Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ISLAM DAN ETIKA BERMEDIA (Kajian Etika Komunikasi Netizen di Media Sosial Instagram Dalam Perspektif Islam ) Maya Sandra Rosita Dewi
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.618 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.2574

Abstract

Instagram merupakan media sosial yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia dibandingkan dengan twitter maupun facebook. Di dalam instagram terdapat sebuah desain yang memiliki fungsi komunikasi praktis dan menjadi sebuah media komunikasi berupa teks dan foto. Yang menjadi topik hangat untuk diteliti adalah banyaknya masyarakat yang menggunakan media sosial ini (instagram) namun kurang memahami makna medianya itu sendiri. Perkembangan media sosial secara langsung berdampak terhadap tatanan dari perilaku manusia, baik sebagai sarana informasi maupun sebagai sarana sosialisasi dan interaksi antar manusia. Media sosial seakan menjadi tempat menumpahkan segala aktivitas yang tidak jarang mengesampingkan beragam etika yang ada. Hal ini dilihat dari penggunaan bahasa non baku dan tidak resmi dalam berkomunikasi. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lainnya. Komunikasi akan lebih efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan. Adapun Etika komunikasi yang baik dalam media sosial adalah jangan menggunakan kata kasar, provokatif, porno ataupun SARA; jangan memposting artikel atau status yang bohong; jangan mencopy paste artikel atau gambar yang mempunyai hak cipta, serta memberikan komentar yang relevan. Dalam perspektif islam, komunikasi Islam tidak hanya sekedar menyampaikan pesan, merubah sikap dan perilaku komunikan. Lebih dari itu, komunikasi Islam menyampaikan kemaslahatan dan kemuliaan antara komunikator dan komunikan. Oleh sebab itu, komunikasi Islam menjadi lebih unggul apabila dibandingkan dengan komunikasi Barat. Komunikasi sangat berpengaruh terhadap kelanjutan hidup manusia, komunikasi juga berpengaruh terhadap kualitas berhubungan dengan sesama. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi yang berakhlak karimah atau beretikaKata kunci: Instagram, Etika, Islam
KOMUNIKASI SOSIAL DI ERA INDUSTRI 4.0 (Studi Pada Etika Komunikasi Remaja Perempuan Melalui Media Sosial di Era Industri 4.0) Maya Sandra Rosita Dewi
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 4 No. 1 (2020): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.598 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v4i1.3388

Abstract

Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan berkembang pesatnya teknologi dan informasi. Indonesia menjadi salah satu negara yang memasuki era industri 4.0. Konsep penerapan dari era ini adalah otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya. Teknologi yang menjadi pilar utama dalam perkembangan revolusi industri salah satunya adalah internet. Teknologi ini semakin berkembang pesat, memiliki fitur-fitur yang sangat canggih dan memudahkan manusia dalam mengakses atau melakukan suatu kegiatan. Perangkat yang digunakan untuk mengakses internetpun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini berdampak pula pada berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi antarmanusia di berbagai belahan bumi.Komunikasi yang dahulunya masih dilakukan secara tatap muka dan menggunakan alat-alat manual, kini berubah menjadi sangat mudah. Komunikasi tidak harus dilakukan dengan tatap muka atau menggunakan alat manuak seperti surat. Dengan adanya komputer dan smartphone manusia bisa berkomunikasi dengan siapa saja tanpa harus bertemu langsung. Perkembangan teknologi komunikasi ini dikhawatirkan akan menggeser etika dalam berkomunikasi. Selain memiliki banyak manfaat yang baik, komunikasi virtual ini juga memiliki dampak yang kurang baik bagi manusia. Diantaranya membentuk menjadi pribadi yang individualis serta dapat menimbulkan krisis komunikasi sosial terutama pada generasi muda.Paper ini menggambarkan bagaimana etika komunikasi remaja perempuan di media social. Pada hakikatnya etika berkomunikasi sangat penting dan baik untuk diterapkan. Baik ketika menjadi komunikator maupun komunikan. Etika komuniaksi yang baik meniadakan kesalahpahaman maupun pertengkaran yang berujung saling menghina. Bila komunikasi disampaikan dengan kalimat yang tidak sopan, kasar, dan jauh dari nilai moral terlebih disampaikan di media social yang sifatnya sangat heterogen, maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan dapat memprovokasi dan mengakibatkan terjadinya konflikKata Kunci : Media, Etika, Remaja
Adaptasi Pelayanan Publik Perangkat Desa Dalam Menghadapi Era Digital: Studi Empiris Di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten Handini Handini; Rahmah Attaymini; Maya Sandra Rosita Dewi
Jurnal Humanitaria Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 02 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/03grjn79

Abstract

Peningkatan Kapasitas Pelayanan Publik bagi Perangkat Desa dalam Menghadapi Era Digital (Pengabdian Kepada Perangkat Desa di Kecamatan Ngawen, Kab. Klaten) dilakukan sebagai bentuk penyiapan sumberdaya pengelola pelayan public yang mumpuni dalam media digital. Menghadapi migrasi interaksi dan masivitas pemanfaatan media baru pada era digital saat ini, pemerintah desa diharapkan untuk dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui ruang digital. Pemanfaatan ruang digital ini sesuai dengan undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 24, pemerintah desa dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan asas keterbukaan, akuntabilitas, efektivitas dan efisiensi. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian kualitatif, yaitu berusaha mengexplore temuan di lapangan dengan cara mengumpulkan data atau informasi tentang fakta atau keadaan lapangan. Pendekatan yang digunakan adalah FGD (Focus Group Discussion) yaitu diskusi yang dilakukan oleh kelompok atau group untuk membahas isu dan masalah tertentu untuk dicarikan solusinya. Kelurahan sebagai lapisan hirarki pemerintahan paling dekat dengan Masyarakat dapat bertransformasi dan memanfaatkan media digital sebagai sarana Peningkatan pelayanan kepada Masyarakat. Guna menerapkan sepenuhnya penggunaan perangkat digital, perlu untuk dioperasikan oleh pelayan public dalam hal ini perangkat desa yang mengerti dan faham penggunaan media digital. Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari perwakilan perangkat desa baik dari unsur kepala desa maupun pamong desa turut hadir dalam kegiatan pengabdian guna meningkatkan kemampuan perangkat desa di wilayah Kecamatan Ngawen Kab. Klaten dalam menghadapi era digital.
Analisis Penguatan Kompetensi Komunikasi Bhabinkamtibmas dalam Mendukung Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Achmad Zuhri; Maya Sandra Rosita Dewi; Rahmah Attaymini
Jurnal Humanitaria Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 01 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/hkps0z07

Abstract

Bhabinkamtibmas holds a strategic role in maintaining public security and social order at the village level. However, the effectiveness of this role is closely related to the officers’ communicative capacity in delivering messages, building trust, and responding to community dynamics. This community service article aims to analyze the implementation of effective communication training as an effort to strengthen the capacity of Bhabinkamtibmas in Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. The activity employed a descriptive qualitative design through Focus Group Discussion (FGD), observation, documentation, and interactive training sessions involving 25 Bhabinkamtibmas personnel from two police sectors. The program focused on public speaking, self-development, self-acceptance, and strategies for effective public communication. The findings indicate that the training improved participants’ understanding of persuasive and humanistic communication, strengthened their confidence in interacting with the public, and expanded their practical strategies for addressing communication barriers in the field, especially public distrust and weak message reception. The activity also demonstrates that strengthening communicative competence is an important element in supporting Bhabinkamtibmas’ public service role and in fostering more adaptive approaches to maintaining community security and order.