Otih Rostiana
Division of Plant Breeding, Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute Jalan Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Rimpang Utama dan Rimpang Cabang Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tiga Tipe Kencur di KP. Citayam Otih Rostiana; Achmad Abdullah; Budi Martono; Wawan Wahyudin; Siti Aisyah
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 2 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v8n2.1993.89-93

Abstract

PERBANYAKAN TANAMAN ANIS (Pimpinella anisum L.) SECARA IN VITRO Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 2 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v18n2.2007.%p

Abstract

Anis merupakan tanaman introduksi dari negara sub tropis yang menghasilkan mi-nyak atsiri, dengan komponen utama anetol. Untuk memperoleh bahan tanaman yang ba-nyak dalam waktu singkat, dilakukan perba-nyakan in vitro melalui kultur tunas di dalam media MS yang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi sitokinin yang tepat untuk menginduksi tunas anis secara in vitro. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor, diulang 5 kali. Faktor pertama adalah jenis sito-kinin yaitu Kinetin, BAP dan TDZ. Faktor ke-dua adalah taraf konsentrasi yaitu 1; 1,5; 2; 2,5 dan 3 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan in-teraksi yang nyata antara jenis sitokinin dan konsentrasinya terhadap kecepatan tumbuh eksplan. Tunas paling cepat berinisiasi di da-lam media yang diperkaya kinetin ≤ 1,5 mg/l (5 hari). Jumlah tunas terbanyak dihasilkan dari media yang diperkaya TDZ dengan konsentrasi optimum 3 mg/l (13,5). Rata-rata jumlah daun terbanyak dihasilkan dari perlakuan TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l (19,2 daun). TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l merupakan perlakuan paling efektif untuk inisiasi tunas anis in vitro.
PENGGALIAN IPTEK ETNOMEDISIN DI GUNUNG GEDE PANGRANGO Rosita SMD; Otih Rostiana; E. R. Pribadi; Hernani Hernani
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v18n1.2007.%p

Abstract

Hutan tropika Indonesia kaya keane-karagaman species tumbuhan, sedikitnya ter-dapat 40.000 jenis termasuk yang berkhasiat obat. Disamping itu, keberadaan 370 suku asli dengan keanekaragaman adat dan budayanya, turut memberikan keuntungan sendiri bagi kha-sanah etnomedisin dan budaya bangsa. Proses pewarisan IPTEK etnomedisin umumnya dila-kukan secara oral. Kondisi yang demikian akan mendorong terjadinya erosi IPTEK tersebut, disamping karena masuknya budaya modern. Oleh karena itu perlu dilakukan penggalian dan pengembangan IPTEK etnomedisin. Kegiatan pengkajian ini telah dilaksanakan di kawasan Taman Nasional gunung Gede Pangrango pada bulan Januari sampai dengan Desember 2001. Survey dilakukan di 6 lokasi (gunung Gede Pangrango), mencakup 2 kabupaten (Sukabumi dan Cianjur). Penentuan lokasi dilakukan se-cara sengaja, dengan memperhitungkan kemu-dahan untuk mencapai lokasi. Narasumber yang diwawancarai juga ditetapkan secara se-ngaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan etnomedisin di kawasan gunung Gede Pangrango, terbatas pada dukun beranak. Kawasan gunung Gede Pang-rango, telah diin-ventarisasi sebanyak 23 jenis penyakit dengan 72 resep yang menggunakan 80 jenis tumbuhan obat. Hasil analisis mutu beberapa jenis sim-plisia dari lokasi survey memenuhi standar mutu yang ditetapkan MMI (Materia Medika Indonesia), sehingga memiliki prospek untuk produksi bahan baku industri obat tradisional, kosmetika dan lainnya. 
KARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.) Wawan Haryudin; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Bunga kencur tergolong bunga sempurna yaitu memiliki benang sari dan putik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari biologi bunga tanaman kencur yang dilaksanakan di Rumah Kaca Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor sejak Januari – Desember 2007. Parameter yang diamati adalah jumlah kelopak, warna kelopak, panjang dan lebar kelopak, warna mahkota, jumlah mahkota, panjang dan lebar mahkota, panjang kotak sari, lebar kotak sari, panjang tangkai putik, lebar kepala putik, panjang bunga, panjang tabung bunga, dia-meter tabung bunga, jumlah tepung sari (Pollen) fertil, jumlah tepung sari steril, per-sentase fertilitas dan sterilitas tepung sari. Data dianalisis dengan menggunakan Anova. Jika terdapat beda nyata pada setiap perlakuan di-lanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis menunjukkan morfologi kelopak bunga terpanjang pada V1 (2,30 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Sedangkan panjang mahkota bunga terdapat pada V4 (1,61 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Lebar kelopak, lebar mahkota, jumlah kelopak dan jumlah mahkota tidak berbeda nyata dari masing-masing nomor. Morfologi bunga jantan dan bunga betina dari masing-masing parameter yang dianalisis tidak berbeda nyata. Warna bunga kencur putih pada nomor V2 dan ungu terdapat pada nomor V1, V3, V4 dan V5. Bunga kencur merupakan jenis bunga yang termasuk kedalam bunga majemuk yang sem-purna (lengkap) karena terdapat bunga jantan dan bunga betina dalam satu anak bunga. Bunga jantan dan bunga betina matang bersamaan pada saat kuntum mekar penuh dengan masa reseftifitas 5 jam. Reseftifitas bunga jantan ditandai adanya warna kuning pada kotak sari sedangkan reseftifitas bunga betina ditandai ligula pada kepala putik sudah rontok dan terdapat lubang menganga di kepala putik. Fertilitas tepung sari sangat tinggi berkisar antara 97,20-99,14 %. 
STABILITAS KARAKTER MORFOLOGI 10 AKSESI CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DI KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK Wawan Haryudin; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n1.2011.%p

