Hilmiati Hilmiati
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pembinaan Pengelolaan Lembaga Pendidikan Keagamaan Di Desa Sembalun Bumbung Hilmiati Hilmiati
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2022): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v7i2.715

Abstract

Kurang pemhaman menegemen pengelolaan lembaga pendidikan keagaaman seperti Taman pendidikan Alquran (TPQ) dan Pondok pesantren menjadi masalah utama lembaga pendidikan keagaaman di desa Sembalun Bumbung kurang maju. Adanya kondisi ini perlu ada pembinaan dan pendampingan sehingga Lembaga pendidikan keagamaan dapat maju dan berkembang. Adapun mitra dalam kegitan ini adalah Lembaga keagamaan yang ada di desa Sembalun Bumbung. Tujuan pengabdian pada masyarakat ini adalah pembinaan kepala lembaga pendidikan ke agamaan di desa sembalun Bumbung. Mitra dalam kegitan ini adalah Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang ada diwilayah sembalun bumbung. Metode pelaksanaan dari kegitan ini adalah penyuluhan dan pelatihan dengan langkah-langkah kegatan; 1) Persiapan, 2) Pelaksanan, dan 3) Evaluasi. Hasil dari kegiatan pembinaan ini terjadi pengembangan lembaga secara signifikan sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditargetkan. Kegitan-kegitan pembinaan masih perlu dilakukan secara berkelanjutan agar lembaga pendidikan ke agaman seperti TPQ makin maju dan berkembang. Guidance on the Management of Religious Education Institutions in Sembalun Bumbung Village Lack of understanding of the management of religious education institutions such as the Qur'an education park (TPQ) and Islamic boarding schools is the main problem for religious education institutions in the less developed village of Sembalun Bumbung. With this condition, there needs to be guidance and assistance so that religious education institution can progress and develop. The partners in this activity are religious institutions in Sembalun Bumbung village. The purpose of this community service is to foster the head of a religious education institution in the village of Sembalun Bumbung. The partner in this activity is the Qur'an Education Park (TPQ) in the Sembalun Bumbung area. The implementation method of this activity is counseling and training with activity steps; 1) Preparation, 2) Implementation, and 3) Evaluation. The results of this coaching activity resulted in significant institutional development in accordance with the expectations and goals that have been targeted. Development activities still need to be carried out on an ongoing basis so that religious education institutions such as TPQ are more advanced and developed.
Penguatan Nilai Karakter Melalui Pembelajaran Akidah Akhlak Di Madrasah Syarifah Aulia Rabbani; Abdul Quddus; Hilmiati; Yudhi Setiawan
Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/cetta.v6i2.2251

Abstract

One of the most effective means for reinforcing and developing noble character in students whose role is to guide students in understanding and practicing Islamic teachings is through religious education. This study aims to determine the reinforcement strategy of character values ​​in learning aqidah morals at MIN 1 Mataram. This type of research uses descriptive qualitative research. Research data obtained through observation, interviews, and documentation techniques. The data analysis technique uses data reduction, data display and conclusion drawing, while the data validation technique used is increasing persistence and triangulation. The results of this study state that the internalizing character values ​​in teaching aqeedah morals at MIN 1 Mataram is carried out by preparing lesson plans and internalizing character values ​​into the material.
PENANAMAN NILAI-NILAI RELIGIUS MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DUHA DAN SHALAT DHUHUR BERJAMAAH DI MI RAUDLATUSSHIBYAN NW BELENCONG Hilmiati Hilmiati; Febria Saputra
El Midad Vol. 12 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elmidad.v12i1.2506

