Hilmiati Hilmiati
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pembinaan Pengelolaan Lembaga Pendidikan Keagamaan Di Desa Sembalun Bumbung Hilmiati Hilmiati
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2022): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v7i2.715

Abstract

Kurang pemhaman menegemen pengelolaan lembaga pendidikan keagaaman seperti Taman pendidikan Alquran (TPQ) dan Pondok pesantren menjadi masalah utama lembaga pendidikan keagaaman di desa Sembalun Bumbung kurang maju. Adanya kondisi ini perlu ada pembinaan dan pendampingan sehingga Lembaga pendidikan keagamaan dapat maju dan berkembang. Adapun mitra dalam kegitan ini adalah Lembaga keagamaan yang ada di desa Sembalun Bumbung. Tujuan pengabdian pada masyarakat ini adalah pembinaan kepala lembaga pendidikan ke agamaan di desa sembalun Bumbung. Mitra dalam kegitan ini adalah Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang ada diwilayah sembalun bumbung. Metode pelaksanaan dari kegitan ini adalah penyuluhan dan pelatihan dengan langkah-langkah kegatan; 1) Persiapan, 2) Pelaksanan, dan 3) Evaluasi. Hasil dari kegiatan pembinaan ini terjadi pengembangan lembaga secara signifikan sesuai dengan harapan dan tujuan yang telah ditargetkan. Kegitan-kegitan pembinaan masih perlu dilakukan secara berkelanjutan agar lembaga pendidikan ke agaman seperti TPQ makin maju dan berkembang. Guidance on the Management of Religious Education Institutions in Sembalun Bumbung Village Lack of understanding of the management of religious education institutions such as the Qur'an education park (TPQ) and Islamic boarding schools is the main problem for religious education institutions in the less developed village of Sembalun Bumbung. With this condition, there needs to be guidance and assistance so that religious education institution can progress and develop. The partners in this activity are religious institutions in Sembalun Bumbung village. The purpose of this community service is to foster the head of a religious education institution in the village of Sembalun Bumbung. The partner in this activity is the Qur'an Education Park (TPQ) in the Sembalun Bumbung area. The implementation method of this activity is counseling and training with activity steps; 1) Preparation, 2) Implementation, and 3) Evaluation. The results of this coaching activity resulted in significant institutional development in accordance with the expectations and goals that have been targeted. Development activities still need to be carried out on an ongoing basis so that religious education institutions such as TPQ are more advanced and developed.
PENANAMAN NILAI-NILAI RELIGIUS MELALUI PEMBIASAAN SHALAT DUHA DAN SHALAT DHUHUR BERJAMAAH DI MI RAUDLATUSSHIBYAN NW BELENCONG Hilmiati Hilmiati; Febria Saputra
El Midad Vol. 12 No. 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elmidad.v12i1.2506

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) bentuk penanaman nilai-nilai relegius melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, 2) strategi dalam menamkan nilai-nilai relegius melalui pembiasaan sholat dhuha dan sholat dhuhr berjamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang yaitu dalm mengambarkan atau menafsirkan keadaan mengenai masalah yang akan diteliti menggunakan kata-kata bukan angka. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengamati proses penanaman nilai relegiusitas pada siswa, wawancara untuk mendapatkan data berupa bentuk kegiatan keagamaan dan strategi yang digunakan dalam menanamkan nilai relegiusitas pada siswa, dan dokumentasi untuk memperoleh data berupa visi&misi, infrastruktur, sumberdaya manusia, dan sejarah berdirinya MI Raudlatusshibyan NW Belencong. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini melalui reduksi data, model data, dan penarikan kesimpulan/verifikas data. Sumber data diperoleh dari kepala sekolah, siswa, para guru, dan guru PAI di MI Raudllatusshibyan NW Belencong. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Nilai relgius yang ditanamkan melaluipembiasaan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong adalah nilai ibadah, nilai ruhul jihad, nilai akhlak, nilai keteladanan. 2) Strategi dalam menanamkan nilai-nilai relgiusitas melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhr berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong adalah reward and Punishment, keteladanan, pembiasaan, ajakan (persuasive), aturan atau norma-norma, dan penciptaan suasana relegius disekolah. Simpulan dari penelitian ini adalah karakter relgiusitas melalui pembiasaan sholat dhuha dan dhuhr berjamaah di MI Raudlatusshibyan NW Belencong dengan menggunakan berbagai macam strategi dalam menanamkannya sangat jelas dipaparkan dan sudah sesuai untuk meningkatkan karakter relegiusitas pada siswa.
PENDIDIKAN AKHLAK MUHAMMAD SYAKIR: KONSEP DAN IMPLEMENTASI KARAKTER DI PONPES MBS SELONG Muhammad Arhandika Rahman; M. Sobri; Hilmiati Hilmiati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11063

