Diskusi pemikiran mengenai hubungan Islam dan politik (baca negara) di kalangan pemikir muslim bukan merupakan hal yang asing. Dalam mengungkapkan pemikirannya, para pemikir muslim mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Produk pemikiran para sarjana muslim sudah pasti berbeda antara yang satu dan yang lain. Corak pemikiran mereka banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial politik yang terjadi. Ini tidak hanya terjadi pada para pemikir muslim pada masa klasik tetapi juga kontemporer. para pemikir muslim pada masa kontemporer hidup dalamkondisi sosial politik yang ditandai dengan runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani. Keruntuhan Turki Utsmani menjadi puncak kemerosotan politik Islam dan hilangnya identitas Islam dalam sebuah negara. dari situ muncullah para tokoh Islam yang ingin mengembalikan identitas Islam dalam sebuah negara diantaranya adalah Hasan Al-Banna.Tulisan ini fokus untuk menjawab pertanyaan tentang sejarah terbentuknya Negara Islam pertama, hubungan agama dan negara serta bentuk Negara Islam menurut Hasan Al-Banna. Sejalan dengan itu maka tulisan ini diharapkan dapat menjelaskan sejarah terbentuknya Negara Islam pertama, hubungan agama dan Negara serta bentuk Negara Islam menurut Hasan Al-Banna. Untuk tujuan itu penelusuran atas masalah tersebut di atas dilakukan deskripsitf kualitatif melalui penelitian.Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa peran Rasulullah dalam mendirikan negara di Madinah menjadi sejarah terbentuknya Negara Islam pertama di dunia. Islam adalah ajaran yang komprehensif, universal dan kosmopolit. Karenanya agama dan negara yang ideal menurut Hasan Al-Banna adalah entitas laksana dua sisi mata uang. Bentuk Negara Islam, dengan demikian, mestilah sebuah negara yang merdeka dan berdiri di atas pondasi Islam daulah Islamiah, atau jika ada yang menghendaki nama lain semisal Khilafah, Imarah, Kesultanan, ataupun Mamlakah.