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) bentuk penanaman nilai-nilai relegius melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, 2) strategi dalam menamkan nilai-nilai relegius melalui pembiasaan sholat dhuha dan sholat dhuhr berjamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang yaitu dalm mengambarkan atau menafsirkan keadaan mengenai masalah yang akan diteliti menggunakan kata-kata bukan angka. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengamati proses penanaman nilai relegiusitas pada siswa, wawancara untuk mendapatkan data berupa bentuk kegiatan keagamaan dan strategi yang digunakan dalam menanamkan nilai relegiusitas pada siswa, dan dokumentasi untuk memperoleh data berupa visi&misi, infrastruktur, sumberdaya manusia, dan sejarah berdirinya MI Raudlatusshibyan NW Belencong. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini melalui reduksi data, model data, dan penarikan kesimpulan/verifikas data. Sumber data diperoleh dari kepala sekolah, siswa, para guru, dan guru PAI di MI Raudllatusshibyan NW Belencong. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Nilai relgius yang ditanamkan melaluipembiasaan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong adalah nilai ibadah, nilai ruhul jihad, nilai akhlak, nilai keteladanan. 2) Strategi dalam menanamkan nilai-nilai relgiusitas melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhr berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong adalah reward and Punishment, keteladanan, pembiasaan, ajakan (persuasive), aturan atau norma-norma, dan penciptaan suasana relegius disekolah. Simpulan dari penelitian ini adalah karakter relgiusitas melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhr berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong dengan menggunakan berbagai macam strategi dalam menanamkannya sangat jelas dipaparkan dan sudah sesuai untuk meningkatkan karakter relegiusitas pada siswa.
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI TEKS ANEKDOT RESPONSIF NILAI BUDAYA SASAK Hilmiati; Hery Rahmat
El Midad Vol. 14 No. 1: Juni 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elmidad.v14i1.5268

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengembangkan bahan ajar teks anekdot responsif nilai Budaya Sasak. Model penelitian pengembangan ini menggunakan model R&D Analysis-Design-Development-Implementation-Evaluation (ADDIE) yang diadaptasi dari Branch. Prosedur pengembangan meliputi menganalisis, mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi produk pembelajaran berupa bahan ajar teks anekdot responsif nilai budaya Sasak untuk siswa kelas X SMA/MA. Instrumen penelitian yang digunakan berupa (1) angket uji validasi desain; (2) angket uji validasi produk; dan (3) angket uji pemakaian produk. Analisis data dalam penelitian dan pengembangan ini dilakukan dengan (1) mengidentifkasi data, (2) mengklasifikasi data, (3) mengolah data, (4) menginterpretasi data, dan (5) mendeskripsikan data. Hasil uji lapangan yang dilakukan di MA NW Nurulharamain Narmada menunjukkan respon yang mengandung nilai-nilai budaya Sasak seperti nilai kepatuhan, nilai keberanian, nilai ketangkasan, nilai kasih sayang, nilai keterampilan, nilai kelincahan, nilai tanggung jawab, nilai kebersamaan. Secara keseluruhan nilai-nilai tersebut relevan dengan nilai-nilai dalam budaya Sasak yaitu patut (benar), patuh (taat), pacu (rajin), geger (semangat), genem (ramah), gerasaq (ramah), tatas (cakap), tuhu (sungguh-sungguh), trasna (kasih sayang), titi (teliti), teteh (partisipatif), dan tatas (pintar). Secara keseluruhan, bahan ajar layak untuk diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Dilihat dari kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, bahan ajar yang dikembangkan bermanfaat untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran sastra yang selama ini berorientasi pada teori. Dengan bahan ajar ini pembelajaran menjadi aktif, inovatif, dan menyenangkan, karena siswa terlibat secara langsung pada setiap kegiatan pembelajaran. Pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena teks anekdot sesuai dengan latar belakang budaya siswa dan menghasilkan teks anekdot yang mengandung nilai-nilai budaya Sasak.
THE ROLE OF SELF-EFFICACY IN STUDENTS' POETRY WRITING ABILITIES IN ELEMENTARY SCHOOL Hilmiati; Fitri Hidayanti; Nurshahira Ibrahim
El Midad Vol. 16 No. 1 (2024): Volume 16 Nomor 1 Juni Tahun 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elmidad.v16i1.9901

