This Author published in this journals
All Journal Semiotika Deiksis
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELANGGARAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA SISWA KELAS VII-B MTs MUHAMMADIYAH 3 YANGGONG DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN GURU Abdul Ghoni Mahmudi; Lulus Irawati; Dwi Rohman Soleh
SEMIOTIKA: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik Vol 21 No 2 (2020): Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik
Publisher : Diterbitkan oleh Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember bekerja sama dengan Himpunan Sarjana - Kesusastraan Indonesia (HISKI), Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/semiotika.v21i2.17078

Abstract

This research describes the breach of politeness in learning Indonesian in class VII-B MTs Muhammadiyah 3 Yanggong, Ponorogo Regency. In the Indonesian learning process, especially in the topic "Speaking Indonesian properly and correctly" students should use polite language whenever communicating to the teacher. However, there are still many students who break the principle of politeness. This research used descriptive qualitative method—data collection using the observation method with note-taking and recording techniques. The results of this study indicate that there is a violation of all politeness maxims in learning Indonesian. A form of violating the maxims of wisdom is that students do not respond to their teachers by answering unserious or joking. Flouting of generosity maxims is shown by how students convey their intentions or wishes emotionally. The students violate the maxims of approbation, in which students criticize directly or frankly. Violation of the maxims of modesty is delivered by underestimating the partner. Violation of the agreement's maxims is indicated by students' attitude who do not respect their teacher's orders by speaking in a rude Javanese speech style or ngoko. The students break the maxims of sympathy by boasting or praising themselves in front of their teachers and classmates.
Kesantunan Berbahasa Siswa dalam Berkomunikasi dengan Guru (Kajian Pragmatk) Abdul Ghoni Mahmudi; Lulus Irawati; Dwi Rohman Soleh
Deiksis Vol 13, No 2 (2021): Deiksis
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.1 KB) | DOI: 10.30998/deiksis.v13i2.6169

Abstract

Di dalam lingkungan sekolah, seharusnya siswa mampu mengendalikan tuturannya. Hal ini dikarenakan lingkungan sekolah merupakan tempat mereka menuntut ilmu dan membentuk karakter. Akan tetapi, pada kenyataannya dalam proses pembelajaran masih ditemukan beberapa siswa yang menggunakan bahasa tidak santun kepada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa pada siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 3 Yanggong Ponorogo. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, metode yang digunakan deskriptif. Data penelitian berupa dialog maupun konversasi siswa dengan temannya dan siswa dengan guru. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, teknik rekam, dan wawancara. Dari hasil penelitian ditemukan adanya tuturan siswa yang mematuhi maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatisan. Akan tetapi adapula tuturan siswa yang melanggar maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian. Kata Kunci: Kesantunan, Berbasaha, Pragmatik