Agung Adi
Institut Agama hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ETIKA LINGKUNGAN DALAM GAGURITAN KABRESIHAN Agung Adi
Dharma Duta Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Dharma Duta
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v17i2.349

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap etika lingkungan dalam teks gaguritan kabresihan karya I Gusti Made Sutjaja berjudul Satua Bali (Tales From Bali). Sebagai karya sastra, gaguritan kabresihan memiliki struktur. Struktur yang salah satunya adalah padalingsa bertujuan untuk menyajikan ide agar lebih indah, mudah dipahami dan tepat peruntukannya sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain struktur, gaguritan kabresihan memuat tema etika lingkungan yang mengedepankan pola hubungan harmonis manusia dan lingkungannya atau dalam terminologi Hindu di terjemahkan dengan istilah palemahan. Gaguritan kabresihan mengamanatkan wilayah palemahan terutama unsur tanah harus di jaga kebersihan sekaligus kesuciannya, sebab dari tanahlah manusia menggantungkan masa depannya. Artinya tanah harus dipelihara dan dimanfaatkan berdasarkan norma-norma yang berlaku, setidaknya dengan tidak mencemarinya dengan sampah-sampah anorganik. Kegunaan kajian ini adalah untuk melakukan penyebaran informasi tentang pentingnya etika lingkungan dan penanaman konsep-konsep ramah lingkunagn kepada anak-anak sejak dini. Metode yang dipergunakan adalah analisis pustaka dengan pendekatan hermeunitika. Sedangkan simpulan yang diperoleh dari analisis tersebut sebagai manusia patut memandang semua makhluk hidup dialam semesta sebagi ciptaan Tuhan. Konsekuensinya kemudian manusia patut menjaga keberlangsungan ciptaan Tuhan, dengan melaksanakan pemanfaatan tumbuh-tumbuhan secara bijaksana. Tuturan ini secara langsung mengedepankan prinsip-prinsip etika yang harus dijalankan dalam memelihara hubungan itu. Pola etika ini secara realitas bersumber dari moralitas Hindu sebagai agama yang dekat dan ramah dengan lingkungan alam.
Eksistensi Paguyuban Hindu Jawi di Kota Palangka Raya Agung Adi
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 1 No 1 (2018): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v1i1.39

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan komunitas Hindu Jawa di Kota Palangka Raya-Kalimantan Tengah. Komunitas Hindu Jawa di Kota Palangka Raya tergabung dalam sebuah kelompok paguyuban dengan nama Paguyuban Hindu Jawi (Pandu Jawi). Aspek yang dikaji terfokus pada eksistensi Paguyugan. Jenis penelitian adalah kualitatif karena data yang dibutuhkan lebih bersifat data deskriptif berupa kata-kata tertulis, lisan dan perilaku orang-orang yang dapat diamati. Bentuknya adalah studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu; observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Penentuan informan dilakukan dengan purposive sampling. Hasil penelitian menyimpulkan eksistensi Paguyuban Hindu Jawi di Kota Palangka Raya ditopang oleh berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan, baik secara eksternal dan internal. Kegiatan eksternal seperti; pelatihan fermentasi makanan ternak; gotong royong; memberikan pandehen dalam persembahyangan basarah. Sedangkan secara internal, kegiatan paguyuban diarahkan pada kegiatan arisan dan berbagai ritus slametan termasuk menyelenggarakan basarah. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh Paguyuban Hindu Jawi memiliki fungsi-fungsi tertentu yaitu sebagai penyangga sosial-budaya dan pemberdayaan ekonomi umat Hindu di Kota Palangka Raya.
PERKAWINAN SALA HURUI PADA MASYARAKAT SUKU DAYAK DI KABUPATEN KATINGAN Agung Adi
Belom Bahadat Vol 10 No 01 (2020): Jurnal Belom Bahadat Hukum Agama Hindu
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/bb.v10i02.449

Abstract

Sala hurui marriage is one type of marriage which in principle is strictly prohibited by the Dayak tribe community. But empirically, even though it was banned, this incident still happened as in the research conducted in several villages in Katingan District. Even this prohibition is written down in the form of adat rules or adat law. When this happens it is called manantarang hadat. This research focuses on problems related to the form of sanctions and goals that are accepted for people who to do sala hurui marriage. Theories used to help uncover the problem are the theory of relative criminal and the theory of legal reception. While the data collection method is by interview and document study. While analyzing the data by grouping the data and then doing verification to the conclusion stage. The results of the analysis conducted there are two forms of sanctions in sala hurui marriages namely moral sanctions and traditional rituals sanctions. While the purpose of sanctions is to clean the perpetrators of animalistic qualities and purify again in order to obtain the descent that is expected. In addition, the purpose of other sanctions is to restore the balance of the cosmos.