Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

THE MEASUREMENT OF MANGROVE FOREST ECOSYSTEM AREA BY COMMUNITY UNIT APPROACH IN TANGERANG REGENCY Endan Suwandana; Reni Pebrianti
Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah Vol 3 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/jkpd.v3i1.52

Abstract

ABSTRAK Luasan ekosistem bakau (mangrove) yang dikeluarkan secara resmi oleh berbagai instansi berbeda-beda. Hal ini menyebabkan kebingungan di masyarakat karena tidak adanya data baku yang dapat digunakan bersama. Salah satu penyebab perbedaan luasan itu adalah karena perbedaan pendekatan yang digunakan. Dalam menghitung luasan ekosistem mangrove, beberapa instansi menghitung luasan mangrove dengan memasukkan kolom air di sekitarnya. Sehingga data tutupan mangrove menjadi lebih luas dari kondisi sebenarnya. Maka, agar penghitungan luasan tutupan ekosistem mangrove lebih konsisten, maka diperlukan sebuah pendekatan baru dimana yang dihitung hanya tutupan bakaunya saja, sementara tutupan kolom air di sekitarnya diabaikan. Untuk itulah maka teknik penghitungan unit komunitas diperkenalkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 1600 unit komunitas mangrove di seluruh pesisir pantai Kabupaten Tangerang, dengan total luasan unit komunitas mangrove mencapai 182.4 ha. Kata Kunci: Unit Komunitas, Hutan Bakau, Pantai Utara Jawa, Citra Satelit ABSTRACT The total area of mangrove ecosystems that are officially issued by various agencies is different. This causes confusion in the community because there is no standard data that can be used together. One of the causes of differences in mangrove total area is because of the different approaches used. In calculating the area of mangrove ecosystem, several agencies calculate the area of mangrove by entering the surrounding water column, so that the data on mangrove coverage becomes wider than the actual conditions. Therefore, in order the calculation of the area of mangrove ecosystem coverage to be more consistent, a new approach is needed where only the mangrove coverage is calculated, by omitting the coverage of the surrounding water column. For this reason, community unit counting technique was introduced in this study. The results of this study indicate that there are around 1600 units of mangrove communities throughout the coastline of Tangerang Regency, with a total area of mangrove community units reaching 182.4 ha. Keywords: Community Unit, Mangrove, North Coast of Java, Satellite Imageries
EVALUASI PENGELOLAAN LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT RUJUKAN COVID-19 DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Anak Agung Trisnawati; Endan Suwandana
Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat Vol 21, No 1 (2021): Jurnal Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/sulolipu.v21i1.2097

Abstract

AbstrakMengingat pentingnya pengelolaan limbah padat rumah sakit (RS) pada masa pandemi Covid-19, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan limbah padat RS rujukan Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2021. Jenis penelitian observasional ini bersifat deskriptif dengan  pendekatan cross sectional dan mixed methods kuantitatif dan kualitatif. Dengan  teknik purposive sampling, dari 19 RS rujukan Covid-19 diperoleh sampel 14 RS, yang terdiri dari 4 RS rujukan pertama dan 10 RS rujukan kedua. Objek penelitian ini adalah pengelolaan limbah padat domestik dan khusus serta medis Bahan Berbahaya Beracun (B3) dari pasien Covid-19. Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai Maret 2021. Ditemukan lebih banyak  permasalahan pengelolaan limbah padat medis B3 pasien Covid-19 di masa pandemi jika dibandingkan dengan pengelolaan limbah padat domestik serta khusus. Pada pengelolaan limbah medis B3 ada 13 kegiatan yang belum sepenuhnya dilaksanakan dengan pelaksanaan 64-100%, sedangkan pada limbah domestik dan khusus hanya 6 kegiatan (76-100%). Kategori pengelolaan limbah padat domestik dan khusus maupun medis B3 berkisar baik sampai cukup dengan perincian pengelolaan limbah padat domestik dan khusus RS rujukan ke-2 Covid-19 semua bernilai baik (100%) sedangkan RS rujukan pertama bernilai 75 % baik dan 25% cukup.  Berbanding terbalik dengan pengelolaan limbah padat medis B3, RS rujukan pertama semua bernilai baik (100%) sedangkan RS rujukan kedua bernilai 70 % baik dan 30% cukup. Beberapa temuan yang masih perlu diperhatikan adalah pelabelan kantong sampah medis B3, desinfeksi limbah dalam kantong  terikat dan TPS domestik maupun B3 medis, keterlambatan pengangkutan oleh pihak ketiga, kepatuhan penggunaan alat pelindung diri pada petugas pengangkut sampah serta pengelolaan limbah medis B3 berbasis wilayah. Kata kunci:  fasyankes, pandemi Covid-19, sanitasi dan higienitas, sampah padat medis 
The effectiveness of blended learning scientific writing training in the condition of multitasking participants Sevrien Erwina Arumbayati; Endan Suwandana; Eni Lestariningsih
Monas: Jurnal Inovasi Aparatur Vol. 4 No. 2 (2022): November
Publisher : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi DKI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54849/monas.v4i2.113

