Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN PENSTABIL CMC DAN GUM ARAB TERHADAP KARAKTERISTIK COOKIES FUNGSIONAL DARI PATI GARUT TERMODIFIKASI Tias Dwi Hartatik; Damat Damat
AGRITROP Vol 15, No 1 (2017): Agritrop : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/agr.v15i1.790

Abstract

Penelitian ini ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan stabilizer CMC dan Gum Arab terhadap cookies fungsional dari pati garut termodifikasi yang diperkaya tepung wortel. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari dua faktor, yaitu faktor I perbandingan antara pati garut termodifikasi dan tepung terigu: (20%:80%), (40%:60%), (60%:40%), (80%:20%), (100%:0%) dan factor II jenis penstabil: tanpa penstabil, CMC dan Gum Arab.  Parameter analisis meliputi analisis proksimat, analisis total karoten, tekstur, ras, kenampakan dan kerenyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik diperoleh pada cookies dari proporsi pati garut termodifikasi100% dengan tepung terigu 0% dengan penstabil CMC dengan kadar air 1,34%, kadar abu 1,54%, kadar lemak 7,82%, kadar protein 7,52%, kadar karbohidrat 77,53%, total karoten 217,96 μg/g, tekstur 19,80N, rasa 3,40, kenampakan 3,10 dan kerenyahan 3,65. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa cookies dari 100 pati garut termoodifikasi dan dengan penstabilCMS dapat menghasilkan cookies yang terbaik dan memenuhi standar mutu SNI 2973-2011. Kata kunci: cookies, pati garut termodifikasi, penstabil.
The The Effects of Additioning Purple Sweet Potato Flour (Ipomoea batatas L.) on The Characteristics of White Dragon Fruit Pudding (Selenicereus undatus) Mujianto, Mujianto; Lili Zalizar; Damat Damat; Rahayu Relawati; Muhammad Dusturuddin Robbany; Nico Syahputra Sebayang; Effendi Andoko
Demeter: Journal of Farming and Agriculture Vol. 2 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : CV. Media Digital Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58905/demeter.v2i1.227

Abstract

Pudding is one of the processed foods made by mixing agar powder into water, milk, fruit pulp, to vegetable pulp which can produce a gel and has a soft texture. White dragon fruit is a type of fruit that is rarely used as pudding, because it has a less attractive color after being processed. In  this research, white dragon fruit pudding by adding purple sweet potato flour to increase the attractiveness of color, enrich the antioxidant activity, and increase the fiber content contained in the pudding to obtain a pudding of functional value. This study used a simple randomized design group (RAK), with a focus factor concentration of purple sweet potato flour consisting of 6 levels, including P0 (0% purple sweet potato flour), P1 (5% purple sweet potato flour), P2 (10% purple sweet potato flour), P3 (15% purple sweet potato flour), P4 (20% purple sweet potato flour), and P5 (25% purple sweet potato flour) with  4 times repetitions. The raw material analysis of purple sweet potato flour includes water content, ash content, fat content, fiber content, and antioxidant activity. Analysis of white dragon fruit pudding products includes analysis of water content, ash content, fat content, fiber content, antioxidant activity, color intensity, texture, and organoleptic test (texture, taste, aroma, color, and preference). The addition of purple sweet potato flour significantly affected the water content, ash content, antioxidant activity, color intensity, texture, and organoleptic test of white dragon fruit pudding. P1 formulation (5% purple sweet potato flour) was the best formulation with the water content of 76.41%, ash content of 0.28%, fat content of 3.56%, fiber content of 0.89%, antioxidant activity of 14.33%, brightness level of 39.35, redness level of 8.02, yellowish level of 3.92, and texture of 0.34 N. Organoleptic test results texture 5 (somewhat chewy), taste 3 (somewhat tasteless purple yam), aroma 2 (not scented purple yam), color 6 (attractive), and preference 6 (like).
Penetapan Kadar Aflatoksin B1, B2, G1, dan G2 pada Olahan Kacang Tanah dengan Metode HPLC Andalusia Trisna Salsabila; Rike Maya Wardhani; Ary Chodijayanti; Puryani puryani; Damat damat; Rista Anggriani
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 16 No. 2 (2021): September
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v16i2.4544

