Taufiq Ilham Maulana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perancangan Struktur Bangunan 12 Lantai Menggunakan SNI 2847:2013 dan SNI 1726:2012 Hakas Prayuda; Taufiq Ilham Maulana; Arma Rizal Riyandar; Eri Putra Siswantoro
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 18, No 2 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.899 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v18i2.4327

Abstract

Bangunan gedung memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia untuk melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan, baik berupa kegiatan sosial, kegiatan bisnis, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, dan kegiatan lainya. Maka dari itu dalam merencanakan struktur bangunan gedung harus memperhatikan beberapa aspek yaitu aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Hal lain yang harus diperhatikan dalam merencanakan bangunan gedung yaitu harus berpedoman pada peraturan atau standar terbaru yang berlaku di Indonesia. Salah satu peraturan terbaru yaitu SNI 2847-2013 dan SNI 1726-2012. Gedung Hotel Lafayette Yogyakarta merupakan salah satu bangunan gedung yang dimungkinkan masih menggunakan peraturan lama, oleh sebab itu dalam penelitian ini akan dilakukan perancangan ulang gedung hotel tersebut menggunakan SNI 2847:2013 dan SNI 1726:2012. Setelah dilakukan perancangan ulang, terjadi adanya beberapa perubahan yaitu perubahan pada tulangan balok sebesar 83,33 %, perubahan tulangan kolom mencapai 54,55 %, perubahan dimensi balok mencapai 128 %, dan perubahan dimensi kolom mencapai 75 %. Peningkatan kebutuhan tulangan maupun dimensi diakibatkan karena pengaruh beban gempa serta adanya persyaratan terkait SRPMK dan juga persyaratan SNI 2847:2013.
Probabilitas Kerusakan Gedung Bertingkat Rendah Akibat Beban Seismik Menggunakan Kurva Kerapuhan Hakas Prayuda; Taufiq Ilham Maulana; Samsul Abdul Rahman Sidik Hasibuan; Darda Bari Farizqi; Faiik Ilmi; Renita Husna
JOURNAL OF CIVIL ENGINEERING BUILDING AND TRANSPORTATION Vol. 9 No. 2 (2025): JCEBT SEPTEMBER
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jcebt.v9i2.17666

Abstract

Indonesia merupakan wilayah dengan tingkat aktivitas seismik yang tinggi karena berada pada zona cincin api dunia, sehingga banyak bangunan, khususnya bangunan bertingkat rendah, rentan mengalami kerusakan saat terjadi gempa bumi. Bangunan masjid sebagai salah satu fasilitas publik yang umum dijumpai juga tidak terlepas dari risiko tersebut, terutama apabila didesain tanpa perencanaan teknis yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang mampu memprediksi tingkat kerusakan bangunan secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi probabilitas kerusakan bangunan beton bertulang bertingkat rendah menggunakan metode kurva kerapuhan. Objek penelitian berupa dua tipe bangunan masjid 2 lantai dengan bentuk tidak beraturan. Analisis dilakukan secara numerik menggunakan aplikasi STERA 3D dengan beban gempa riwayat waktu (time-history) dari beberapa kejadian gempa (Parkfield, Kobe, Chichi, Tabas, dan Chuetsu-oki). Kurva kerapuhan dikembangkan menggunakan metode HAZUS untuk menentukan probabilitas kerusakan pada berbagai tingkat (slight, moderate, extensive, dan complete). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk bangunan dan karakteristik gempa sangat mempengaruhi respons seismik dan tingkat kerusakan. Bangunan berbentuk L cenderung memiliki nilai perpindahan dan probabilitas kerusakan yang lebih tinggi dibandingkan bangunan berbentuk H. Selain itu, sebagian besar kondisi menunjukkan bangunan berada pada fase plastis, kecuali pada gempa Chichi yang masih dalam kondisi elastis. Dapat disimpulkan bahwa ketidakberaturan bentuk bangunan meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan akibat gempa. Oleh karena itu, direkomendasikan agar perencanaan bangunan masjid mempertimbangkan aspek regularitas struktur serta dilakukan evaluasi kinerja berbasis analisis kerapuhan untuk meminimalkan risiko kerusakan di wilayah rawan gempa.