Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengukuran Kinerja Orthogonal Frekwency Division Multiplexing (OFDM) Pada Sbx Doughter Board Menggunakan Labview dan USRP N-210 BB Harianto
Jurnal Penelitian 64-69
Publisher : Politeknik Penerbangan Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.151 KB) | DOI: 10.46491/jp.v4i1.288

Abstract

Salah satu permasalahan dalam perkembangan teknologi telekomunikasi yaitu bagaimana mencapai data rate yang besar namun dengan bandwidth yang tidak lebih besar dari bandwidth koheren kanal untuk menghindari terjadinya Inter-Symbol Interference (ISI). Salah satu solusi yang ditawarkan yaitu transmisi multi-carrier. Cara kerja transmisi multi-carrier yaitu membagi total bandwidth signal yang tersedia menjadi beberapa subcarrier-subcarrier dengan bandwidth yang sempit. Sehingga bandwith masingmasing subcarrier yang dihasilkan tersebut menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan bandwidth koheren kanal. Salah satu transmisi multicarrier yang terbaru yaitu Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dimana subcarrier-subcarrier dapat saling tegak lurus satu sama lain sehingga bendwidth yang dibutuhkan menjadi lebih efisien jika dibandingkan dengan multicarrier konvensional seperti FDM. Sistem OFDM dapat diimplementasikan pada USRP yang merupakan salah satu jenis SDR (Software Defined Radio). SDR merupakan sistem pemancar dan penerima yang menggunakan pemrosesan sinyal digital untuk coding, decoding, modulasi dan demodulasi data. USRP tersebut digunakan sebagai model pemancar dan penerima pada pengukuran kualitas unjuk kerja sistem OFDM dengan barbagai kondisi. Pengukuran ini akan membandingkan hasil performansi parameter – parameter pada frekwensi 910 MHz dan 2.4 GHz. Spesifikasi sistem OFDM yang digunakan pada penelitian ini menggunakan software Labview dan dilakukan pada lingkungan indoor pada jarak 3m dan bandwidth 1 MHz. Hasil dari implementasi dan pengukuran menunjukkan bahwa parameter yang ditunjukkan oleh frekwensi 910 MHz lebih baik dari pada nilai parameter yang ditunjukkan oleh frekwensi 2.4
Simulasi Validasi Pengukuran Kanal Radio Pita Lebar Secara Multicarrier BB Harianto
Jurnal Penelitian 20-27
Publisher : Politeknik Penerbangan Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.293 KB) | DOI: 10.46491/jp.v4i2.292

Abstract

Penelitian ini memberikan kontribusi frekuensi untuk saluran pita lebar, yang mampu membaca karakteristik kanal pita lebar memperpanjang bandwidth kanal tanpa mengubah bandwidth operasi perangkat pengukuran. Ini sangat cocok untuk mobilitas rendah dan skenario tingkat data tinggi (mis., Hot spot dalam ruangan) dalam sistem komunikasi seluler generasi kelima. Dengan skema ini, sounder saluran dapat dibaca menggunakan platform pemancar yang ditentukan oleh perangkat lunak yang menggunakan sinyal multicarrier pada frekwensi 2.65-2.75 GHz. Dalam satu siklus pengiriman secara penuh. sepuluh pita frekuensi terkoordinasi (bandwidth 12.5 MHz) dicakup untuk diperoleh pengukuran setara dengan bandwidth 100-MHz pada sistem penelitian ini menggunakan analisa matematis dengan lintasan 1 dan 2 masing masing 1 m dan 7 . hasil dari perhitungan akan memperlihatkan grafik nilai magnitude dan fase gelombang.
STUDI EKPERIMENTAL PENERIMA ADS-B MENGGUNAKAN RTL 1090 DAN RTL-SDR R820T2 DI BANDARA JUANDA SURABAYA BB Harianto
Jurnal Penelitian 20-28
Publisher : Politeknik Penerbangan Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.142 KB) | DOI: 10.46491/jp.v4i3.346

Abstract

Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADS-B) adalah sebuah teknologi surveillance menggunakan informasi posisi dari satelit yang dipancarkan (broadcast) secara terus-menerus. Salah satu permasalahan dalam perkembangan teknologi surveillance yaitu bagaimana mendeteksi atau memantau pesawat dengan teknologi peralatan yang murah, dimana diketahui peralatan surveillance yang ada di bandara Indonesia cenderung mahal harganya bahkan modul-modul peralatan tiap-tiap alat surveillance dijual khusus sesuai merk dan tipe tiap-tiap peralatan surveillance. Permasalahan yang juga dihadapi di bandara Indonesia yaitu terbatasnya peralatan surveillance yang ada di tiap-tiap bandara terutama peralatan ADS-B, dimana rata-rata di bandara cabang dan unit di Indonesia belum mempunyai peralatan ADS-B dan hanya menggunakan situs Flightradar24 sebagai sumber informasinya. Flightradar24 adalah layanan jasa berbasis internet yang menunjukan informasi penerbangan pesawat terbang yang meliputi Ident atau Squawk, Heading dan Track. Akan tetapi Flightradar24 memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah jika pengguna ingin menampilkan informasi lebih banyak, pengguna diharuskan membayar secara berkala atau berlangganan, dan delay yang terjadi karena pemrosesan data dan dibutuhkannya internet untuk bisa menjalankannya. Oleh karena itu penulis membuat Analisa terutama daya yang diterima sebuah perangkat receiver ADS-B yang menggunakan RTL-SDR R820T2 untuk memproses sinyal yang dipancarkan transponder pesawat untuk mendapat informasi berupa 24 bit ICAO aircraft address, Nationality, Ident atau Squawk, Altitude, Latitude, Longitude, Speed, Heading dan Track sehingga dapat membantu user untuk mengamati sebuah target atau pesawat.