Elza Surmaini
Balitklimat (IAHRI), BBSDLP (ICALRD), Balitbangtan (IAARD), Kementan (MoA)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CLIMATE RISK MANAGEMENT FOR SUSTAINABLE AGRICULTURE IN INDONESIA: A REVIEW / Pengelolaan Resiko Iklim untuk Pertanian Berkelanjutan di Indonesia: Sebuah Tinjauan Elza Surmaini; Fahmuddin Agus
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v39n1.2020.p48-60

Abstract

Climate-change related hazards, including drought, floods, extreme temperatures, and sea-water level rise have impacted Indonesia’s agriculture and these associated with economic losses. Therefore, it is increasingly important for farmers to be able to proactively anticipate the impact of weather and climate risks to protect their livelihoods through climate risk management (CRM) and to practice the sustainable agricultural production systems. Sustainable agriculture practices are needed to enhance resilience to adverse climate change events. This paper attempts to provide a review of agricultural risks related to climate change, principles and current CRM practices, and CRM practices at farm level based on agroecosystems, as well as approaches in enhancing agriculture CRM for sustainable agriculture development. The key technologies for lowland rice farming include alternate wetting and drying irrigation systems, and the use of drought, saline, and submergence tolerant rice varieties. For upland farming, water storage facilities such as water retardation pond, long storage, and channel reservoir are important. Subsequently, efficient water distribution systems such as drip irrigation, sprinkler irrigation, as well as capillary irrigation need enhancement. Various soil management technologies including minimum tillage and organic matter application are essential. For swampland one-way water management and conservation blocks, the “surjan” system, planting of adaptive varieties, and soil amelioration and fertilization are among the key treatments. Accurate climate forecasts may allow decision makers and farmers to make decisions to reduce negative impacts or take advantage of expected favorable climate. Finally, engagement of various actors, and capacity building is an integral part of CRM.Keywords: Climate, management, agriculture, sustainable, agroecosystem. AbstrakBencana iklim seperti kekeringan, banjir, suhu ekstrem dan kenaikan muka air laut berdampak negatif terhadap pertanian dan menimbulkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu menjadi semakin penting bagi petani untuk proaktif mengantisipasi dampak risiko cuaca dan iklim untuk melindungi kehidupan mereka melalui pengelolaan risiko iklim dan menerapkan sistem produksi pertanian berkelanjutan. Praktik budi daya pertanian berkelanjutan memerlukan upaya peningkatan ketangguhan tanaman terhadap dampak kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan risiko pertanian terhadap perubahan iklim, prinsip dan praktik pengelolaan risiko iklim, dan praktik pengelolaan risiko iklim di tingkat petani berdasarkan agroekosistem, serta pendekatan untuk mendorong praktik pengelolaan risiko iklim untuk pertanian berkelanjutan. Teknologi utama untuk pertanian padi sawah termasuk pengairan berselang dan penggunaan varietas toleran kekeringan, salinitas, dan rendaman. Untuk pertanian lahan kering diperlukan bangunan pemanen air seperti embung, long storage, dan dam parit untuk pengairan tanaman. Selain itu, sistem distribusi air yang efisien seperti irigasi tetes, irigasi sprinkler, dan irigasi kapiler juga diperperlukan. Berbagai teknologi pengelolaan tanah termasuk pengolahan tanah minimum dan penggunaan bahan organik sangat penting. Pada lahan rawa pasang surut, pengelolaan air satu arah dan blok penyimpan air, sistem surjan, penanaman varietas adaptif, dan penggunaan amelioran dan pemupukan merupakan perlakuan utama. Prediksi iklim yang akurat dapat digunakan pengambil kebijakan dan petani dalam mengambil keputusan untuk mengurangi dampak negatif atau memanfaatkan kondisi iklim. Pelibatan berbagai aktor dan peningkatan kapasitas merupakan bagian integral dari pengelolaan risiko iklim.Kata kunci: Iklim, pengelolaan, pertanian, berkelanjutan, agroekosistem.
Integrasi Prediksi Musim dengan Model Simulasi Tanaman untuk Penentuan Waktu Tanam Padi Elza Surmaini; Tri Wahyu Hadi; Kasdi Subagyono; M. Ridho Syahputra
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 42, No 2 (2018)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v42n2.2018.99-110

Abstract

Abstrak. Penyesuaian waktu tanam merupakan upaya dengan biaya yang paling efisien untuk meningkatkan produktivitas, menstabilkan, bahkan meningkatkan ketahanan pangan. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi waktu tanam padi dengan hasil yang optimal. Dua tahap analog digunakan untuk memprediksi curah hujan harian untuk satu musim tanam. Analog tahap pertama untuk memprediksi curah hujan harian untuk 120 hari. Tahap kedua mencari satu analog terbaik prediksi sekuens curah hujan 120 hari. Basis data hasil tanaman padi periode 1982-2009 dengan interval harian dibangun menggunakan model simulasi tanaman. Rekomendasi waktu tanam ditentukan berdasarkan perubahan hasil dibandingkan dengan waktu tanam awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi curah hujan musim dengan lead time 6-9 bulan menggunakan metode downscaling dengan dua tahap analog dapat memperpanjang lag prediksi 2 bulan sebelum tanam sehingga dapat digunakan untuk peringatan dini. Integrasi prediksi curah hujan musim dengan model simulasi tanaman dapat memberikan informasi selang waktu tanam yang berpotensi untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Prediksi waktu tanam dalam bentuk selang waktu diperlukan petani , karena berbagai faktor non teknis yang menyebabkan penanaman tidak dapat dilakukan pada rekomendasi waktu tertentu. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pengambil kebijakan dan penyuluh untuk rekomendasi kepada petani tentang waktu tanam dengan hasil padi yang lebih tinggi.Abstract. Adapting planting time is a very cost-efficient way to increase crop productivity and stabilise or even increase food security. Linking seasonal rainfall prediction with crop simulation model is used to evaluate planting date with optimal rice yield. We used a two step analogue method. The first step is to predict 30 daily rainfall analogues for the next 120 days. The second step is to look for best analogue of 120 day rainfall prediction. Daily planting dates were simulated within 1982-2009 using crop simulation model. The second step is to determine the best analoque for the 120 day sequence. Planting time recommendation is adjusted using the difference between the earliest and later planting dates.The result concluded that 6-9 lead time seasonal rainfall prediction using two step analogue could increase lead time 2 months prior to planting time, therefore can be use for early warning. Linking season rainfall prediction with crop simulation model to adjust interval of planting time that provide higher rice yield. Farmers need that interval, due to non-technical factors are caused crop could not planted timely as recommended. In addition, the recommendation of planting time should be used by decision makers and extension workers to recommend appropriate planting time with higher yield to the farmers.