Abstract

This research aims to describe [1] the role of self-efficacy in students' ability to write poetry, (2) the difficulties students face in applying self-efficacy in their ability to write poetry, and (3) solutions to overcome students' difficulties in applying self-efficacy in their ability to write poetry in class IV MIN 1 Kota Mataram. This research method uses a qualitative approach with descriptive type and data collection techniques using observation, interviews, and documentation. The results show that the role of self-efficacy in class IV MIN 1 Kota Mataram is as follows: 1) a benchmark for students' activity choices, 2) achieving students' goals, as a driving force in solving problems for students, and 3) as a determinant of students' learning success. The difficulties students face in applying self-efficacy in their ability to write poetry are caused by 1) students' difficulty in determining themes and initial vocabulary to start writing, 2) not understanding the structure of good poetry writing, 3) difficulty in concentrating when doing assigned tasks. The fourth-grade teacher as the class mentor has provided fairly good solutions to overcome students' difficulties in applying self-efficacy in their ability to write poetry, including 1) providing motivation for students to read more diligently by giving specific times for students to read freely, 2) provides examples of existing poetry, and students are required to be more active in the learning process, 3) provides creative teaching methods both in terms of media or when teaching so that students have the initiative from themselves in writing poetry.
PENDIDIKAN AKHLAK MUHAMMAD SYAKIR: KONSEP DAN IMPLEMENTASI KARAKTER DI PONPES MBS SELONG Muhammad Arhandika Rahman; M. Sobri; Hilmiati Hilmiati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11063

Abstract

ABSTRACT Moral education has become increasingly urgent amid the development of digital technology, social changes, and the growing demand for character strengthening in Islamic educational institutions. This study aims to analyze the concept of moral education proposed by Muhammad Syakir in Waṣāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’ and to examine its implementation in character building at Muhammadiyah Boarding School (MBS) Selong. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and then analyzed descriptively and analytically through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the moral values contained in the book, such as piety, respect for teachers, birrul walidain (devotion to parents), Islamic brotherhood, honesty, trustworthiness, sincerity, and self-reflection, have been internalized in students’ daily lives through the integration of the formal curriculum, dormitory habituation, and educators’ role modeling. This study confirms that classical Islamic texts remain relevant as theoretical and practical foundations for character education in modern Islamic boarding schools and contribute significantly to the development of Islamic moral education studies in the contemporary era. ABSTRAK Pendidikan akhlak menjadi kebutuhan mendesak di tengah perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, dan tuntutan penguatan karakter dalam lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan akhlak menurut Muhammad Syakir dalam kitab Waṣāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’ serta mengkaji implementasinya dalam pembentukan karakter santri di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Selong. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlak dalam kitab tersebut, seperti takwa, hormat kepada guru, birrul walidain, ukhuwah Islamiyah, kejujuran, amanah, ikhlas, dan muhasabah, telah diinternalisasikan dalam kehidupan santri melalui integrasi kurikulum formal, pembiasaan di asrama, serta keteladanan para pendidik. Penelitian ini menegaskan bahwa kitab klasik tetap relevan sebagai landasan teoritis dan praktis dalam pendidikan karakter di pesantren modern serta berkontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan akhlak Islam di era kontemporer.
DIALEKTIKA NILAI PENDIDIKAN ISLAM DAN MODERNITAS DALAM KONSTRUKSI GENDER PADA ORGANISASI MAHASISWA ISLAM Bq Ditia Widari; Ahmad Sulhan; Mira Mareta; Maimun Maimun; M. Sobry; Hilmiati Hilmiati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11116