Abstract

Kacang tanah (Arachis hypogaea  L) memiliki banyak manfaat seperti mencegah peningkatan kadar kolesterol, pencegahan keriput, kandungan serat tinggi, sumber energi dan pencegahan kanker. Akan tetapi jika dalam proses pemanenan, penyimpanan serta pengolahannya yang tidak sesuai, maka kacang tanah terkontaminasi aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan. Batas kadar cemaran aflatoksin pada kacang tanah dan hasil olahannya diatur dalam Peraturan Badan POM Nomor 18 Tahun 2018. Penelitian ini bertujuan menetapkan kadar kontaminasi aflatoksin B1, B2, G1 dan G2 pada olahan kacang tanah dengan prinsip ekstraksi menggunakan immunoaffinity column dengan instrumen High Performance Liquid Cromatogram (HPLC) detektor fluoresen. Hasil menunjukkan bahwa kromatogram baku kerja Aflatoksin G1, G2, B1, dan B2 berturut-turut menunjukkan respon terbentuknya peak pada waktu retensi 6,966 menit, 8,395 menit, 12,806 menit dan 10,395 menit. Hasil kromatogram sampel yang diuji tersebut memberikan respon terbentuknya peak pada waktu retensi yang berbeda dengan baku aflatoksin. Sehingga kedua sampel tersebut dapat disimpulkan tidak terdeteksi mengandung aflatoksin B1, B2, G1 dan G2 dengan nilai LOD aflatoksin G1 sebesar 0,8311 ng/mL, aflatoksin G2 sebesar 0,0941 ng/mL, aflatoksin B1 sebesar 0,3046 ng/mL dan aflatoksin B2 sebesar 0,3143 ng/mL.
Efektivitas Zerumbone Lempuyang Wangi (Zingiber Aromaticum Val.) Dengan Xylitol Ampas Tebu Dalam Pembuatan Permen Antihiperglikemik Herlina Diah Ayu Rosita; Rina Ayu Wilasari; Agnes Vivi Novembrianti; Rizki Tri Muhaimin; Muhammad Khoirul Fatikhin; Rista Anggriani; Damat Damat
Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Vol. 19 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jtphp.v19i1.8836

Abstract

Menurut pernyataan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Januari 2023, kasus diabetes pada anak meningkat 70 kali lipat dibandingkan dengan Tahun 2010. Salah satu penyebabnya adalah pola konsumsi permen. Senyawa zerumbon yang ada pada lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) diketahui dapat menurunkan gula darah yang akan dipadukan dengan xylitol dari ampas tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas lempuyang wangi untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes. Proses pembuatan ekstrak zerumbon menggunakan metode destilasi pada suhu 90°C dengan pelarut aquades. Pembuatan xylitol diawali dengan pengeringan dan penghalusan ampas tebu selanjutnya dihidrolisi dengan larutan buffer phosphate pH 6,00 dan buffer asetat pH 3 dan ditambahakan enzim xylanase Hidrolisat dari fermentasi enzim di sentrifugasi Pembuatan permen dengan perbandingan F1= 14%:21%, F2= 21%;20%, F3=28%;18% dan F4=35%:17% dan mencampur semua bahan yaitu corn syrup, gelatin, dan sedikit perasan lemon. Hasil permen dilanjutkan dengan uji karakteristik fisik seperti intenitas warna, teksture dilanjutkan uji organoleptic dengan metode hedonic dan dilanjutkan uji keefektivan dalam penurunan gula darah pada mencit Hasil pengujian KLT mendapatkan nilai Rf 0,57. pada hasil tekstur hardness dan gummines menghasilkan nilai tertinggi ada pada f1 dengan hardness dengan angka 3,23 dan gummines 1,11. Pada hasil intensitas warna tidak memberikan pengaruh yang nyata namun f1 memberikan hasil warna yang diinginkan L* 42, a*2 dan b*17. Dari hail uji gula darah pada mencit yang telah di beri perlakuan selama 7 hari hasil penurunan terbaik ada pada F3 sebear 128mg/dl. Untuk hasil uji organoleptic dilakukan pada 60 anak berusia 8-12 thn permen dengan perlakuan F1 paling banyak digemari oleh anak-anak.