Saparia Fitriani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Barantam Dalam Pesta Pernikahan (Studi Kasus di Kelurahan Karan Aur Kec. Pariaman Tengah Kota Pariaman) Saparia Fitriani
Mau'izhah Vol 9 No 2 (2019): Volume IX No. 2 Juli - Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh burhanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.57 KB) | DOI: 10.55936/mauizhah.v9i2.31

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh “Bagaimanakah Nilai-Nilai Pendidikan ukhuwah Islamiyah dan Gotong Royong Pada Tradisi Barantam Dalam Pesta Pernikahan di Kelurahan Karan Aur Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman.” Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui: tradisi barantam, nilai ukhuwah Islamiyah pada tradisi barantam, nilai gotong royong (tolong menolong) pada tradisi barantam, nilai sosial pada tradisi barantam, dan nilai moral pada tradisi barantam dalam pesta pernikahan di Kelurahan Karan Aur Kec. Pariaman Tengah Kota Pariaman. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dan menggunakan metode deskriptif, serta penulis juga menggunakan bibliografi sebagai referensi. Sumber data penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Agar terkumpulnya data penulis menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada mantan Ketua KAN Pasia Pasa, perangkat Kelurahan Karan Aur dan masyarakat Kelurahan Karan Aur yang ada di Kec. Pariaman Tengah Kota Pariaman. Setelah data terkumpul penulis melakukan teknik pengolahan data dengan menggunakan Reduksi Data, Penyajian Data dan Kesimpulan. Sehingga penulis menarik kesimpulan bahwa Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Barantam Dalam Pesta Pernikahan di Kelurahan Karan Aur mengandung nilai ukhuwah Islamiyah, nilai gotong royong (tolong menolong)Penulis akhirnya mengetahui: (1) Tradisi barantam adalah sebuah tradisi dalam pesta pernikahan yang ada di Pariman dalam bentuk kegiatan sosial dari masyarakat di bawah arahan niniak mamak dengan tujuan untuk menolong atau meringankan beban biaya keluarga yang telah melaksanakan pesta pernikahan. (2) nilai ukhuwah Islamiyah terjalin dengan baik dan erat terlihat dari: a. Hubungan saudara kandung atau saudara seketurunan. b. Hubungan saudara yang dijalin dengan ikatan keluarga. c. Hubungan saudara dalam arti sebangsa, d. Persaudaraan seagama. Selain itu nilai ukhuwah Islamiyah terjalin dalam diri masyarakat karena adanya akhlak yang baik, masyarakat sama-sama merasakan dan bahu-membahu untuk meringankan biaya pesta pernikahan. (3) Nilai gotong royong pada tradisi barantam terlihat dari hasil barantam bahwa pertolongan seseorang dapat meringankan bahkan melepaskankesulitan orang lain. Gotong royong pada tradisi barantam dilakukan secara ikhlas, tulus dan bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan.
The Effect of the Traditional Game of Congklak on the Cognitive Development of Children Aged 5–6 Years at RA Darussaadah Chaidir Adam Rara Marnita; Riza Novitri; Rahmanita; Saparia Fitriani; Fatmi Fauzani
Journal of Creative Power and Ambition (JCPA) Vol. 4 No. 01 (2026): Journal of Creative Power and Ambition (JCPA)
Publisher : CV Edujavare Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cognitive development is a crucial aspect of early childhood education as it forms the foundation for thinking, reasoning, and problem-solving skills in subsequent educational stages. One approach to stimulating children’s cognitive development is through play activities, particularly by utilising traditional games that are concrete in nature and suited to children’s characteristics. The traditional game of congklak is considered to have educational potential as it involves counting, logical thinking, concentration, and decision-making. This study aims to determine the effect of the traditional game of congklak on the cognitive development of 5–6-year-old children at RA Darussaadah Chaidir Adam. This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental design with a pre-test–post-test model. The research subjects were children aged 5–6 years, all of whom were included as the study sample. Data collection was conducted through observation of the children’s cognitive development, whilst data analysis utilised the t-test or Wilcoxon test, depending on the data characteristics, alongside N-Gain calculations. The results of the study indicate that the traditional game of congklak has a significant effect on enhancing the cognitive development of children aged 5–6 years. Consequently, the game of congklak can serve as an effective alternative learning medium to stimulate children’s cognitive development in RA/PAUD institutions.