Syairil Fadli
IAIN Palangka Raya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Statemen Sari Roti Pasca 212 dalam Perspektif Filsafat Bahasa Biasa John Langshaw Austin Syairil Fadli
NALAR Vol 2, No 2 (2018): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.542 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i2.911

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi statemen Sari Roti dalam perspektif filsafat bahasa biasa Austin. Penelitian ini menerapkan eklektik-hermeneutika. Ini dimulai dengan mengumpulkan dan memisahkan data. Semua data dievaluasi menggunakan cara  deskriptif, interpretatif, reflektif, inklusif, dan sintesis. Austin membandingkan keragaman alat dan cara dalam bahasa, serta bagaimana bahasa digunakan, banyaknya jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan ahli logika tentang struktur bahasa tempat pembaca dapat menafsirkan teks kata sebagai jembatan untuk dapat dipahami. Statemen Sari Roti menggunakan salah satu jenis bahasa biasa, yakni bahasa sehari-hari. Berdasarkan sudut pandang filsafat bahasa Austin, pengaruh statemen Sari Roti ini berakibat  unhappy. Statemen itu hanya muncul beberapa jam sebelum resmi dihapus oleh Sari Roti, tetapi menjadi sia-sia  karena tidak memperhatikan situasi dan kondisi ketika informasi ditampilkan.Keywords: Statemen, Warganet, Bahasa Biasa
KRITIK SEYYED HOSSEIN NASR TERHADAP KLAIM KEBENARAN MODERNISME Syairil Fadli
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.518 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.903

Abstract

Filsafat bermula dari kekaguman terhadap yang sederhana, pada gilirannya mampu melahirkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Kekaguman itu ditandai dengan keinginan manusia menjawab rahasia alam, manusia, dan Tuhan. Manusia ingin memahami dan mengetahui apa yang dapat dilakukan terhadap apa yang mereka ketahui. Pertanyaan mendalam menjadi kebutuhan dan menghantui seperti: “Kenapa aku berada di jagad ini?”; “Apakah yang dimaksud dengan pengetahuan?”; “Apakah radikal itu?”. Hal senada diungkapkan oleh Seyyed Hossein Nasr, kapan dan di mana pun berada, manusia tidak dapat menghindari pertanyaan mendasar dengan serius, “Siapakah manusia?” “Dari mana manusia berasal?” “Apa yang manusia kerjakan?” dan “Akan ke mana manusia pergi?” Leenhouwers berpendapat, dari sekian banyak pertanyaan, kalau diperas menjadi satu pertanyaan menentukan, yakni, “Apakah kebenaran itu?”Kata Kunci: Sayyed Hossein Nasr, Modernisme