Ofis Rikardo
Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kewenangan Konstitusional Mahkamah Konstitusi Dalam Memutus Sengketa Hasil Pemilu Dan Pilkada Serentak Ofis Rikardo; Viranti Nur Ikhwan; Fani Larasati
Jurnal Hukum Sasana Vol. 9 No. 1 (2023): June 2023
Publisher : Faculty of Law, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/sasana.v9i1.2239

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 14/PUU-XI/2013 memberikan implikasi hukum terhadap pelaksanaan Pemilu (pemilihan anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, dan DPRD). Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan yang sebelumnya dilaksanakan lebih dulu dari pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden maka berdasarkan Putusan MK ini Pemilu Anggota Lembaga Perwakilan dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan secara serentak. Pemilu dan Pilkada serentak yang sama-sama dilaksanakan pada tahun 2024 ini berpotensi menimbulkan perselisihan hasil yang akan berujung pada penyelesaian perselisihan hasil pemilu di MK. Dengan kewenangan konstitusional yang dimiliki oleh MK, MK dituntut untuk dapat menyelesaikan perselisihan hasil Pemilu dan Pilkada demi menjaga Pemilu dan Pilkada yang berasaskan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil seperti yang diamanahkan Undang-Undang Dasar 1945.
Keterwakilan Perempuan PDIP di DPR RI Hasil Pemilu 2024: Analisis Normatif-Empiris Kebijakan Afirmasi Perempuan Ardhana Ulfa Azis; Ofis Rikardo
Pagaruyuang Law Journal Volume 10 Nomor 1, Juli 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v10i1.8076

Abstract

AbstractWomen’s representation in legislative bodies is a key indicator of an inclusive and gender-equitable democracy. Indonesia has implemented affirmative action policies in the form of a minimum 30% quota for women’s representation in political party leadership and legislative candidacy. However, the increase in the number of female candidates has not fully translated into a corresponding increase in the representation of elected women in parliament. This paper aims to analyze the implementation of the 30% affirmative action policy for women’s representation in the Legislative Elections within the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) using a normative-empirical research methodology. Normatively, this study examines the constitutional basis and regulations for women’s affirmative action, while empirically, it analyzes the implementation of this policy in electoral practice. The research findings indicate that, normatively, this policy has a strong legal foundation, both in the constitution, national legislation, and international instruments ratified by Indonesia, such as CEDAW. However, the implementation of affirmative action policies in electoral political practice within the PDIP still faces various obstacles, including those influenced by internal party factors, particularly leadership patterns and political recruitment mechanisms that are centralized in nature. Affirmative action policies within the PDIP remain largely normative and have not been followed by more progressive concrete actions. Keywords: Women's Affirmative Action Policies, Legislative Elections, Political Representation  AbstrakKeterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif merupakan salah satu indikator penting dalam demokrasi yang inklusif dan berkeadilan gender. Negara Indonesia telah menerapkan kebijakan afirmasi berupa kuota minimal 30% keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik dan pencalonan legislatif. Namun, peningkatan kuantitas calon perempuan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan keterwakilan perempuan terpilih di parlemen. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan afirmasi 30% keterwakilan perempuan dalam Pemilu Legislatif di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan melalui metodologi penelitian normatif-empiris. Secara normatif, penelitian ini mengkaji dasar konstitusional dan regulasi afirmasi perempuan, sedangkan secara empiris menelaah implementasi kebijakan tersebut dalam praktik pemilu. Hasil penelitian bahwa secara normatif, kebijakan ini telah memiliki dasar hukum yang kuat, baik dalam konstitusi, peraturan perundang-undangan nasional, maupun instrumen internasional yang telah diratifikasi Indonesia, seperti CEDAW. Namun implementasi kebijakan afirmasi dalam praktik politik elektoral kasus di PDIP masih menghadapi berbagai kendala antara lain dipengaruhi oleh faktor internal partai, terutama pola kepemimpinan dan mekanisme rekrutmen politik yang bersifat sentralistik. Kebijakan afirmasi di internal PDIP masih bersifat normatif dan belum diikuti tindakan khusus yang lebih progresif. Kata kunci: Kebijakan Afirmasi Perempuan, Pemilu Legislatif, Keterwakilan Politik
Penegakan Hukum Tindak Pidana Politik Uang dalam Pemilihan Umum 2024 di Kota Bekasi Ahmad Bayu Ramadan; Ida Budhiati; Ofis Rikardo
Pagaruyuang Law Journal Volume 9 Nomor 2, Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/plj.v9i2.7496

Abstract

AbstractThis study discusses the enforcement of laws against money politics in the 2024 general elections in Bekasi City using a normative juridical research method. The research was conducted in Bekasi City, involving the Bekasi City Election Supervisory Body (Bawaslu) and subjects engaging in money politics. The phenomenon of money politics was rampant during the 2024 election contestation. Money politics is identified as a structural issue based on the legal system analysis by Lawrence M. Friedman.The study revealed weak regulations, loose supervision, economic conditions of society, and education as factors contributing to the prevalence of money politics. Based on the findings, the researchers provided recommendations for revising legislation on the implementation of general elections. Furthermore, the role and functions of the election supervisory body need to be strengthened. Additionally, political education should be provided to the public to enhance their knowledge and understanding of money politics.Keywords: Money Politics, General Election, Normative Juridical, Legal System AbstrakPenelitian ini membahas mengenai penegakan hukum tindak pidana politik uang pada pemilu tahun 2024 di Kota Bekasi dengan metode penelitian yuridis normatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Bekasi dengan melibatkan Bawaslu Kota Bekasi dan subjek pemberi politik uang. Fenomena politik uang marak terjadi dalam kontestasi pemilu tahun 2024. Politik uang menjadi suatu permasalahan yang struktrual berdasarkan analasis sistem hukum menurut Lawrence M. Friedman. Hasil Penelitian ini ditemukan regulasi yang lemah, pengawasan yang longgar, kondisi ekonomi masyarakat, dan pendidikan menjadi faktor suburnya politik uang. Berdasarkan hasil, peneliti memberikan masukan dan saran agar dilakukan revisi dalam Peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaaan pemilihan umum, selanjutnya badan pengawasan pemilu harus diperkuat peran dan fungsinya. Selain itu perlu pula diberikan pendidikan politik kepada masyarakat guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terkait politik uang.Kata Kunci: Politik Uang, Pemilihan Umum, Yuridis Normatif, Sistem Hukum