AbstraksiDinamika politik Indonesia tidak dapat dipahami secara utuh tanpa menelusuri jaringan relasional antara ulama dan media massa sebagai aktor kunci dalam setiap fase perubahan politik. Berbeda dari kajian terdahulu yang cenderung menempatkan keduanya secara dikotomis, penelitian ini menggeser pendekatan tersebut dengan melihat ulama dan media massa sebagai bagian dari formasi jaringan yang saling terhubung. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana jaringan tersebut dibentuk, dipertahankan, dan ditransformasikan dalam dinamika politik Indonesia sejak masa pra-kemerdekaan hingga Orde Baru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis berbasis literatur artikel ilmiah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data yang bersumber dari artikel jurnal dan publikasi akademik dianalisis menggunakan kerangka Teori Aktor Jaringan atau Actor-Network Theory (ANT) yang dipadukan dengan teknik analisis Miles dan Huberman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama dan media massa tidak beroperasi sebagai entitas yang terpisah, melainkan membentuk jaringan aktor yang bersifat simbiotik, non-hierarkis, dan dinamis melalui empat tahapan ANT, yaitu problematisasi, interessement, enrolment, dan mobilisasi. Karakter jaringan tersebut bervariasi pada setiap periode: bersifat revolusioner pada masa pra-kemerdekaan, ideologis pada masa Orde Lama, serta adaptif dan defensif namun tetap resilien pada masa Orde Baru. Temuan ini menegaskan bahwa dinamika politik Indonesia lebih tepat dipahami melalui perspektif jaringan aktor yang melibatkan interaksi kompleks antara aktor manusia dan non-manusia, sebagaimana terepresentasi dan terartikulasikan dalam literatur ilmiah, sehingga menghasilkan implikasi politik yang signifikan. Kata Kunci: Jaringan Aktor, Ulama, Media Massa, Dinamika Politik, Actor-Network Theory, Indonesia