Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS SEMIOTIKA PADA MANTRA BANJAR DI DESA TELUK KEPAYANG Normasunah -
CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Vol 4 No 7 (2016): Cendekia: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : STKIP Paris Barantai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.287 KB)

Abstract

The method used in this research is descriptive method kualitatif.Dengan descriptive qualitative method will be described overall results of the analysis in the form of symbols and meanings semiotics at Banjar mantra in the village of Teluk Kepayang. With the steps of collecting, managing, analyzing, and presenting data with interview and observation techniques. Based on the results penelitianPada Banjar spell Teluk Kepayang found some symbols In Banjar spells Teluk Kepayang found some symbols are: a symbol of confidence, a symbol binder. a symbol of health and hygiene, and symbols perlindungan.Dalam Banjar mantra meaning there are four sections covering: a title that reflects part of the purpose of the spell in question, part of the sentence Opener basmalah used to open an action so that such acts receive a blessing from God Almighty, the base or description, contains words which have the potential to spell someone unseen, part of the purpose, an expectation to be achieved, cover, namely sentences diucapakan to end the spell that had given two creed sentence. Keywords: Semiotics, Mantra Banjar
GAYA BAHASA PERBANDINGAN PADA NOVEL DANDAMAN KADA BAPANCUNG KARYA ALIMAN SYAHRANI NORMASUNAH _; Razali Rahman
CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Vol 5 No 2 (2017): Cendekia: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : STKIP Paris Barantai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.632 KB)

Abstract

The results of data analysis using stylistic comparisons it was concluded that: (1) The literary style of comparison used in the novel Dandaman Kada Bapancung works Aliman Syahrani is stylistic metaphor, synesthesia, simile, allegory, allusion, hyperbole, kiasmus, personification, sinekdoke, euphemism, perifrasa, and symbolic. (2) The meaning of style in the novel Dandaman comparison Kada Bapancung Aliman work Syahrani is 1. Meaning of synchronous language style (language semantic meaning and cultural significance). 2. Meaning diachronic style. As in the style of metaphorical language in the following sentence of page 3 in the novel Dandaman Kada Bapancung works Aliman Syahrani there are sentences floating nut (flowers of the guava tree) the meaning of the quote in italics above including the meaning of the language style of diachronic because originally said floating nut (flower of the tree guava) is indeed the true sense, but over time, the word is growing and does not always refer to the actual meaning, until finally said floating nut (flowers of the guava tree) growing with new meanings that have meaning gray hair that grows on the head of someone. Keywords: Novel, Language Style Comparison, Meaning
ANALISIS EUFEMISME DALAM BAHASA TABU PADA PERGAULAN REMAJA DI DESA TARJUN KOTABARU Sukma Laras Shanti, Normasunah, Sri Juniati,
CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Vol 12 No 2 (2024): CENDEKIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : STKIP Paris Barantai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33659/cip.v12i2.363

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis makna eufemisme dalam bahasa tabu pada pergaulan remaja di Desa Tarjun Kecamatan Kelumpang Hilir Kabupaten Kotabaru dan faktor apa yang menyebabkan bahasa tabu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang berfokus pada deskriptif yaitu prosedur atau cara pemecahan masalah dengan memaparkan dan mendeskripsikan secara jelas tentang analisis makna eufemisme dalam bahasa tabu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Bentuk dan makna eufemisme dalam bahasa tabu pada pergaulan remaja di Desa Tarjun Kecamatan Kelumpang Hilir Kabupaten Kotabaru yaitu seperti pengucapan kata-kata kasar atau kata-kata yang tidak santun yang masuk kedalam referensi eufemisme benda atau binatang bentuk dan maknanya (2) Faktor yang menyebabkan penggunaan bahasa tabu pada anak usia remaja yaitu faktor lingkungan teman dan masyarakat, faktor media elektronik, dan faktor latar belakang keluarga. Kata Kunci: Makna Eufemisme, Bahasa Tabu, Desa Tarjun.
Bahasa Dalam Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Mubarak, Husni; Normasunah; Juniati, Sri
EduCurio: Education Curiosity Vol 1 No 2 (2023): Maret-Juni 2023
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Situasi kebahasaan di Indonesia sangatlah kompleks. Namun, bahasa Indonesia tetap melaju ke arah perkembangan yang pesat. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan bahasa Indonesia dalam mengekspresikan konsep ilmu pengetahuan teknologi dan seni dewasa ini. Dalam rentang waktu delapan puluh tahun lebih bahasa Indonesia berkembang ke arah kemantapan dan kedinamisan. Kemantapan dapat diamati dengan adanya keajekan dalam kaidah, misalnya kata kesimpulan. Kini disadari bahwa bentuk yang benar secara gramatikal adalah simpulan (hasil dari kegiatan menyimpulkan).Penilaian pencapaian pendidikan nilai budaya dan karakter didasarkan pada indikator. Indikator untuk nilai jujur di suatu semester dirumuskan dengan “mengatakan dengan sesungguhnya perasaan dirinya mengenai apa yang dilihat, diamati, dipelajari, atau dirasakan” maka guru mengamati (melalui berbagai cara) apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja peserta didik menyatakan perasaannya itu secara lisan tetapi dapat juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh. Perasaan yang dinyatakan itu mungkin saja memiliki gradasi dari perasaan yang tidak berbeda dengan perasaan umum teman sekelasnya sampai bahkan kepada yang bertentangan dengan perasaan umum teman sekelasnya.
MAKNA SIMBOLIK MAYANG PADA KEBUDAYAAN BANJAR DALAM TARI PENYAMBUTAN Rahmayanti, Gilang Sufi Ramadhan, Normasunah,
CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Vol 13 No 1 (2025): CENDEKIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : STKIP Paris Barantai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33659/cip.v13i1.410