Abstract

ABSTRACT Moral education has become increasingly urgent amid the development of digital technology, social changes, and the growing demand for character strengthening in Islamic educational institutions. This study aims to analyze the concept of moral education proposed by Muhammad Syakir in Waṣāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’ and to examine its implementation in character building at Muhammadiyah Boarding School (MBS) Selong. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and then analyzed descriptively and analytically through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the moral values contained in the book, such as piety, respect for teachers, birrul walidain (devotion to parents), Islamic brotherhood, honesty, trustworthiness, sincerity, and self-reflection, have been internalized in students’ daily lives through the integration of the formal curriculum, dormitory habituation, and educators’ role modeling. This study confirms that classical Islamic texts remain relevant as theoretical and practical foundations for character education in modern Islamic boarding schools and contribute significantly to the development of Islamic moral education studies in the contemporary era. ABSTRAK Pendidikan akhlak menjadi kebutuhan mendesak di tengah perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, dan tuntutan penguatan karakter dalam lembaga pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan akhlak menurut Muhammad Syakir dalam kitab Waṣāyā Al-Ābā’ Lil Abnā’ serta mengkaji implementasinya dalam pembentukan karakter santri di Muhammadiyah Boarding School (MBS) Selong. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlak dalam kitab tersebut, seperti takwa, hormat kepada guru, birrul walidain, ukhuwah Islamiyah, kejujuran, amanah, ikhlas, dan muhasabah, telah diinternalisasikan dalam kehidupan santri melalui integrasi kurikulum formal, pembiasaan di asrama, serta keteladanan para pendidik. Penelitian ini menegaskan bahwa kitab klasik tetap relevan sebagai landasan teoritis dan praktis dalam pendidikan karakter di pesantren modern serta berkontribusi terhadap pengembangan kajian pendidikan akhlak Islam di era kontemporer.
DIALEKTIKA NILAI PENDIDIKAN ISLAM DAN MODERNITAS DALAM KONSTRUKSI GENDER PADA ORGANISASI MAHASISWA ISLAM Bq Ditia Widari; Ahmad Sulhan; Mira Mareta; Maimun Maimun; M. Sobry; Hilmiati Hilmiati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11116

