RYAN NUGRAHA
Geodetics PT Arutmin Indonesia, Departemen Engineering, Satui

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SURVEI BATIMETRI DI AREA VOID PIT DENGAN MENGGUNAKAN WAHANA TELEDYNE ODOM SINGLEBEAM ECHOSOUNDER SINGLE FREQUENCY RYAN NUGRAHA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2020: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.151

Abstract

Teknik pengambilan data topografi permukaan di bawah air yang saat ini sedang berkembang, salah satunya menggunakan metode survei batimetri. Survei batimetri bertujuan untuk menggambarkan topografi di bawah air melalui pengukuran kedalaman dasar air sepanjang area yang ditentukan. Alat yang digunakan dalam survei batimetri dapat berupa singlebeam echosounder (SBES) atau multibeam echosounder (MBES) dengan single atau dual frekuensi. Kegiatan survei batimetri menggunakan wahana teledyne odom singlebeam echosounder ini juga tidak luput dari industri pertambangan, khususnya tambang batu bara yang saat ini mulai popular menggunakan salah satu teknologi yang modern ini. Salah satu jenis wahana yang digunakan PT Arutmin Indonesia adalah teledyne odom singlebeam echosounder single frequency. Kegiatan survei batimetri menggunakan wahana ini, pada dasar prinsipnya adalah dengan memancarkan gelombang akustik ke dasar permukaan di bawah air dalam hal ini void pit, kemudian gelombang akustik dipantulkan kembali yang akan diterima oleh tranducer (alat pemancar dan penerima gelombang akustik). Waktu dari pemancaran gelombang akustik sampai gelombang akustik ditangkap kembali oleh tranducer digunakan oleh echosounder untuk menentukan kedalaman. Kegiatan survei batimetri yang dilakukan PT Arutmin Indonesia ini dilakukan di area void pit yang tergenang air dan bertujuan untuk menentukan dan menggambarkan topografi permukaan lumpur. Dalam penggunaannya, kapal survei batimetri yang menggunakan wahana teledyne odom singlebeam echosounder single frequency harus dilengkapi dengan GPS, antenna GPS, transducer (alat pemancar dan penerima gelombang akustik), dan komputer. Antena GPS digunakan untuk mendapatkan posisi dan echosounder akan menampilkan data hasil processing tangkapan sinyal akustik dan posisi dari GPS. Komputer digunakan untuk mengoperasikan dan mengintegrasikan alat-alat tersebut. Setelah semua alat-alat selesai diinstalasi di kapal, kapal akan bergerak di sepanjang area tertentu/jalur yang sudah ditentukan yang nantinya akan dipetakan topografinya. Dengan demikian, kedalaman dasar void pit akan terekam di setiap titiknya berdasarkan posisi GPS. Dengan menggabungkan data kedalaman dan posisi, makan akan diperoleh data topografi dasar void pit.
KOMPARASI PENGAMBILAN DATA TOPOGRAFI STOCKPILE DI ROM MENGGUNAKAN WAHANA UNMANNED AERIAL VEHICLE DAN GPS RTK TIPE GEODETIC Ryan Nugraha
Indonesian Mining Professionals Journal Vol 4, No 2 (2022): November
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/impj.v4i2.77

Abstract

Perkembangan teknologi di era globalisasi saat ini tidak bisa dipungkiri berkembang sangat pesat.Terutama di sektor energi (mineral, batu bara, minyak, dan gas bumi). Salah satu komparasi pengambilan data stockpile di ROM yang digunakan PT Arutmin Indonesia adalah menggunakan wahana unmanned aerial vehicle dan GPS RTK tipe Geodetic.  Pengambilan data topografi pada dasar prinsipnya adalah kegiatan menggambarkan dan memetakan bentuk/objek permukaan Bumi. Banyak metode dan wahana/peralatan yang digunakan dalam pengambilan data topografi, diantaranya: metode terestris (survey secara langsung) remote sensing (penginderaan jarak jauh), dan batimetri (survey di bawah air). Dalam makalah ini, akan mengkomparasikan dua metode pengambilan data topografi di ROM menggunakan wahana UAV tipe eBee fixed wing (metode remote sensing) dan GPS RTK tipe geodetik (metode terestris). Kegiatan ini dilakukan di salah satu area ROM (Run of Mine)/tempat penyimpanan batu bara sementara setelah ditambang dari Pit yang  bertujuan untuk menggambarkan topografi permukaan dan menghitung volume batu bara.Dalam penggunaannya, dua metode dan wahana ini berbeda. Metode remote sensing merupakan pengambilan data topografi menggunakan wahana tanpa kontak secara langsung dengan objek dan daerah yang akan diambil datanya. UAV tipe eBee fixed wing dioperasikan oleh operator (manusia). Sebelum UAV diterbangkan, dibuat perencanaan jalur terbang di area yang akan di survey terlebih dahulu (dalam hal ini area ROM). Selanjutnya UAV di instalasi sesuai dengan kebutuhan area yang akan di survey dan UAV dapat diterbangkan mengambil data topografi batu bara (stockpile). Metode terestris kebalikan dari metode remote sensing, merupakan pengambilan data topografi  menggunakan wahana yang kontak secara langsung dengan objek dan daerah yang akan diambil datanya. Metode ini melibatkan manusia secara langsung saat mengoperasikan wahana/peralatan GPS RTK tipe geodetik dalam pengambilan data topografi batu bara/stock pile. Kedua metode ini dapat menghitung dan menghasilkan volume stockpile/batu bara di ROM.