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui proses yang terdapat pada prosesi penepukan mayang dalam Tari Mayang Kencana. (2) Untuk mengetahui dan mengidentifikasi makna simbolik mayang dalam Tari penyambutan Mayang Kencana khas Kabupaten Kotabaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penilitian kualitatif dengan Jenis penelitian yang menggunakan tahapan berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mendeskripsikan bagaimana proses penepukan mayang dan identifiksasi makna simbolik mayang pada kebudayaan Banjar dalam tari penyambutan Mayang Kencana. Hasil Penelitian ini diperoleh bahwa pada“Tari Mayang Kencana” terdapat 2 proses sebelum mayang ditepuk yaitu proses persiapan yang dimana hal ini dilakukan sebelum pada penampilan Tari Mayang Kencana, dimulai dari menyiapkan kostum serta aksesoris yang dipakai penari Mayang Kencana. Selanjutnya masuk pada proses penepukan mayang yang dimana sebelum menepuk mayang penari menggerakkan 26 ragam gerak, dari terbang mayang hingga antar mayang. Mayang dalam nilai budaya Banjar merupakan simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Penggunaan mayang dalam Tari Mayang Kencana karena mayang memiliki makna Kesuburan dan Kemakmuran serta perlindungan dari marabahaya. Keywords: Symbolic Meaning of Mayang, welcoming
ANALISIS MANTRA BUCICI DALAM TINJAUAN SEMANTIK KEPADA SUKU MANDAR DI MARABATUAN KECAMATAN PULAU SEMBILAN Normasunah, Hermawati &
CENDEKIA: JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN Vol 13 No 2 (2025): CENDEKIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan
Publisher : STKIP Paris Barantai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33659/cip.v13i2.432

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan cara pengobatan mantra bucici Suku Mandar di Marabatuan Kecamatan Pulau Sembilan. (2) mendekskripsikan makna dari mantra bucici pada suku mandar di marabatuan kecamatan pulau Sembilan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angaka-angka. Data dan sumber data dalam penelitian ini adalah mantra bucici yang diperoleh dari hasil wawancara dan studi pustaka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik wawancara, teknik catat, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra bucici dari Suku Mandar di Marabatuan Kecamatan Pulau Sembilan terdiri 11 mantra 7 informan yang berbeda-beda di antaranya ada di Rt 01,02 dan 03. Proses pengobatan dari mantra bucici terdapat 11 proses namun yang lebih dominan adalah dengan cara di minum dan di mandikan. Makna dari 11 mantra tersebut adalah untuk mengobati seseorang ketika sakit perut pada saat datang bulan berdasarkan hasil penelitian terdapat 4 makna saja diantaranya makna leksikal, gramatikal, konotasi dan non-referensial. Namun fungsi dari mantra bucici pada suku Mandar di Marabatuan Kecamatan Pulau Sembilan yaitu sama-sama untuk mengobati seseorang ketika sakit perut datang bulan.