Abstract

ABSTRACT This study is motivated by the paradox between the normative commitment of Islamic student organizations to gender equality and organizational social practices that still demonstrate gender bias tendencies. The study aims to analyze the dialectic between Islamic educational values and modernity in shaping gender construction within the Indonesian Islamic Student Movement (PMII) at UIN Mataram. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation studies involving PMII administrators and members. Data analysis used the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana through data condensation, data display, conclusion drawing, and verification. The findings reveal that PMII serves as a dialectical space that integrates Islamic educational values and modernity within its cadre system, organizational culture, and leadership practices. Aswaja values such as tawazun, tasamuh, ta’adul, and i’tidal form the basis for developing a contextual and moderate understanding of gender. Modernity is reflected through critical culture, gender education, meritocracy, and the strengthening of women’s intellectual capacities. However, patriarchal culture still influences organizational social practices, particularly in stereotypes toward women’s leadership, gender-biased division of labor, and the low participation of women in strategic organizational spaces. The study concludes that gender construction in PMII is formed through a dynamic negotiation process between Islamic educational values and modernity, resulting in a dialogical, moderate, and evolving understanding of gender. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya paradoks antara komitmen normatif organisasi mahasiswa Islam terhadap kesetaraan gender dengan praktik sosial organisasi yang masih menunjukkan kecenderungan bias gender. Penelitian ini bertujuan menganalisis dialektika nilai pendidikan Islam dan modernitas dalam membentuk konstruksi gender pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di UIN Mataram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap pengurus serta kader PMII. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, penarikan simpulan, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMII menjadi ruang dialektik yang mempertemukan nilai pendidikan Islam dan modernitas dalam sistem kaderisasi, budaya organisasi, dan praktik kepemimpinan kader. Nilai-nilai Aswaja seperti tawazun, tasamuh, ta’adul, dan i’tidal menjadi landasan dalam membangun pemahaman gender yang moderat dan kontekstual. Modernitas tercermin melalui budaya kritis, pendidikan gender, meritokrasi, dan penguatan kapasitas intelektual perempuan. Namun, budaya patriarki masih memengaruhi praktik sosial organisasi, terutama dalam stereotip kepemimpinan perempuan, pembagian kerja berbasis gender, dan rendahnya partisipasi perempuan dalam ruang strategis organisasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konstruksi gender di PMII terbentuk melalui proses negosiasi dinamis antara nilai pendidikan Islam dan modernitas sehingga menghasilkan pemahaman gender yang dialogis, moderat, dan terus berkembang.
INTERNALISASI NILAI AKHLAKUL KARIMAH DALAM MEMBENTUK ETIKA SISWA Ahmat Rifa’i; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry; Maimun Maimun; Mira Mareta
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11123

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the importance of developing students’ ethics through the internalization of akhlakul karimah values in the school environment. The study aimed to analyze the process of internalizing akhlakul karimah values in shaping students’ ethics at SMPN 4 Janapria. This research employed a qualitative approach with a case study design. The research subjects consisted of Islamic Education teachers, students, and school authorities selected through purposive sampling techniques. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using interactive analysis techniques involving data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the internalization of akhlakul karimah values was carried out through three stages, namely value transformation, value transaction, and transinternalization. The process was implemented through Islamic Religious Education learning, teacher role modeling, habituation, school culture, and religious activities such as congregational prayers, short religious lectures (kultum), Qur’an recitation, and the 5S program (smile, greeting, salutation, politeness, and courtesy). In addition, the concepts of sam’ and fu’ad from the perspective of Islamic psychology indicate that value internalization not only affects cognitive aspects but also students’ spiritual and psychological dimensions. Therefore, the internalization of akhlakul karimah values plays an important role in shaping students’ ethics through the integration of learning, school culture, and continuous religious habituation. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pembentukan etika siswa melalui internalisasi nilai akhlakul karimah di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai akhlakul karimah dalam membentuk etika siswa di SMPN 4 Janapria. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri atas guru Pendidikan Agama Islam, siswa, dan pihak sekolah yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai akhlakul karimah dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu transformasi nilai, transaksi nilai, dan transinternalisasi. Proses tersebut dilaksanakan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam, keteladanan guru, pembiasaan, budaya sekolah, serta kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah, kultum, membaca Al-Qur’an, dan program 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun). Selain itu, konsep sam’ dan fu’ad dalam perspektif psikologi Islam menunjukkan bahwa internalisasi nilai tidak hanya menyentuh aspek kognitif, tetapi juga aspek spiritual dan psikologis peserta didik. Dengan demikian, internalisasi nilai akhlakul karimah berperan penting dalam membentuk etika siswa melalui integrasi pembelajaran, budaya sekolah, dan pembiasaan religius secara berkelanjutan.
KETELADANAN ORANG TUA DALAM INTERAKSI LINTAS AGAMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TINGKAH LAKU ANAK PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Shaumy Imani Istiqomah; Mira Mareta; Maimun Maimun; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11153