Abstract

Stability of 10 Accessions of Java Long Pepper (Piper retrofractum Vahl.) Based on Their Morphological Characteristics at Cikampek Research StationJava long pepper (Piper retrofractum) is an Indonesian native medicinal plant, grows in the yard, field or any humid lands. Valuable parts of java long pepper used as medicine are fruit, leaves and roots. Fruits of java long pepper contains piperin, chavicine, palmatix acid, tetrahy-dropiperic acid, 1-undecylenyl-3, 4-me-thylledioxy benzene, piperidine, essential oil, N-isobutyldeka-trans-4-dienamide, and sesamine. An experiment was perfor-med in Cikampek Research Station (50 m above sea level, C climate type in the classification Schmidth and Ferguson). This experiment was conducted since Ja-nuary to December 2005. Direct observa-tion of some accessions was made to germplasm of java long peppers collected from production center areas in 2003. The aim of this study is to identify mor-phological stability of 10 accessions of java long pepper collection. Parameters observed were stem, leaves and fruit cha-racteristics. Results showed that 10 ac-cessions of java long pepper tested were adapted well at new agro-ecological areas based on stability of morphological charac-ter of leaf, stem and fruits. Except, shape of leaf have changed from lancet to oval. Further, cluster analysis showed that 10 accesions of java long pepper were clas-sified into 2 clusters. The first cluster was divided  into 2 sub clusters on which the first sub cluster consists of 6 accessions and the second one consists of 2 acces-sions as classified by length of shortest stem node (3.69-4.05 cm). The second cluster, there were 2 accessions which were separated from one to the others based on the smallest leaves width (2.11-3.48 cm). 
PENGARUH Indole Butyric Acid DAN Naphtaleine Acetic Acid TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TUNAS PIRETRUM [Chrysanthemum cinerariifolium (Trevir.)Vis.] KLON PRAU 6 SECARA IN VITRO Otih Rostiana; Deliah Seswita
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v18n1.2007.%p

