This Author published in this journals
All Journal Maarif
Abdullah Sidiq Notonegoro
Universitas Muhammadiyah Gresik

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sains Melampaui Politik dan Agama Abdullah Sidiq Notonegoro
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.80

Abstract

Wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 menjadi ancaman serius bagi umat manusia di muka bumi. Daya jelajah Covid-19 yang sangat masif menyebar ke banyak negara, menjadikannya sebagai wabah global yang mematikan. Meski sejumlah peneliti dari banyak negara berjuang keras berusaha menemukan antivirus Covid-19, paling tidak hingga artikel ini selesai ditulis, belum terdengar kabar jika vaksin dari Covid-19 ini telah ditemukan. Covid-19 merupakan fenomena alam yang menjadi ranah sains yang obyektif dan independen. Karena itu, pembuktikan adanya virus hanya dapat disandarkan pada temuan ilmiah yang bersifat empiris. Pemangku kebijakan publik harus bisa memberikan ruang terbuka bagi sains untuk diuji secara obyektif. Ironisnya, sisi keagamaan masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini seolah menjadi penyingkap tabir praktik peribadatan tanpa pengetahuan yang tepat. Para dai lebih bersemangat dan gigih untuk mendorong masyarakat memasifkan kegiatan beribadah, tetapi loyo dalam memprovokasi masyarakat untuk menangkap makna esoterisme keberagamaan melalui pengetahuan yang mendalam. Tulisan ini mencoba melakukan pengamatan sederhana seiring adanya kebengalan politik pemerintah---baik pusat maupun daerah---yang merespons setengah hati rekomendasi para dokter yang berada di garda depan pengobatan korban Covid-19 serta para virologi yang sedang berjuang untuk menemukan vaksin agar sebaran Covid-19 tidak semakin merajalela. Di sisi lain, keangkuhan sebagian elite agama yang menolak mentah-mentah ataupun setengah-setengah protokol pencegahan terhadap wabah Covid-19 tersebut.
Sains Melampaui Politik dan Agama Abdullah Sidiq Notonegoro
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.80

Abstract

Wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 menjadi ancaman serius bagi umat manusia di muka bumi. Daya jelajah Covid-19 yang sangat masif menyebar ke banyak negara, menjadikannya sebagai wabah global yang mematikan. Meski sejumlah peneliti dari banyak negara berjuang keras berusaha menemukan antivirus Covid-19, paling tidak hingga artikel ini selesai ditulis, belum terdengar kabar jika vaksin dari Covid-19 ini telah ditemukan. Covid-19 merupakan fenomena alam yang menjadi ranah sains yang obyektif dan independen. Karena itu, pembuktikan adanya virus hanya dapat disandarkan pada temuan ilmiah yang bersifat empiris. Pemangku kebijakan publik harus bisa memberikan ruang terbuka bagi sains untuk diuji secara obyektif. Ironisnya, sisi keagamaan masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini seolah menjadi penyingkap tabir praktik peribadatan tanpa pengetahuan yang tepat. Para dai lebih bersemangat dan gigih untuk mendorong masyarakat memasifkan kegiatan beribadah, tetapi loyo dalam memprovokasi masyarakat untuk menangkap makna esoterisme keberagamaan melalui pengetahuan yang mendalam. Tulisan ini mencoba melakukan pengamatan sederhana seiring adanya kebengalan politik pemerintah---baik pusat maupun daerah---yang merespons setengah hati rekomendasi para dokter yang berada di garda depan pengobatan korban Covid-19 serta para virologi yang sedang berjuang untuk menemukan vaksin agar sebaran Covid-19 tidak semakin merajalela. Di sisi lain, keangkuhan sebagian elite agama yang menolak mentah-mentah ataupun setengah-setengah protokol pencegahan terhadap wabah Covid-19 tersebut.
Hijrah sebagai New Social Movement? Abdullah Sidiq Notonegoro
MAARIF Vol 17 No 2 (2022): Fenomena Hijrah Generasi Milenial (Kontestasi Narasi-Narasi Agama di Ruang Publi
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v17i2.194

Abstract

Fenomena hijrah sedang populer dikalangan muda milenial dan juga selebritis/artis. Mereka tidak sekedar memaknai hijrah sebagai migrasi perilaku dari perilaku yang dianggap tidak baik menuju perilaku yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai agama. Namun juga membentuk berbagai identitas dan gerakan-gerakan simbolik untuk menjadi penegas bahwa mereka sudah bermigrasi. Misalnya dengan pakaian-pakaian yang khas seperti gamis, baju koko, berjilbab besar atau bahkan melakukan umroh bersama-sama. Juga menggelar pengajian-pengajian khusus dan ekslusif. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi alasan bagi mereka melakuan hijrah tersebut. Pertama, tumbuhnya kesadaran mereka akan pentingnya untuk menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan dunia yang kian sekuler. Mereka mengalami kesadaran bahwa jalan hidup yang dipilihnya selama ini menjauh dari nilai-nilai religiusitas. Kedua, hijrah sebagai jalan pelarian diri dari kehidupan dunia yang menjenuhkan. Ketiga, hijrah sebagai gaya hidup setelah sejumlah selebritis yang diidolakan terlebih dahulu melakuan hijrah. Hadirnya fenomena hijrah dapat menjadi hal yang positif, yaitu munculnya gerakan untuk kembali ke jiwa religius. Namun fenomena hijrah ini juga bisa berdampak negatif jika migrasi ini salah jalur. Tidak dipungkiri bahwa gerakan hijrah pun menjadi incaran kaum radikalis-teroris. Karena itu, kehadiran kelompok-kelompok moderat untuk aktif mengisi cawan-cawan kosong milenial sangat diharapkan. Media sosial yang selama ini menjadi sarana utama kaum muda milenial dalam menggali informasi keagamaan—termasuk tentang hijrah—harus berhasil didominasi oleh kelompok moderat.