Abstract

  ABSTRACT This study was motivated by the importance of parental role modeling in shaping children’s tolerant behavior within a pluralistic society. The study aimed to analyze parents’ exemplary attitudes in interfaith interactions and their implications for children’s behavior from the perspective of Islamic education. This research employed a descriptive qualitative approach with a field research design. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving Muslim families living alongside non-Muslim communities. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that parents’ exemplary behavior in building harmonious relationships with non-Muslims had a positive influence on children’s behavioral development. Children tended to demonstrate tolerant attitudes, politeness, respect for differences, and the ability to establish positive social relationships within their environment. In the perspective of Islamic education, these behaviors are aligned with the values of tasamuh, ukhuwah insaniyah, and hablum minannas, which emphasize the importance of noble character in social life. In addition, the study found that children who were consistently exposed to positive interfaith interactions within the family environment developed stronger social adaptability and greater openness toward diversity. The findings also indicate that family-based character education through parental role modeling can serve as an effective strategy for fostering social harmony and strengthening inclusive attitudes among children in multicultural communities. This study confirms that parental role modeling serves as an effective medium of social education in shaping children’s tolerant behavior in a pluralistic society. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keteladanan orang tua dalam membentuk perilaku toleran anak di tengah masyarakat plural. Penelitian bertujuan menganalisis keteladanan orang tua dalam interaksi lintas agama serta implikasinya terhadap tingkah laku anak dalam perspektif pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap keluarga Muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat non-Muslim. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan orang tua dalam membangun hubungan harmonis dengan non-Muslim memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan perilaku anak. Anak cenderung menunjukkan sikap toleran, santun, menghargai perbedaan, serta mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan lingkungan sekitar. Dalam perspektif pendidikan Islam, perilaku tersebut sejalan dengan nilai tasamuh, ukhuwah insaniyah, dan hablum minannas yang menekankan pentingnya akhlakul karimah dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, pembiasaan interaksi sosial yang harmonis dalam keluarga turut memperkuat kemampuan anak dalam beradaptasi dengan keberagaman sosial di lingkungannya. Proses keteladanan yang dilakukan secara konsisten juga membentuk kesadaran anak untuk menjunjung sikap saling menghormati dan hidup damai di tengah perbedaan keyakinan. Penelitian ini menegaskan bahwa keteladanan orang tua menjadi media pendidikan sosial yang efektif dalam membentuk perilaku toleran anak di masyarakat plural.
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BERBASIS DIGITAL DALAM MENINGKATKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI ERA SOCIETY 5.0 Fitriah Fitriah; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11195

