Wiwik Widayanti
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS). Kementerian Sosial RI

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Menciptakan Kondusifitas Keluarga Sebagai Benteng Fenomena Klitih di Yogyakarta Wiwik Widayanti
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 43 No 1 (2019): Volume 43 Nomor 1 April 2019
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v43i1.2204

Abstract

Dalam kajian ini  peran penting keluarga dalam menekan dan mencegah kasus klitih oleh remaja di Yogyakarta adalah (1) sumber pertama bagi si anak dalam membelajari nilai apa yang baik dan benar; atau sebaliknya buruk dan merugikan (2) bertujuan untuk memberikan rasa kenyamanan dan perlindungan selama anak tersebut mengalami perkembangan. Dengan demikian anak dapat memenuhi berbagai tugas perkembangan yang diemban dari setiap masa pertumbuhan. Selanjutnya memberikan kepercayaan bahwa keluarga merupakan “tempat” aman jika mereka mengalami permasalahan. Dalam kondisi lain maka anak tidak akan segan bertanya  dan mencari informasi dalam keluarga. (3)  menjadi sumber pengalaman pertama bagi anak dalam menjalin interaksi sosial sehingga anak dapat mencapai kematangan sosial. Kajian ini menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan peran keluarga adalah: (1) Meningkatkan intensitas komunikasi yang terjadi antara keluarga dengan remaja. Intesitas komunikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kedalaman penyampaian pesan dari individu sebagai anggota keluarga. Dengan demikian komunikasi yang berlangsung dalam keluarga dapat mencakup aspek-aspek perhatian, kasih sayang, empati, dukungan dan keterbukaan. (2) Berpartisipasi membentuk jaringan sosial dengan pihak lain yang dianggap dapat berkontribusi tersebut antara lain, masyarakat sekitar, sekolah, lembaga pembinaan remaja dan pemerintah. (3) Menegaskan fungsi keluarga sebagai model perilaku anak dengan tahap-tahap yaitu a) Menyatakan aturan-aturan (stating rules), b) Memberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments) (c) Perintah langsung (direct instruction),