Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ritual Toto Dalo Pada Umat Hindu Kaharingan di Kabupaten Murung Raya (Kontek Sosial) Wayan Gepu
Dharma Duta Vol 18 No 2 (2020): Dharma Duta : Jurnal Penerangan Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v18i2.461

Abstract

Kehidupan beragama pada penganutnya, adalah bagaimana mereka menjalankan dan melaksanakan apa yang telah telah tertuang dalam kitab suci yang diwahyukan oleh Tuhan. Menjalankan ajaran agama merupakan pengejawantahan dari ajaran yadnya, yaitu korban suci berdasarkan hati yang tulus iklhas bagi pelakunya. Ritual agama sebagai salah satu kewajiban, bagi umat yang meyakini, akan menjalankannya penuh dengan suka cita. Sehingga ritual yang dilaksanakan menjadi ritual yang sadwika. Yadnya sebagai salah satu bentuk keyakinan dalam ajaran agama Hindu, dikenal dengan panca yadnya, yaitu Dewa yadnya, Manusa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya dan Bhuta yadnya. Terkait dengan perihal tersebut di atas, ritual Toto Dalo yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di desa Tohojun Onto Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, tergolong dalam Pitra yadnya. Ritual Toto Dalo merupakan mengantar roh orang yang meninggal dunia menuju alam kebahagiaan, alam kebebasan di mana umat Hindu Kaharingan di desa Tohojun Onto Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya dikenal dengan Danum Tato. Dalam pelaksanaannya ritual Toto Dalo, terkandung nilai-nilai social di dalamnya, diantaranya adalah nilai gotong royong sosial ekonomi, dan sosial budaya. Pelaksanaan ritual Toto Dalo dalam pelaksanaannya terdapat pelestarian social budaya, sehingga kelestaarian social dan budaya tetap terjaga dengan baik.
Perilaku Sosial Kehidupan Umat Hindu di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Wayan Gepu
Tampung Penyang Vol 19 No 1 (2021): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/tampung-penyang.v19i01.624

Abstract

Manusia sebagai makhluk reigius,di dalam menjalankan kehidupannya memerlukan satu tutntunan yang dijadikan sebagai pijakan, aturan, bimbingan dalam melakukan berbagai aktivitas, baik sosial individu maupun sosial masyarakat. Sehingga ada sebuah tuntunan yang dijadikan sebagai suluh penerang, dengan harapan tidak menyimpang dari norma-norma kepatutan yang tertuang dalam ajaran agama diyakininya. Mengapa demikian karena di dalam ajaran agama terdapat banyak wejangan-wejangan yang beegitu bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam menjalankan dan beraktivitas sehari-hari.Terkait dengan perihal tersebut, Bergerson dalam Agus (2005:3) bahwa bergama sebagai gejala universal manusia, artinya banyak dijumpai manusia tanpa sains, seni, dan filsafat, tetapi tidak ada masyarakat tanpa agama. Namun ungkapan itu menekankan universal fenomena beragama dalam kehidupan manusia. Di mana kehidupan keagamaan yang dijalankan, terepleksi dengan lingkungan sosial, yang memerlukan adaptasi dengan lingkungan sosial dalam masyarakat.Perilaku kehidupan sosial beragama umat Hindu di desa Batunindan diantaranya adalah Menyame braye, merupakan tradisi yang menjdai spirit dalam membangun tali persaudaraan. Sangkep (musyawarah mupakat), membangun spirit saling menghargai keputusan berdasarkan suara terbanyak. Metulungan, saling membantu tanpa melihat golongan, status sosial siapa orang yang membutuhkan bantuan. Medelokan (mengunjungi) saling memberikan support, semangat bagi umat/masyaarakat Hindu yang dalam kesusuhan. Implikasi perilaku sosial kehidupan keagamaan umat Hindu di Kabupaten Kapuas; Menguatnya tali persuadaraan, perilaku sosial kehidupan keagamaan yang berjalan dengan baik menjadikan rasa toleransi semakin kuat. Meningkatnya Keamanan, saling menghargai, membantu, menolong akan meningkatkan rasa aman bagi masyarakat. Mengningkatnya kerja sama, kebersamaan akan terbangundan terjaga dengan baik menjadi kebersamaan semakin baik.