Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Perbandingan Gedung dengan Iregularitas Horizontal Menggunakan Base Isolation dan Fixed Base Marcellino Arifin; Lidya Fransisca; Altho Sagara
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.687 KB) | DOI: 10.12962/j26151847.v3i2.5882

Abstract

Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan peningkatan kebutuhan penduduk, salah satunya yaitu rumah tinggal ataupun bangunan dengan fungsi lainnya. Adanya keterbatasan lahan mengakibatkan pembangunan gedung bertingkat semakin berkembang. Dalam mendesain, selain beban gravitasi, tentunya suatu gedung harus mampu menahan beban lateral akibat gempa bumi. Dewasa ini, dilakukan suatu pendekatan untuk mengurangi gaya lateral dengan menggunakan base isolation. Prinsipnya adalah memisahkan struktur bangunan dengan tanah sehingga ketika gempa terjadi, tanah akan tetap mengalami pergerakan tetapi struktur bangunan akan tetap mempertahankan posisinya. Pada penelitian ini, dilakukan analisis perbandingan gedung yang menggunakan base isolation (khususnya lead rubber bearing) dan fixed base. Berdasarkan analisis respons spektrum, penggunaan base isolation dapat mereduksi gaya geser dasar pada gedung, tetapi menyebabkan  gedung menjadi lebih fleksibel pada arah horizontal sehingga gedung memiliki periode dan perpindahan lantai yang lebih besar. Kekakuan horizontal dan kekakuan vertikal yang dimiliki base isolation tidak mampu menahan momen pada dasar gedung sehingga terjadi distribusi momen ke tingkat diatasnya dan meningkatkan kebutuhan tulangan longitudinal balok induk. Berbeda halnya dengan kolom, penggunaan base isolation meningatkan kekuatan kolom sehingga dimensi dapat diperkecil dan kebutuhan tulangan longitudinal berkurang.  Berdasarkan analisis riwayat waktu, penggunaan base isolation meningkatkan kekuatan elemen struktur sehingga tidak terjadi sendi plastis pada kolom serta meningkatkan tingkat kinerja struktur.
Studi Komparasi Sistem Steel Frame Tube dengan Sistem Steel Braced Tube menggunakan X-Brace Gabriella Junico; Lidya Fransisca Tjong
Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Manajemen Aset Infrastruktur & Fasilitas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26151847.v5i1.8735

Abstract

Sistem tabung merupakan sistem yang umum digunakan dalam struktur bangunan tinggi, seperti Sistem Steel Frame Tube (SFT). Akan tetapi karena fenomena shear lag, distribusi tegangan aksial pada kolom-kolom perimeter sudut menjadi lebih besar dibandingkan dengan kolom perimeter lainnya. Hal ini ditanggulangi dengan menggunakan Sistem Steel Braced Tube (SBT) yang dapat membuat perimeter gedung menjadi lebih kaku dengan menggunakan diagonal pada seluruh muka gedung. Studi ini meneliti respons elastik dan inelastik dari gedung 12 lantai menggunakan kedua sistem struktur tersebut dengan analisis respons spektrum dan riwayat waktu menggunakan rekaman percepatan gempa El-Centro 1940, Kobe 1995, dan Denpasar 1979. Berdasarkan hasil analisis respons spektrum, kekakuan pada Sistem SBT lebih tinggi sehingga peralihan lantai dan simpangan antar lantai pada sistem tersebut menjadi lebih kecil. Berdasarkan hasil analisis riwayat waktu, saat kondisi inelastik peralihan lantai dan simpangan antar lantai pada Sistem SFT juga bernilai lebih besar untuk ketiga rekaman percepatan gempa. Elemen breising pada Sistem SBT mengalami kelelehan terlebih dahulu dibandingkan elemen lain karena breising ditetapkan sebagai elemen fuse. Kedua sistem struktur memiliki tingkat kinerja Immediately Occupancy (IO). Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa selain mengurangi fenomena shear lag, Sistem SBT memiliki respons elastik dan inelastik yang lebih baik.
Studi Komparasi Perilaku Gedung Beton Bertulang dengan Ketidakberaturan Vertikal Tipe 2 Menggunakan Dinding Geser dan Rangka Bresing Konsentrik Inverted-V Daniel Jason Tatang; Lidya Fransisca Tjong
Dinamika Teknik Sipil: Majalah Ilmiah Teknik Sipil Vol. 15/No.2/Desember 2022
Publisher : Departement of Civil Engineering, Faculty of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/dts.v15i2.19715

Abstract

Dinding geser umumnya digunakan pada struktur rangka beton bertulang, sedangkan bresing baja paling sering digunakan pada struktur baja. Pemberian bresing baja internal pada rangka beton bertulang mampu menahan beban lateral lebih tinggi dibandingkan rangka tanpa bresing. Maheri (2009), dalam studi bresing internal yang disambung secara langsung pada rangka beton bertulang menyimpulkan bahwa bresing tidak hanya cocok untuk meretrofit bangunan yang sudah ada, tetapi dapat menjadi alternatif yang kompeten sebagai pengganti dinding geser pada bangunan yang baru dibangun. Dalam studi ini dilakukan komparasi perilaku struktur untuk mengetahui perbedaan perilaku gedung yang memiliki ketidakberaturan massa dengan menggunakan dinding geser (Model 1) dan Sistem Rangka Bresing Konsentrik (SRBK) inverted – V (Model 2). Dari analisis linear dinamik diperoleh hasil: Periode struktur untuk ragam pertama yang diperoleh menunjukkan model 1 bernilai lebih kecil 7.65 % dari model 2.  Model 1 memiliki kinerja yang baik terhadap simpangan tingkat karena memiliki nilai simpangan elastik lantai teratas lebih kecil 11.22 % dibandingkan dengan model 2. Dari segi gaya geser dasar yang dianalisis menunjukkan bahwa gaya geser dasar pada model 1 lebih besar 1.81 % dibandingkan gaya geser dasar model 2. Model 1 memliki kekakuan pada tingkat dasar lebih besar 31.62 % dibandingkan dengan model 2.   
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen dalam Pembelian Properti Lidya Fransisca; Maria Widyarini; Adinda Oktaviani Rachdian
Jurnal Rekayasa Sistem Industri Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Sistem Industri
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jrsi.v15i1.8949.48-62

Abstract

This study examines the factors influencing consumer preferences in purchasing primary homes in Bandung, Indonesia, an emerging real estate market experiencing rapid urban development and infrastructure expansion. Understanding these preferences is essential as housing decisions in such markets are shaped not only by financial capacity but also by mobility constraints, cultural tendencies, and access to public facilities. Using the Analytic Hierarchy Process (AHP), four criteria: location, financial considerations, house features, and environmental factors were evaluated through 19 pairwise comparison judgments collected from prospective homebuyers. The analysis shows that financial considerations, particularly the affordability of monthly installments, are the most influential determinant. Location ranks second, with proximity to workplaces emerging as the dominant sub-criterion. Environmental factors such as safety and tranquility also play a meaningful role. These results highlight the multidimensional nature of home-buying decisions in Bandung and offer practical insights for developers and policymakers aiming to design housing products that align with consumer priorities in rapidly urbanizing Indonesian cities.