Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Intelektual Modernisme Dan Intelektual Salafisme: Upaya Menuju Insan Yang Madani Di Era Divergensi Achmad Nasrulloh
MASADIR: Jurnal Hukum Islam Vol. 1 No. 1 (2021): APRIL 2021
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/masadir.v1i1.331

Abstract

Abstrak: This study aims to determine the attitudes or intellectual character of modernism and salafism that exist in pesantren academics who are also university students in responding to some of the problems they have encountered. The results of this study indicate that Mambaus Sholihin students use the intellectual character of modernism and salafism in answering several problems, in this case in the form of a view on professional zakat and an analysis of the verses of Q.S At-Taubah. Then in a review of Karl Mannheim's social theory on social action and the meaning of behavior of students of Santri Mambaus Sholihin which contains 3 object meanings. First, the objective meaning is that students of Mambaus Sholihin students have views on several things related to professional zakat and provide. The two meanings are expressive, that they view intellectual modernism as a type of thought that prioritizes rationality from contemporary and classical references that tend to tectulize from the Al-Qur'an and the Prophet's Hadith. The third documentary meaning is that the intellectual character of modernism and salafism has become something that is very inherent in santri students in answering various problems found from classical or contemporary reference sources. Kata Kunci : Intelektual Modernisme, Intelektual Salafisme.
TRADISI SEDEKAH BUMI DAN LAUT DALAM KONTEKS HUKUM ISLAM: TRADISI SEDEKAH BUMI DAN LAUT DALAM KONTEKS HUKUM ISLAM Achmad Nasrulloh
Ar-Risalah Media Keislaman Pendidikan dan Hukum Islam Vol. 20 No. 2 (2022): (Oktober 2022)
Publisher : LPPM IAI IBRAHIMY GENTENG BANYUWANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/ar-risalah.v20i2.1314

Abstract

Dewasa ini banyak tradisi sedekah bumi atau laut yang diisi dengan nilai-nilai yang menyimpang dari ajaran Islam, seperti meminta pertolongan kepada selain Allah Swt, saling melempar nasi dengan alasan agar makhluk bumi bisa merasakan nikmat bersama, menghanyutkan kepala sapi, kerbau, dan semacamnya di laut. Sangat menarik untuk diteliti tentang apa motifnya dan di dalam Islam bagaimana hukumnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi sedekah bumi dan laut yang dilakukan di desa Sambongwangan dan Gebang merupakan tradisi yang dijaga eksistensi nilai-nilai tradisi dengan dipadu dengan nilai-nilai keislaman seperti pembacaan doa bersama, pengajian dan ritual keagamaan lainya. Karena itu diperlukan kedua tradisi tersebut dalam menumbuhkan rasa dermawan, saling berbagi, menjaga tali silaturrahim dan lain sebagainya. Hasil dari analisis teori sosial Karl Mannheim, menghasilkan kesimpulan diantaranya pertama makna objektif, dimana mereka malaksanakan tradisi tersebut di setiap tahun sekali (hari rabu pon sebelum masa panen untuk tradidi sedekah bumi dan bulan ruwah sebelum bulan Ramadhan untuk tradisi sedekah laut). Kedua makna ekspresif menghasilkan kesimpulan bahwa masyarakat kedua desa tersebut memandang bahwa kedua tradisi memiliki dampak positif dan bernilai edukasi. Ketiga, makna dokumenter yang mengihasilkan kesimpulan bahwa tradisi sedekah bumi dan laut di kedua desa menjadi tradisi yang begitu melekat di desa tersebut.