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by the paradox between the normative commitment of Islamic student organizations to gender equality and organizational social practices that still demonstrate gender bias tendencies. The study aims to analyze the dialectic between Islamic educational values and modernity in shaping gender construction within the Indonesian Islamic Student Movement (PMII) at UIN Mataram. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies involving PMII administrators and members. Data analysis used the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana through data condensation, data display, conclusion drawing, and verification. The findings reveal that PMII serves as a dialectical space that integrates Islamic educational values and modernity within its cadre system, organizational culture, and leadership practices. Aswaja values such as tawazun, tasamuh, ta’adul, and i’tidal form the basis for developing a contextual and moderate understanding of gender. Modernity is reflected through critical culture, gender education, meritocracy, and the strengthening of women’s intellectual capacities. However, patriarchal culture still influences organizational social practices, particularly in stereotypes toward women’s leadership, gender-biased division of labor, and the low participation of women in strategic organizational spaces. The study concludes that gender construction in PMII is formed through a dynamic negotiation process between Islamic educational values and modernity, resulting in a dialogical, moderate, and evolving understanding of gender. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya paradoks antara komitmen normatif organisasi mahasiswa Islam terhadap kesetaraan gender dengan praktik sosial organisasi yang masih menunjukkan kecenderungan bias gender. Penelitian ini bertujuan menganalisis dialektika nilai pendidikan Islam dan modernitas dalam membentuk konstruksi gender pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di UIN Mataram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap pengurus serta kader PMII. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMII menjadi ruang dialektik yang mempertemukan nilai pendidikan Islam dan modernitas dalam sistem kaderisasi, budaya organisasi, dan praktik kepemimpinan kader. Nilai-nilai Aswaja seperti tawazun, tasamuh, ta’adul, dan i’tidal menjadi landasan dalam membangun pemahaman gender yang moderat dan kontekstual. Modernitas tercermin melalui budaya kritis, pendidikan gender, meritokrasi, dan penguatan kapasitas intelektual perempuan. Namun, budaya patriarki masih memengaruhi praktik sosial organisasi, terutama dalam stereotip kepemimpinan perempuan, pembagian kerja berbasis gender, dan rendahnya partisipasi perempuan dalam ruang strategis organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi gender di PMII terbentuk melalui proses negosiasi dinamis antara nilai pendidikan Islam dan modernitas sehingga menghasilkan pemahaman gender yang dialogis, moderat, dan terus berkembang.
INTERNALISASI NILAI AKHLAKUL KARIMAH DALAM MEMBENTUK ETIKA SISWA Ahmat Rifa’i; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry; Maimun Maimun; Mira Mareta
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11123

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the importance of developing students’ ethics through the internalization of akhlakul karimah values in the school environment. The study aimed to analyze the process of internalizing akhlakul karimah values in shaping students’ ethics at SMPN 4 Janapria. This research employed a qualitative approach with a case study design. The research subjects consisted of Islamic Education teachers, students, and school authorities selected through purposive sampling techniques. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using interactive analysis techniques involving data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the internalization of akhlakul karimah values was carried out through three stages, namely value transformation, value transaction, and transinternalization. The process was implemented through Islamic Religious Education learning, teacher role modeling, habituation, school culture, and religious activities such as congregational prayers, short religious lectures (kultum), Qur’an recitation, and the 5S program (smile, greeting, salutation, politeness, and courtesy). In addition, the concepts of sam’ and fu’ad from the perspective of Islamic psychology indicate that value internalization not only affects cognitive aspects but also students’ spiritual and psychological dimensions. Therefore, the internalization of akhlakul karimah values plays an important role in shaping students’ ethics through the integration of learning, school culture, and continuous religious habituation. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan etika siswa melalui internalisasi nilai akhlakul karimah di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai akhlakul karimah dalam membentuk etika siswa di SMPN 4 Janapria. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas guru Pendidikan Agama Islam, siswa, dan pihak sekolah yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai akhlakul karimah dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi. Proses tersebut dilaksanakan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam, keteladanan guru, pembiasaan, budaya sekolah, serta kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, kultum, membaca Al-Qur’an, dan program 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun). Selain itu, konsep sam’ dan fu’ad dalam perspektif psikologi Islam menunjukkan bahwa internalisasi nilai tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga aspek spiritual dan psikologis peserta didik. Dengan demikian, internalisasi nilai akhlakul karimah berperan penting dalam membentuk etika siswa melalui integrasi pembelajaran, budaya sekolah, dan pembiasaan religius secara berkelanjutan.
KETELADANAN ORANG TUA DALAM INTERAKSI LINTAS AGAMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TINGKAH LAKU ANAK PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Shaumy Imani Istiqomah; Mira Mareta; Maimun Maimun; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11153