Abstract

Effects of Indole Butyric Acid and Naphtaleine Acetic Acid on the root-induction of pyrethrum [Chrysanthemum cinerariifolium (Trevir.)Vis.] clone Prau 6 in vitroPyrethrum is one of botanical pesti-cides producing plant that has beneficial va-lue to be improved as the substitution of syn-thetic pesticide, which is considered to be harmful for both of human and environment. In order to obtain a sufficient planting mate-rial, in vitro propagation had been performed. Rooted-shoots derived from in vitro cultured adapted better than that of un-rooted one, when transplanted into the field (acclima-tization). Therefore, in this research root in-duction of pyrethrum clone Prau 6-in vitro-shoots were conducted by applying Indole Butyric Acid (IBA) and Naphtaleine Acetic Acid (NAA). Experiment was arranged in a single factor Completely Randomized Design with 10 replications. The treatment tested was an application of synthetic auxins (IBA or NAA) into MS medium in 5 different level of concentrations (0.2; 0.4; 0.6; 0.8; 1.0 mg/l), and control (without auxin). The parameters observed were time to root-initiation, number and length of root, and root characteristic, at 6 weeks after subcultured. The results showed that application of IBA or NAA into MS me-dium significantly affected to the root initia-tion time, number of root, length and charac-teristic of the root, 6 weeks after subcultured. Induced-root on the medium containing 0.2 mg/l IBA showed a better characteristic as compared to others treatments with rounded-form, shorter initiation time (12.5 days), large amount of root (14.1) and longer (1.47 cm). 
PERBANYAKAN TANAMAN ANIS (Pimpinella anisum L.) SECARA IN VITRO Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 2 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v18n2.2007.%p

Abstract

Anis merupakan tanaman introduksi dari negara sub tropis yang menghasilkan mi-nyak atsiri, dengan komponen utama anetol. Untuk memperoleh bahan tanaman yang ba-nyak dalam waktu singkat, dilakukan perba-nyakan in vitro melalui kultur tunas di dalam media MS yang diperkaya dengan sitokinin yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi sitokinin yang tepat untuk menginduksi tunas anis secara in vitro. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor, diulang 5 kali. Faktor pertama adalah jenis sito-kinin yaitu Kinetin, BAP dan TDZ. Faktor ke-dua adalah taraf konsentrasi yaitu 1; 1,5; 2; 2,5 dan 3 mg/l. Hasil penelitian menunjukkan in-teraksi yang nyata antara jenis sitokinin dan konsentrasinya terhadap kecepatan tumbuh eksplan. Tunas paling cepat berinisiasi di da-lam media yang diperkaya kinetin ≤ 1,5 mg/l (5 hari). Jumlah tunas terbanyak dihasilkan dari media yang diperkaya TDZ dengan konsentrasi optimum 3 mg/l (13,5). Rata-rata jumlah daun terbanyak dihasilkan dari perlakuan TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l (19,2 daun). TDZ de-ngan konsentrasi 3 mg/l merupakan perlakuan paling efektif untuk inisiasi tunas anis in vitro.
PENGGALIAN IPTEK ETNOMEDISIN DI GUNUNG GEDE PANGRANGO Rosita SMD; Otih Rostiana; E. R. Pribadi; Hernani Hernani
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v18n1.2007.%p

Abstract

Hutan tropika Indonesia kaya keane-karagaman species tumbuhan, sedikitnya ter-dapat 40.000 jenis termasuk yang berkhasiat obat. Disamping itu, keberadaan 370 suku asli dengan keanekaragaman adat dan budayanya, turut memberikan keuntungan sendiri bagi kha-sanah etnomedisin dan budaya bangsa. Proses pewarisan IPTEK etnomedisin umumnya dila-kukan secara oral. Kondisi yang demikian akan mendorong terjadinya erosi IPTEK tersebut, disamping karena masuknya budaya modern. Oleh karena itu perlu dilakukan penggalian dan pengembangan IPTEK etnomedisin. Kegiatan pengkajian ini telah dilaksanakan di kawasan Taman Nasional gunung Gede Pangrango pada bulan Januari sampai dengan Desember 2001. Survey dilakukan di 6 lokasi (gunung Gede Pangrango), mencakup 2 kabupaten (Sukabumi dan Cianjur). Penentuan lokasi dilakukan se-cara sengaja, dengan memperhitungkan kemu-dahan untuk mencapai lokasi. Narasumber yang diwawancarai juga ditetapkan secara se-ngaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan etnomedisin di kawasan gunung Gede Pangrango, terbatas pada dukun beranak. Kawasan gunung Gede Pang-rango, telah diin-ventarisasi sebanyak 23 jenis penyakit dengan 72 resep yang menggunakan 80 jenis tumbuhan obat. Hasil analisis mutu beberapa jenis sim-plisia dari lokasi survey memenuhi standar mutu yang ditetapkan MMI (Materia Medika Indonesia), sehingga memiliki prospek untuk produksi bahan baku industri obat tradisional, kosmetika dan lainnya. 
KARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.) Wawan Haryudin; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 19, No 2 (2008): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v19n2.2008.%p

