Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PROSES PENYULUHAN AGAMA HINDU DI SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PROVINSI NTB Sutama, I Wayan
Widya Sandhi Vol 9 No 2 (2018): Nopember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious counseling is a form of unit activities that have strategic value, especially in carrying out of functions of the expedite implementation development in the field of religion. Religious counseling of Hinduism is in fact a process of education that aims to enhance the awareness and behavior (knowledge, attitude and skill) communities into a better direction. Descriptive research method is used in this research. Theoretical basic are SMCRE theory, the theory of innovation and the theory of rasa. The technique of data collection in this research is survey method, observation, in-depth interviews and documentation. The results of research discover that process counseling of Hinduism is moderator opening the event, introduced the counselor and the message to be conveyed. Than counselor the convey the message of Dharma Wacana method for 15 minutes. Moderator guides the discussion (Dharma Tula) for 40 minutes related to the message presented by give the participants an opportunity to ask or give feedback. Next counselor is given the opportunity to answer or provide clarification on questions and responses of participants
Penjor Sebagai Simbol Pencitraan Diri Umat Hindu di Kota Mataram I Wayan Sutama
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v3i1.422

Abstract

In contemporary development, the penjor is increasingly being used both as a means of religious rituals and as a profane means. This research focuses on 3 questions 1). What is the process of the emergence of penjor in the city of Mataram? 2). What are the types, functions, and meanings of penjor in the city of Mataram? 3). How is penjor a symbol of the self-image of Hindus in the city of Mataram? This study uses a qualitative descriptive approach that emphasizes the interpretation of denotative and connotative meanings by using the theory of symbolic and semiotic interactionism. Data collection techniques by observation, interview, literature study, and documentation. The results of the analysis include: 1) The appearance of penjor in the city of Mataram began with the history of the attack of the Karangasem kingdom to Lombok. The increasingly safe situation of Lombok encourages the transfer of the Karangasem community to Lombok which carries Balinese Hindu traditions, including penjor, 2) Penjor is divided into 2 types namely ceremonial penjor and ornamental penjor. Penjor ceremony is made from bamboo with curved edges, the trunk is decorated with Ambu (young palm leaves) or Busung (young coconut leaves) filled with accessories. Penjor ceremony functioned as a means of religious rituals (god yadnya) and Manusa yadnya. The meaning of penjor symbolizes the mountain and its contents where the gods come from, as a form of expression of gratitude for the gift given by God and the celebration of Galungan. The commodification of penjor in the city of Mataram is still in a standard form but has begun to use a combination of natural and synthetic ingredients. 3) Penjor is a symbol of the self-image of Hindus, showing internal solidarity with other Hindus and externally to present the front stage as a Hindu that refers to the aesthetic and artistic values ​​of religious ritual symbols that contain the values ​​of the Satyam, Siwam, Sundaram.
Implikasi Peraturan Menteri Agama Nomor 56 Tahun 2014 Terhadap Perkembangan Pasraman I Gede Suryawan; I Wayan Sutama
Widya Sandhi Vol 11 No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.205 KB) | DOI: 10.53977/ws.v11i2.190

Abstract

Pasraman merupakan salah satu ujung tombak lembaga pendidikan dan pembelajaran agama Hindu. Terbitnya PMA No. 56 tahun 2014 merupakan respon pemerintah dalam melindungi dan menata kegiatan pasraman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas pengelolaan pasraman non formal sebelum adanya PMA, kendala yang dihadapi dalam mengelola pasraman dan implikasi terbitnya PMA terhadap pasraman non formal di kota Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisis data menggunakan model Miler dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas dan pengelolaan pasraman non formal sebelum penerapan PMA No. 56 tahun 2014 di kota Mataram adalah belum memiliki dasar hukum, Pengelolaan pasraman masih sederhana dan bersifat kekeluargaan, sarana dan prasarana pembelajaran belum memadai, dan belum adanya pembinaan dari lembaga manapun untuk meningkatkan mutu pengelolaan pasraman. Kendala yang dihadapi oleh pasraman non formal adalah: minimnya sosialisasi PMA, sulitnya mendapatkan tanda daftar, minimnya dukungan dana untuk mendukung kegiatan pasraman , dan belum adanya organisasi persatuan sebagai wadah komunikasi pasraman. Implikasi PMA adalah: meningkatnya motivasi mendapatkan tanda daftar sebagai legalitas organisasi, meningkatnya pengelolaan pasraman yang berbasis menejemen, meningkatnya dukungan orang tua siswa terhadap kegiatan pasraman, terbukanya akses rutin dalam pembiayaan, pembinaan, dan pengawasan dari lembaga pendidikan dan keagamaan, hadirnya organisasi persatuan pasraman (Perpasram) kota Mataram sebagai wadah komunikasi pasraman, dan keseragaman materi pembelajaran pasraman yang mengikuti kurikulum pendidikan.
KOMUNIKASI LINGKUNGAN HIDUP DAN PELESTARIAN TANAMAN UPAKARA DI KOTA MATARAM Ni Nyoman Satya Widari; I Wayan Sutama
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/vw.v4i1.1706

