan qira’at sab’ah di tengah-tengah masyarakat, khususnya bacaan Abū ‘Amr. Meskipun demikian, validitas qira’at Imam Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr masih menjadi permasalahan. Kesimpulan yang didapatkan melalui kroscek dari sampel surat al-Anfal terhadap validitas qira’at Abū ‘Amr dalam kitab Tanwīr al-Ṣadr Bi Qira’at al-Imām Abī ‘Amr, secara general valid dan memiliki konsistensi terhadap kaidah atau pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr. Hasil validitas dan konsistensi didapatkan melalui parameter pola karakteristik qira’at Abū ‘Amr yang telah ditulis oleh al-Syāṭibiy yaitu meliputi bacaan isti’adzah, basmalah, al-Idgām, al-mad wa al-qashr, dua hamzah baik dalam satu kata atau dua kata, hamzah mufrod, al-fath, al-imālah dan al-Taqlīl, waqaf atau berhenti pada khat atau rasm utsmani, ya’ iḍāfah, ya’ zaidah dan farsy al-huruf  atau pola karakteristik khusus.
MENANGKAL ISLAMOFOBIA MELALUI INTERPRETASI AYAT-AYAT MODERASI PERSPEKTIF MUFASSIR KONTEMPORER Subur Wijaya; Mirza Nursyabani
Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2022): Edisi Juni 2022
Publisher : STKQ Al-Hikam Depok

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.837 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggali sikap wasathiyyah yang bersumber dari al-Qur’an guna menemukan jawaban atas permasalahan kontemporer. Tulisan ini menyimpulkan bahwa wasathiyyah dalam al-Qur’an menawarkan sikap keeseimbangan dalam menjalani keberagamaan di tengah kompleksitas sosial yang salah satunya adalah tidak diterimanya eksistensi umat Islam. Usaha pemberantasan Islamofobia dengan merujuk pada wasathiyyah dalam al-Qur’an dapat direalisasikan dengan menghadirkan pilar Islam moderat yang berfokus pada dialog peradaban dan upaya integrasi antar umat beragama. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif yang bertumpu pada studi kepustakaan (library research). Sumber primer pada penelitian ini adalah Al-Qur’an dan 3 karya tafsir kontemporer antara lain Tafsîr Al-Marâghî, Tafsîr Al-Manâr, dan Tafsîr At-Tahrîr wa At-Tanwîr dan sekunder berupa semua karya informatif yang membahas masing-masing tema; wasathiyyah dan islamofobia. Oleh karena dua tema yang berbeda, penulis mengambil pendekatan instrumental study untuk memahami lebih jelas Islamofobia sebagai fenomena sosial dan pendekatan maudhû’î untuk menganalisis tema wasathiyyah dalam al-Qur’an.