Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI DAN UJI FITOKIMIA EKSTRAK ALAMI TANAMAN ANTIUROLITHIASIS Tami Oktari; Fitmawati '; Nery Sofiyanti
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 1, No 2 (2014): Wisuda Oktober 2014
Publisher : Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Indonesia, medicinal plants have been used to treat several diseases including kidney stone disease (urolithiasis). Urolithiasis is caused by the accumulation of substances inhuman urine that will form a stone, which consists of solid microlite. This stone can grow bigger if it is not treated. The kidney stone problem is the third problem after urine tract and prostate infection. Therefore, it is necessary to find out the treatment for this disease, including by using the potential plants for antiurolithiasis such as Hibiscus rosa-sinensis, Hibiscus tilliaceus, Sonchus arvensis, Sida rhombifolia, Strobilanthus crispus, and Tristaniopsis whiteana. The purpose of this study was to compare the effectiveness of six medicinal plants in dissolving kidney stones using in vitro methodand to identify their secondary metabolites that have the best potential as antiurolithiasis agent. Two tests were caried out, i.e. phytochemical test and in vitro test for detecting plant extract activity in disolving kidney stone. The extract used was pure extract. The kidney disolving test was performed at 37°C for 3 hours with 15 minutes agitation. The result of phytochemical test showed that Sonchus arvensis and Sida rhombifolia had the highest secondary metabolite content. The in vitro assay showed that all of six tested plants could disolve kidney stone. Two species (Hibiscus tilliaceus and Sonchusarvensis) gave the lowest weight of kidney stone, however there was no significant difference in each treatment (P>0,05).
Analisis Faktor-Faktor Penyebab Klaim Tertunda pada Berkas Rawat Jalan Pasien BPJS di Rumah Sakit Umum Daerah Lombok Timur Putra, Gede Wirabuana; Oktari, Tami; Cempaka, Pande Putu Rissa
JAKADIKSI: JURNAL VOKASI Vol. 5 No. 1 (2026): JAKADIKSI: JURNAL VOKASI
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Klaim tertunda (Pending Claims) BPJS Kesehatan terutama berkas rawat jalan masih menjadi masalah di RSUD Lombok Timur sehingga menyebabkan pembayaran klaim dari BPJS Kesehatan ke Rumah Sakit menjadi terlambat dan merugikan keuangan Rumah Sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja faktor penyebab terjadinya klaim tertunda berkas rawat jalan pada pasien BPJS di Rumah Sakit Umum Daerah Lombok Timur. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif, dan mengidentifikasi permasalahan menggunakan unsur 5M (Material, Man, Machine, Method, Money). klaim tertunda pasien rawat jalan pada triwulan ketiga pada bulan Juli, Agustus dan September 2024 sebanyak 697 dari 4.388 berkas. Jika dihitung dalam persentase untuk kasus klaim tertunda yaitu sebesar 15,88% dan 84,11% berkas yang lolos verifikasi. Klaim tertunda mengakibatkan tidak terbayarnya pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan sehingga pemasukan rumah sakit akan menurun dan berdampak pada kegiatan operasional dan pembagian jasa pelayanan pegawai yang ada di rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menyebabkan klaim tertunda adalah faktor man karena ketidaktepatan kode diagnosis dan kode tindakan oleh petugas koding rawat jalan, dan perbedaan persepsi antara koder dan verifikator BPJS, faktor material karena kurangnya kelengkapan berkas klaim yang di ajukan sehingga berkas rawat jalan banyak di tunda BPJS, faktor machine disebabkan karena komputer kurang memadai dan terjadi gangguan pada sistem jaringan atau koneksi internet, dan terakhir faktor money yaitu terlambatnya pembayaran jasa pelayanan karyawan, tetapi dalam hal faktor money tidak memengaruhi pelayanan yang ada di rumah sakit hanya saja terjadi keterlambatan dalam memberikan jasa pelayanan karyawan.