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tumbuhan langka yang digunakan dalam pelaksanaan upacara Yadnya umat Hindu di Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melakukan observasi langsung dan wawancara mendalam serta studi dokumen terhadap sarathi banten, tokoh agama dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis tanaman upakara yang sudah masuk dalam kategori langka adalah: tanaman jenis daun sejumlah 10 jenis, tanaman jenis rumput 4 jenis, tanaman jenis bunga 6 jenis, tanaman jenis buah 8 jenis, tanaman jenis kayu-kayuan/batang 4 jenis. Upaya konservasi tanaman langka upacara mendesak dilakukan oleh masyarakat Hindu di Mataram di antaranya dengan melakukan pembibitan dan penanaman kembali yang memanfaatkan areal pekarangan dan pura. Komunikasi yang intensif diperlukan untuk pewarisan pengetahuan tanaman upacara dengan melibatkan komunitas dan tokoh agama dan masyarakat Hindu untuk mendorong konservasi yang berkelanjutan terutama untuk generasi muda yang telah terpapar instanisasi dan pragmatisme dalam beragama.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERMAINAN TRADISIONAL SASAK PERESEAN I Wayan Sutama
Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/widyacarya.v5i1.967

Abstract

Keanekaragaman budaya Nusantara merupakan dasar dari kebudayaan nasional yang mengakar dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Peresean merupakan salah satu permainan tradisional yang merupakan Identitas diri suku Sasak di Lombok yang sarat akan makna berkaitan dengan pendidikan karakter. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendidikan karakter dalam peresean dengan menggunakan pendekatan metode deskriptif kualitatif yang menekankan pada makna, penalaran, menjelaskan situasi tertentu yang berhubungan dengan kejadian kehidupan sehari-hari. Peresean sebagai produk budaya masyarakat suku Sasak dan sebagai sebuah produk kesenian, eksistensinya mampu bertahan di tengah persaingan dengan era modernitas yang menawarkan kecanggihan teknologi. Peresean menjadi salah satu simbol identitas diri suku Sasak yang keberadaannya mengalami pergeseran atau perubahan bentuk dan makna akibat tergerus perubahan jaman. Dalam permainan tradisional peresean terdapat enam nilai pendidikan karakter yang dapat dimaknai dari aktivitas permainan yaitu religius, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, dan demokratis. Nilai karakter tersebut dapat diteladani dan diterapkan dalam berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Genealogical Acculturation of Bali and Sasak Cultures in Lombok Island Susilo Edi Purwanto; I Wayan Sutama
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 20, No 1 (2021)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1570.155 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v20i1.111950

Abstract

Harmonious life relations between Balinese and Sasaknese society in Lombok had been intertwined properly since the era of Karangasem Kingdom. Numerous historical heritages of both ethnics are founded in various places and still exist nowadays. Those ethnics concerned on the effort to build up a great civilization rather than making culture boundaries in the cultural diversity. The qualitative anthropologist approach was used in order to identify the elements of genealogical acculturation of Balinese and Sasaknese in Lombok. The data were reduced step-by-step and analyzed descriptively. The data were collected by employing participative observation technique, deep-structured interview, and documentary files. The results suggest that the genealogical acculturation of Balinese and Sasaknese were found out on the following elements: (1) mutually absorbed language, (2) conversance system by adopting the farming technique mutually, (3) social organization, both adopted patrilineal system, (4) living equipment system and technology, a harmonious and supporting linking between system of living equipment and technology, (5) livelihood system by adopting harmonious irrigation system, (6) religion system, there was an intensive acculturation from those ethnics to bear a new understanding of Sasaknese and some are adopted by Balinese, and (7) arts, the unification of both ethnics emerged novel arts.
Optimalisasi Media Whatsapp Dalam Komunikasi Organisasi Sekaa Truna Truni (STT) Sastra Emas I Wayan Sutama; I Gede Putra
Pasupati Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37428/pasupati.v9i2.326

Abstract

Youth organizations have a position and an important role for the sustainability of social life of people's culture.The current media development of communication is a good opportunity at improving youth productivity and creativity within the organization. This writing aims to describe how media optimization of whatapp groups in improving sradha bhakti members of the organization. By using a qualitative descriptive approach, Data gathering is done with observation, An interview, and documentation.The research shows communication of the organization truna-truni (STT) gold literature in increasing sradha and bhakti through five stages: research, planning, execution, evaluation, and reporting. Communication using media organization whatapps group to develop effective communication among members and member of the organization in running of a wheel. That has not communication were caused by several obstacles which includes technical obstacles, the semantic relation, human and obstacles. Necessary engineering communication that the dynamic can move, sustainable, and moving according to prinsip-prinsip organization.Engineering communication covering 1. interaction and personal communications among members of intensive and solid, 2. establishes the identity of the organization and common aims in the structure, 3. minimize potential difference or disagreement, 4. visionary leadership, 5. developed a style of personal relationships among members effectively, and 6. run principle leadership the relevant organisations, openness, honesty, accountability, and cooperation.