Abstract

  ABSTRACT This study was motivated by the importance of parental role modeling in shaping children’s tolerant behavior within a pluralistic society. The study aimed to analyze parents’ exemplary attitudes in interfaith interactions and their implications for children’s behavior from the perspective of Islamic education. This research employed a descriptive qualitative approach with a field research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving Muslim families living alongside non-Muslim communities. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that parents’ exemplary behavior in building harmonious relationships with non-Muslims had a positive influence on children’s behavioral development. Children tended to demonstrate tolerant attitudes, politeness, respect for differences, and the ability to establish positive social relationships within their environment. In the perspective of Islamic education, these behaviors are aligned with the values of tasamuh, ukhuwah insaniyah, and hablum minannas, which emphasize the importance of noble character in social life. In addition, the study found that children who were consistently exposed to positive interfaith interactions within the family environment developed stronger social adaptability and greater openness toward diversity. The findings also indicate that family-based character education through parental role modeling can serve as an effective strategy for fostering social harmony and strengthening inclusive attitudes among children in multicultural communities. This study confirms that parental role modeling serves as an effective medium of social education in shaping children’s tolerant behavior in a pluralistic society. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk perilaku toleran anak di tengah masyarakat plural. Penelitian bertujuan menganalisis keteladanan orang tua dalam interaksi lintas agama serta implikasinya terhadap tingkah laku anak dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap keluarga Muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat non-Muslim. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan orang tua dalam membangun hubungan harmonis dengan non-Muslim memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan perilaku anak. Anak cenderung menunjukkan sikap toleran, santun, menghargai perbedaan, serta mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan lingkungan sekitar. Dalam perspektif pendidikan Islam, perilaku tersebut sejalan dengan nilai tasamuh, ukhuwah insaniyah, dan hablum minannas yang menekankan pentingnya akhlakul karimah dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, pembiasaan interaksi sosial yang harmonis dalam keluarga turut memperkuat kemampuan anak dalam beradaptasi dengan keberagaman sosial di lingkungannya. Proses keteladanan yang dilakukan secara konsisten juga membentuk kesadaran anak untuk menjunjung sikap saling menghormati dan hidup damai di tengah perbedaan keyakinan. Penelitian ini menegaskan bahwa keteladanan orang tua menjadi media pendidikan sosial yang efektif dalam membentuk perilaku toleran anak di masyarakat plural.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS DIGITAL DALAM MENINGKATKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI ERA SOCIETY 5.0 Fitriah Fitriah; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11195

Abstract

ABSTRACT The Society 5.0 era demands the integration of digital technology with humanitarian values in various sectors, including Islamic education. This study aims to analyze the implementation of digital-based Islamic Religious Education (PAI) learning and its impact on strengthening students’ religious character. The research employed a descriptive qualitative approach using a literature study method through the collection, analysis, and interpretation of relevant scientific sources. The findings indicate that the integration of digital platforms, interactive media, and internet-based learning resources in PAI learning enhances student engagement, strengthens religious understanding, and supports the internalization of spiritual values through structured digital habituation. In addition to improving learning effectiveness, the use of digital technology also contributes to balancing students’ ritual piety and social piety. However, its implementation still faces challenges such as low digital literacy, limited supervision of digital media use, and the potential for moral degradation in cyberspace. Therefore, strengthening the role of teachers, continuous supervision, and wise use of technology are necessary to ensure that digital-based PAI learning can effectively shape students’ religious character in the Society 5.0 era. ABSTRAK Era Society 5.0 menuntut integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis digital serta dampaknya terhadap penguatan karakter religius siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka melalui pengumpulan, analisis, dan interpretasi berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi platform digital, media interaktif, dan sumber belajar berbasis internet dalam pembelajaran PAI mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat pemahaman keagamaan, serta mendukung internalisasi nilai-nilai spiritual melalui pembiasaan digital yang terarah. Selain meningkatkan efektivitas pembelajaran, penggunaan teknologi digital juga berperan dalam membentuk keseimbangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial siswa. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi digital, keterbatasan pengawasan penggunaan media digital, dan potensi dekadensi moral di ruang siber. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran guru, pengawasan yang berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi secara bijak agar pembelajaran PAI berbasis digital dapat berjalan efektif dalam membentuk karakter religius siswa di era Society 5.0.