Abstract

ABSTRACT The Society 5.0 era demands the integration of digital technology with humanitarian values in various sectors, including Islamic education. This study aims to analyze the implementation of digital-based Islamic Religious Education (PAI) learning and its impact on strengthening students’ religious character. The research employed a descriptive qualitative approach using a literature study method through the collection, analysis, and interpretation of relevant scientific sources. The findings indicate that the integration of digital platforms, interactive media, and internet-based learning resources in PAI learning enhances student engagement, strengthens religious understanding, and supports the internalization of spiritual values through structured digital habituation. In addition to improving learning effectiveness, the use of digital technology also contributes to balancing students’ ritual piety and social piety. However, its implementation still faces challenges such as low digital literacy, limited supervision of digital media use, and the potential for moral degradation in cyberspace. Therefore, strengthening the role of teachers, continuous supervision, and wise use of technology are necessary to ensure that digital-based PAI learning can effectively shape students’ religious character in the Society 5.0 era. ABSTRAK Era Society 5.0 menuntut integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis digital serta dampaknya terhadap penguatan karakter religius siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka melalui pengumpulan, analisis, dan interpretasi berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi platform digital, media interaktif, dan sumber belajar berbasis internet dalam pembelajaran PAI mampu meningkatkan keterlibatan siswa, memperkuat pemahaman keagamaan, serta mendukung internalisasi nilai-nilai spiritual melalui pembiasaan digital yang terarah. Selain meningkatkan efektivitas pembelajaran, penggunaan teknologi digital juga berperan dalam membentuk keseimbangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial siswa. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi digital, keterbatasan pengawasan penggunaan media digital, dan potensi dekadensi moral di ruang siber. Oleh karena itu, diperlukan penguatan peran guru, pengawasan yang berkelanjutan, dan pemanfaatan teknologi secara bijak agar pembelajaran PAI berbasis digital dapat berjalan efektif dalam membentuk karakter religius siswa di era Society 5.0.
INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI SISTEM KARTU BELANJA SANTRI : ANALISIS KONSEPTUAL DALAM PERSPEKTIF PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KEMANDIRIAN Sofiatin Naqiyah; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry Sutikno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11225

Abstract

ABSTRACT Islamic boarding schools (pesantren) as the oldest Islamic educational institutions in Indonesia face challenges in instilling contextual and applicable Islamic values in the modern era. This study aims to examine the function of the student shopping card system as an instrument for internalizing Islamic Religious Education values in character building and strengthening students’ independence. The study focuses on the relationship between the shopping card mechanism and fundamental Islamic values, such as honesty (ṣidq), discipline, responsibility, trustworthiness (amanah), and wise financial management. This research employed a qualitative approach based on literature study and conceptual analysis by reviewing various references related to pesantren education, character education, and student financial management systems. The research stages included literature collection, content analysis, conceptual interpretation, and synthesis of relevant theories. The findings indicate that the student shopping card system functions not only as an administrative transaction tool but also as a structured and sustainable character education medium. Through transaction recording, budget limitations, and transparent reporting mechanisms, students are trained to apply Islamic values in their daily lives. This study concludes that the effectiveness of the student shopping card system is influenced by curricular integration, institutional commitment, and continuous guidance from Islamic teachers and pesantren administrators, making it a relevant, measurable, and innovative educational model in the digital era. ABSTRAK Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia menghadapi tantangan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman yang kontekstual dan aplikatif di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi sistem kartu belanja santri sebagai instrumen internalisasi nilai-nilai Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter dan penguatan kemandirian santri. Fokus penelitian diarahkan pada hubungan antara mekanisme kartu belanja santri dengan nilai-nilai Islam,seperti kejujuran (ṣidq), kedisiplinan, tanggung jawab, amanah, serta pengelolaan keuangan yang bijaksana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan kajian konseptual dengan menelaah berbagai referensi mengenai pendidikan pesantren, pendidikan karakter, dan pengelolaan keuangan santri. Tahapan penelitian dilakukan melalui pengumpulan sumber literatur, analisis isi, interpretasi konseptual, dan sintesis teori yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem kartu belanja santri tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi administratif, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter yang terstruktur dan berkelanjutan. Melalui mekanisme pencatatan transaksi, pembatasan anggaran, dan pelaporan yang transparan, santri dilatih untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas sistem kartu belanja santri dipengaruhi oleh integrasi kurikuler, komitmen institusi pesantren, serta konsistensi pembinaan oleh ustaz dan pengelola pesantren sehingga dapat menjadi model pendidikan pesantren yang inovatif, terukur, dan relevan di era digital.
PERAN GURU NGAJI DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS ANAK : STUDI DI TPQ MASSYA AL WATHANI Zumaro Al Mahzumi; Hilmiati Hilmiati; M. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11392

