Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nyelamak Dilaok : Sebuah Tradisi Selametan Masyarakat Pesisir Tanjung Luar Lombok Timur Syahdan Syahdan
AS-SABIQUN Vol 3 No 1 (2021): MARET
Publisher : Pendidikan Islam Anak Usia Dini STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36088/assabiqun.v3i1.1326

Abstract

Nyelamak dilaok is a culture that has existed 400 years ago brought by sea travelers from Sulawesi. This tradition is carried out in the village of Tanjung Luar, Keruak District, East Lombok Regency in the month of Rajab in the Hijri calendar by floating the head of a buffalo on a cluster of rocks in the Tanjung Luar sea. The purpose of this study was to find out how the procedure for implementing nyelamak was carried out from beginning to end. This study also aims to determine the implications of nyelamak dilaok on the community's aqidah, especially for the students of TPQ Al-Mujaddid as the next generation. The data collection procedure used in this study is to collect data through interviews, observation, recording and documentation. Sources of data used are informants who are involved and understand about the tradition, namely traditional leaders, community leaders, religious leaders, village governments, the general public, students of TPQ Al-Mujaddid and books that support the research. While the data analysis method used is a description in the form of a narrative. From the results of the study it can be concluded that if viewed from a social perspective, the tradition of nyelamak dilaok has noble cultural values, but behind it all, in its implementation, it contradicts the teachings of Islam which has implications for the aqidah of TPQ Al-Mujaddin students
Pembagian Harta Warisan dalam Tradisi Masyarakat Sasak : Studi pada Masyarakat Jago Lombok Tengah Syahdan syahdan
PALAPA Vol 4 No 2 (2016): NOVEMBER
Publisher : LP2M STIT Palapa Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.016 KB) | DOI: 10.36088/palapa.v4i2.28

Abstract

Masyarakat Sasak mempunyai cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan harta seseorang yang meninggal dunia dengan anggota keluarga yang ditinggalkannya. Walaupun mayoritas beragama Islam, pembagian harta warisan berdasarkan ilmu faraidh sama sekali tidak diterapkan. Yang digunakan adalah sistem mayorat laki-laki, yaitu anak laki-laki sulung (atau keturunan laki-laki) merupakan ahli waris tunggal. Anak laki-laki tertua yang sudah dewasa bisa secara perorangan, ia berkedudukan sebagai pemegang mandat orang tua yang mempunyai kewajiban mengurus anggota keluarga yang lain yang ditinggalkan termasuk harta warisan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; (1) metode observasi, (2) metode wawancara, dan (3) metode dokumentasi. Penelitian ini sendiri menggunakan pendekatan normatif - sosiologis. Pendekatan normatif dimaksudkan untuk menelusuri alasan yang dipakai dalam pelaksanaan sistem kewarisan adat berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku, sedangkan sosiologis untuk melihat realitas kehidupan masyarakat Desa Jago dalam melaksanakan sistem kewarisan tersebut. Hasil yang diperoleh adalah: Pertama, karena menganut sistem mayorat laki-laki, secara otomatis seluruh harta warisan jatuh kepada anak tertua laki-laki, hanya saja pada harta tertentu seperti tanah, tetap diadakan pembagian kepada ahli waris lainnya. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal bagi ahli waris tersebut. Kedua, Sistem dan praktek pembagian harta warisan tersebut tidak sesuai dengan farâ’id. Namun berdasarkan tasâluh hal ini dibolehkan karena sesuai dengan konsep pembentukan hukum Islam yaitu terwujudnya kemaslahatan ummat.