Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Islam dan Demokrasi Usri
AL-MUTSLA Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Al Mutsla Desember 2019
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.676 KB) | DOI: 10.46870/jstain.v1i2.10

Abstract

Demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik dalam penyelenggaraan negara maupun pemerintah. Kekuasaan pemerintahan berada di tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal yakni: pemerintahan dari rakyat, pemerintahan oleh rakyat, dan pemerintan untuk rakyat. Demokrasi dalam perspektif Islam memiliki prinsip antara lain: Prinsip kekuasaan sebagai amanah, prinsip musyawarah, prinsip keadilan, prinsip persamaan, prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, prinsip peradilan bebas, prinsip perdamaian, prinsip kesejahteraan, serta prinsip ketaatan rakyat. Karakteristik pendidikan Islam yang demokratis sangat mejunjung tinggi harkat dan martabat manusia, menempatkan pendidik dan peserta didik sebagai subyek pendidikan yang saling berintegrasi, memiliki komitmen yang tinggi terhadap keilmuan, serta mengedepankan sisi humanisme yang hiarahkan pada mengembangan kepribadian yang Islami.
PEMBAHARUAN SISTEM PEMERINTAHAN PADA DINASTI UMAYYAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERADABAN ISLAM Usri
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 1 (2022): Jurnal Al Mutsla Juni 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i1.265

Abstract

Latar belakang penulisan artikel ini adalah pentingnya memahami dan mengetahui pembaruan sistem pemerintahan Umayyah dan dampaknya terhadap peradaban Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan peradaban Islam eropa. Ekspansi dimulai di wilayah Andalusia dalam misi intelijen yang dipimpin oleh Tariq bin Malik dan tiba dengan pasukan 500 Muslim (400 Invanteri dan 100 kavaleri). Tepatnya, itu adalah bagian selatan Andalusia pada bulan Ramadhan 91 dari kalender Islam (710 M). Setelah menyelesaikan misinya yang luar biasa untuk mempelajari wilayah Andalusia selatan, Thariq bin Malik bersatu kembali untuk dilihatnya.