Abstract

Bunga kencur tergolong bunga sempurna yaitu memiliki benang sari dan putik. Penelitian bertujuan untuk mempelajari biologi bunga tanaman kencur yang dilaksanakan di Rumah Kaca Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor sejak Januari – Desember 2007. Parameter yang diamati adalah jumlah kelopak, warna kelopak, panjang dan lebar kelopak, warna mahkota, jumlah mahkota, panjang dan lebar mahkota, panjang kotak sari, lebar kotak sari, panjang tangkai putik, lebar kepala putik, panjang bunga, panjang tabung bunga, dia-meter tabung bunga, jumlah tepung sari (Pollen) fertil, jumlah tepung sari steril, per-sentase fertilitas dan sterilitas tepung sari. Data dianalisis dengan menggunakan Anova. Jika terdapat beda nyata pada setiap perlakuan di-lanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil analisis menunjukkan morfologi kelopak bunga terpanjang pada V1 (2,30 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Sedangkan panjang mahkota bunga terdapat pada V4 (1,61 cm) berbeda nyata dengan V5 tetapi tidak berbeda nyata dengan nomor lainnya. Lebar kelopak, lebar mahkota, jumlah kelopak dan jumlah mahkota tidak berbeda nyata dari masing-masing nomor. Morfologi bunga jantan dan bunga betina dari masing-masing parameter yang dianalisis tidak berbeda nyata. Warna bunga kencur putih pada nomor V2 dan ungu terdapat pada nomor V1, V3, V4 dan V5. Bunga kencur merupakan jenis bunga yang termasuk kedalam bunga majemuk yang sem-purna (lengkap) karena terdapat bunga jantan dan bunga betina dalam satu anak bunga. Bunga jantan dan bunga betina matang bersamaan pada saat kuntum mekar penuh dengan masa reseftifitas 5 jam. Reseftifitas bunga jantan ditandai adanya warna kuning pada kotak sari sedangkan reseftifitas bunga betina ditandai ligula pada kepala putik sudah rontok dan terdapat lubang menganga di kepala putik. Fertilitas tepung sari sangat tinggi berkisar antara 97,20-99,14 %. 
STABILITAS KARAKTER MORFOLOGI 10 AKSESI CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DI KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK Wawan Haryudin; Otih Rostiana
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 1 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v22n1.2011.%p

Abstract

Stability of 10 Accessions of Java Long Pepper (Piper retrofractum Vahl.) Based on Their Morphological Characteristics at Cikampek Research StationJava long pepper (Piper retrofractum) is an Indonesian native medicinal plant, grows in the yard, field or any humid lands. Valuable parts of java long pepper used as medicine are fruit, leaves and roots. Fruits of java long pepper contains piperin, chavicine, palmatix acid, tetrahy-dropiperic acid, 1-undecylenyl-3, 4-me-thylledioxy benzene, piperidine, essential oil, N-isobutyldeka-trans-4-dienamide, and sesamine. An experiment was perfor-med in Cikampek Research Station (50 m above sea level, C climate type in the classification Schmidth and Ferguson). This experiment was conducted since Ja-nuary to December 2005. Direct observa-tion of some accessions was made to germplasm of java long peppers collected from production center areas in 2003. The aim of this study is to identify mor-phological stability of 10 accessions of java long pepper collection. Parameters observed were stem, leaves and fruit cha-racteristics. Results showed that 10 ac-cessions of java long pepper tested were adapted well at new agro-ecological areas based on stability of morphological charac-ter of leaf, stem and fruits. Except, shape of leaf have changed from lancet to oval. Further, cluster analysis showed that 10 accesions of java long pepper were clas-sified into 2 clusters. The first cluster was divided  into 2 sub clusters on which the first sub cluster consists of 6 accessions and the second one consists of 2 acces-sions as classified by length of shortest stem node (3.69-4.05 cm). The second cluster, there were 2 accessions which were separated from one to the others based on the smallest leaves width (2.11-3.48 cm).