Abstract

The purpose of this study was to examine a learning phenomenon that emerged during the hectic distance learning method (online), namely the multitasking phenomenon carried out by trainees. This research is interesting because currently multitasking is an obstacle as well as a challenge faced by every online training participant. The question to be answered is whether the training are effective, when participants are doing multitasking. This research was conducted on participants of the Scientific Writing Training (KTI) at the Central Statistics Agency's Education and Training Center in 2021 and 2022. The method used in this study was descriptive quantitative analysis. The results of this study show that the participation of the trainees as indicated by their virtual attendance and their focus/concentration is disrupted by the large number of workloads (multitasking). However, the participants' multitasking conditions did not affect the effectiveness of the training as indicated by the increase in the post-test scores from the pre-test scores and the completion of the paper manuscript assignment. Nevertheless, the training organizers and the leaders of the trainees still need to consider this fact to take actions to reduce multitasking tension so as to increase the level of attendance and focus/concentration of the trainees.
THE MEASUREMENT OF MANGROVE FOREST ECOSYSTEM AREA BY COMMUNITY UNIT APPROACH IN TANGERANG REGENCY Endan Suwandana; Reni Pebrianti
Jurnal Kebijakan Pembangunan Daerah Vol 3 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56945/jkpd.v3i1.52

Abstract

ABSTRAK Luasan ekosistem bakau (mangrove) yang dikeluarkan secara resmi oleh berbagai instansi berbeda-beda. Hal ini menyebabkan kebingungan di masyarakat karena tidak adanya data baku yang dapat digunakan bersama. Salah satu penyebab perbedaan luasan itu adalah karena perbedaan pendekatan yang digunakan. Dalam menghitung luasan ekosistem mangrove, beberapa instansi menghitung luasan mangrove dengan memasukkan kolom air di sekitarnya. Sehingga data tutupan mangrove menjadi lebih luas dari kondisi sebenarnya. Maka, agar penghitungan luasan tutupan ekosistem mangrove lebih konsisten, maka diperlukan sebuah pendekatan baru dimana yang dihitung hanya tutupan bakaunya saja, sementara tutupan kolom air di sekitarnya diabaikan. Untuk itulah maka teknik penghitungan unit komunitas diperkenalkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat sekitar 1600 unit komunitas mangrove di seluruh pesisir pantai Kabupaten Tangerang, dengan total luasan unit komunitas mangrove mencapai 182.4 ha. Kata Kunci: Unit Komunitas, Hutan Bakau, Pantai Utara Jawa, Citra Satelit ABSTRACT The total area of mangrove ecosystems that are officially issued by various agencies is different. This causes confusion in the community because there is no standard data that can be used together. One of the causes of differences in mangrove total area is because of the different approaches used. In calculating the area of mangrove ecosystem, several agencies calculate the area of mangrove by entering the surrounding water column, so that the data on mangrove coverage becomes wider than the actual conditions. Therefore, in order the calculation of the area of mangrove ecosystem coverage to be more consistent, a new approach is needed where only the mangrove coverage is calculated, by omitting the coverage of the surrounding water column. For this reason, community unit counting technique was introduced in this study. The results of this study indicate that there are around 1600 units of mangrove communities throughout the coastline of Tangerang Regency, with a total area of mangrove community units reaching 182.4 ha. Keywords: Community Unit, Mangrove, North Coast of Java, Satellite Imageries