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the role of Qur’anic teachers in shaping the religious character of children at TPQ Massya Al Wathani. The study was motivated by the decline in character education among children due to the influence of technological developments, social media, and social environments, which have impacted discipline, politeness, and respect toward teachers and parents. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, interviews, and documentation, while data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that Qur’anic teachers play an important role in shaping children’s religious character through habituation of worship, role modeling, providing advice and Islamic stories, and implementing positive discipline. Teacher role modeling became the main factor in the internalization of religious values because children tend to imitate the behavior of educators in their daily lives. In addition, the formation of children’s religious character requires support from families and the community through a holistic approach. Therefore, TPQ Massya Al Wathani contributes significantly to developing children’s religious character as an effort to address moral degradation in the modern era. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru ngaji dalam membentuk karakter religius anak di TPQ Massya Al Wathani. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya pendidikan karakter pada anak akibat pengaruh perkembangan teknologi, media sosial, dan lingkungan pergaulan yang berdampak pada rendahnya kedisiplinan, sopan santun, serta rasa hormat kepada guru dan orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru ngaji memiliki peran penting dalam membentuk karakter religius anak melalui pembiasaan ibadah, keteladanan, pemberian nasihat dan kisah Islami, serta penerapan disiplin positif. Keteladanan guru menjadi faktor utama dalam internalisasi nilai religius karena anak cenderung meniru perilaku pendidik dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembentukan karakter religius anak memerlukan dukungan keluarga dan lingkungan masyarakat melalui pendekatan yang holistik. Dengan demikian, TPQ Massya Al Wathani berkontribusi dalam membangun karakter religius anak sebagai upaya menghadapi dekadensi moral di era modern.
KURIKULUM INKLUSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK PENGUATAN KARAKTER DAN SPIRITUALITAS PESERTA DIDIK DI ERA DISRUPSI DIGITAL: PERSPEKTIF PSIKOLOGI PENDIDIKAN Miptahussurur Miptahussurur; Hilmiati Hilmiati; m. Sobry
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11508

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of an inclusive curriculum in Islamic Religious Education (PAI) as an effort to strengthen students’ character and spirituality in the era of digital disruption from the perspective of educational psychology. The era of digital disruption presents various challenges to students’ moral and spiritual development, such as reduced social interaction, weakened empathy, and the negative influence of digital media. This study employed a qualitative method using a library research approach. Data were collected from scientific sources including journals, books, academic articles, and relevant documents, which were then analyzed through data reduction, data presentation, and descriptive-analytical conclusion drawing. The findings indicate that an inclusive curriculum in PAI plays an important role in shaping students’ religious character and spirituality through the cultivation of tolerance, empathy, justice, and respect for diversity. The perspective of educational psychology emphasizes that learning processes which consider emotional, social, and spiritual aspects can enhance students’ religious awareness and positive behavior. In addition, the educational use of digital technology can support the internalization of character and spiritual values more effectively. This study concludes that an inclusive curriculum in Islamic Religious Education is an important strategy for creating humanistic, adaptive, and rel ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kurikulum inklusi dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai upaya penguatan karakter dan spiritualitas peserta didik di era disrupsi digital ditinjau dari perspektif psikologi pendidikan. Era disrupsi digital menghadirkan berbagai tantangan terhadap perkembangan moral dan spiritual peserta didik, seperti menurunnya interaksi sosial, lemahnya empati, serta pengaruh negatif media digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah berupa jurnal, buku, artikel akademik, dan dokumen relevan, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum inklusi dalam PAI berperan penting dalam membentuk karakter religius dan spiritualitas peserta didik melalui penanaman nilai toleransi, empati, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Perspektif psikologi pendidikan menegaskan bahwa pembelajaran yang memperhatikan aspek emosional, sosial, dan spiritual mampu meningkatkan kesadaran religius serta perilaku positif peserta didik. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital secara edukatif dapat mendukung internalisasi nilai karakter dan spiritualitas secara lebih efektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum inklusi dalam PAI menjadi strategi penting dalam menciptakan pembelajaran yang humanis, adaptif, dan relevan dengan tantangan era digital.