Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PREDIKSI KEKERINGAN BERDASARKAN STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI KEDUANG DI KABUPATEN WONOGIRI Dwi Utami; Rr. Rintis Hadiani; Susilowati Susilowati
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i3.37524

Abstract

Sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia adalah air. Keberadaan air di bumi ini relative tetap karena air melakukan perputaran atau biasa disebut siklus hidrologi.Perubahan iklim mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan siklus hidrologi, salah satunya adalah terjadinya kekeringan dibeberapa daerah seperti Daerah Aliran Sungai Keduang yang berada di Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui indeks kekeringan dengan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) di DAS Keduang, (2) Mengetahui indeks ketajaman kekeringan berdasarkan metode SPI, (3) Mengetahui prediksi data hujan dan kekeringan pada tahun 2012 - 2015.Metode penelitian ini menggunakan metode deskritif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data dari sumber atau instansi terkait sehingga pada penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder.Tahapan penelitian yang dilaksanakan dengan mempersiapkan data curah hujan pada tahun 2000 - 2011 dan peta topografi.Hasil hujan wilayah menggunakan metode polygon Thiessen.Untuk hujan simulasi menggunakan metode jaringan syaraf tiruan (JST) Backpropagation dengan bantuan software Matlab. Indeks kekeringan dan indeks ketajaman kekeringan menggunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI). Hasil analisis dan pembahasan dengan menggunakan metode SPI menunjukan bahwa pada tahun 2012 dan tahun 2013 tidak mengalami kondisi Sangat Kering dikarenakan selama 12 bulan dari bulan Januari sampai Desember selama 2 tahun tersebut, hanya pada bulan Juni, Juli, dan Agustus saja yang mengalami kondisi Kering dengan indeks kekeringan rata-rata diantara -1.2944 sampai -1.4879 Selebihnya bulan-bulan lainnya mengalami kondisi Basah dan Normal. Pada prediksi kekeringan DAS Keduang untuk tahun 2014 sampai tahun 2015 mengalami kondisi Sangat Kering di bulan Juli dengan indeks kekeringan rata-rata diantara -1.5039 sampai -1.5031, sementara kondisi Kering terjadi pada bulan Juni dan Agustus dengan indeks kekeringan -1.3032 sampai -1.3729. Untuk bulan Januari dan Februari mengalami kondisi Basah, dan di bulan Maret - Mei serta September - Desember mengalami kondisi Normal. Untuk prediksi kekeringan pada tahun 2012 - 2015 mengalami kondisi kering dengan nilai indeks kekeringan SPI antara -1,0 sampai -1,49.
PENGARUH INTERSEPSI TANAMAN ALPUKAT (PERSEA AMERICANA MILL) TERHADAP LIMPASAN PERMUKAAN Syaiful Khafidz; Mamok Soeprapto; Susilowati Susilowati
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i1.37590

Abstract

Intersepsi merupakan kejadian ketika air hujan jatuh dan tertahan oleh tajuk tanaman. Intensitas hujan dan kerapatan kanopi merupakan faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai intersepsi dan limpasan permukaan. Penelitian dilakukan di laboratorium menggunakan alat rainfall simulator dengan ketebalan hujan 150 mm, menggunakan tanaman Alpukat (Persea americana Mill) sebagai vegetasi tutupan lahan dengan variasi kerapatan kanopi tanaman 0%, 50%, dan 100%. Tanah digunakan sebagai media tanam, lalu ditutup menggunakan plastik mulsa hitam perak sehingga air hujan yang jatuh tidak meresap ke dalam tanah. Kemiringan lahan mengikuti kemiringan alat rainfall simulator yaitu sebesar 9%. Percobaan dilakukan tiga kali untuk setiap variasi kerapatan tanam, yaitu menggunakan pola agihan hujan seragam, Alternating Block Method, dan Modified Mononobe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pola agihan hujan serta kerapatan kanopi menunjukan besaran yang berbeda nilai presentase intersepsinya. Besarnya nilai presentase intersepsi pada pola agihan hujan seragam untuk kerapatan kanopi tanaman 0%, 50%, dan 100% berturut-turut adalah 5.32%, 13.78%, dan 16.24%. Pola agihan hujan Alternating Block Method (ABM) memiliki nilai persentase intersepsi untuk kerapatan kanopi tanaman 0%, 50%, dan 100% berturut-turut adalah 4.86%, 8.38%, dan 13.52%. Pola agihan hujan Modified Mononobe memiliki nilai persentase intersepsi untuk kerapatan kanopi tanaman 0%, 50%, dan 100% berturut-turut adalah 4.74%, 14.49%, dan 20.20%. Nilai persentase intersepsi berbanding terbalik dengan nilai persentase besarnya hujan yang menjadi limpasan permukaan. Semakin besar nilai persentase intersepsi maka menghasilkan nilai persentase limpasan permukaan yang semakin kecil.
ANALISIS KARAKTERISTIK DAN INTENSITAS HUJAN KOTA SURAKARTA Syifa Fauziyah; Sobriyah Sobriyah; Susilowati Susilowati
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.819 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v1i2.37551

Abstract

Dalam pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan perancangan berbagai bangunan keairan data masukan hujan sangat penting. Data tersebut diantaranya intensitas hujan, durasi, dan frekuensi yang disajikan dalam bentuk kurva intensitas durasi frekuensi (IDF). Kurva IDF mempermudah menganalisis debit banjir sehingga dapat digunakan untuk merencanakan bangunan keairan pengendali banjir seperti saluran, drainase, tanggul dan bangunan drainase lainnya di Kota Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah melihat karakteristik hujan Kota Surakarta, membuat kurva IDF dan mengetahui kelayakan kurva IDF yang telah dibuat. Stasiun yang dipakai dalam penelitian antara lain Ngemplak 1, Colomadu, Pabelan, Mojolaban128D, dan Grogol 67B dari tahun 1990-2011. Dari data yang ada di lima stasiun diketahui bahwa analisis hujan wilayah dari data hujan harian dan tahunan maksimum pada 15 tahun terakhir cenderung naik. Kurva IDF dibuat dengan beberapa metode dan dipilih metode Sherman karena mempunyai standar deviasi terkecil. Kala ulang yang dipilih adalah 2,5,10,25, dan 50 tahun. Perhitungan debit banjir dari intensitas hujan yang dihasilkan dari kurva IDF menyatakan bahwa kurva IDF hanya dapat digunakan pada kala ulang 5 dan 10 tahun saja, jika diuji kesamaannya dengan hasil penelitian yang lain.