Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Studi Analisa Penyebab Kerusakan Kapasitor Bank Sub Station Welding di PT. Astra Daihatsu Motor Deni Almanda; Nurkholis Majid
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 2, No 1 (2019): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.494 KB) | DOI: 10.24853/resistor.2.1.7-14

Abstract

Penggunaan kapasitor bank salah satu fungsinya adalah sebagai alat untuk meningkatkan factor daya. Factor daya yang diijinkan standard PLN adalah >0,85. Penggunaan kapasitor bank tidak lepas dari adanya gangguan kerusakan. Kerusakan yang terjadi pada kapasitor bank antara lain kapasitor meledak, kapasitor terbakar dan fuse kapasitor putus. Apabila kerusakan ini tidak segera ditangani maka akan menimbulkan biaya yang besar dalam perbaikannya, untuk itu perlu adanya penanganan lebih lanjut agar biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan tidak terlalu besar. Banyaknya kerusakan yang terjadi antara lain diakibatkan oleh beban non linier yang dapat menyebabkan gelombang harmonic. Pengukuran THD (Total Harmonic Distortion) yang dilakukan dapat mendeteksi besarnya gelombang harmonic yang terjadi pada jaringan distribusi listrik. Pengukuran harmonic ini meliputi THD-U (tegangan) dan THD-I (Arus) sesuai dengan standar internasional yang diijinkan.  Disisi lain kapasitor bank yang dijual di pasaran ada beberapa tipe antara lain kapasitor kering (dry) dan kapasitor basah (oil). Perbedaan dari kedua kapasitor ini ada pada bahan dielektrik yang digunakan kapasitor tersebut. Kualitas dalam pemilihan jenis kapasitor bank juga dapat berdampak pada umur dari kapasitor itu sendiri.
Studi Pemilihan Sistem Pendingin pada Panel Surya Menggunakan Water Cooler, Air Mineral dan Air Laut Deni Almanda; Doddy Bhaskara
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 1, No 2 (2018): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.425 KB) | DOI: 10.24853/resistor.1.2.43-52

Abstract

Permasalahan utama dari solar cell adalah perbedaan jenis solar cell yang mengakibatkan perbedaan kinerja pada solar cell tersebut. Besarnya daya keluaran yang dihasilkan relatif tidak konstan karena dipengaruhi oleh besarnya intensitas matahari  serta  suhu  lingkungan  di  sekitarnya.  Untuk mengatasi masalah tersebut maka penelitian ini dirancang untuk melakukan perbandingan panel surya monocrystalline jenis vertikal dan jenis fleksibel.Dari hasil pengujian dan analisa dengan simulasi pencahayaan matahari langsung menggunakan sistem pendingin panel surya fleksibel menghasilkan efisiensi lebih baik dibanding panel surya vertikal, yaitu 20.40%, sedangkan panel surya vertikal menggunakan heatsink, yaitu 16.75%. Dari hasil pengujian dan analisa dengan simulasi pencahayaan lampu menggunakan sistem pendingin heatsink panel surya vertikal menghasilkan efisiensi lebih baik dibandingkan dengan panel surya vertikal, yaitu 17.39%, sedangkan panel surya fleksibel menggunakan heatsink sebesar 15.30%. Dari hasil pengujian dan Analisa dengan simulasi pencahayaan matahari langsung dengan system tanpa pendingin heatsink telah didapatkan hasil Analisa atau percobaan bahwa panel surya fleksibel menghasilkan efisiensi yang lebih baik dibandingkan panel surya vertikal, yaitu 19.39%, sedangkan panel surya vertikal mempunyai efisiensi 18.55%. dari hasil percobaan dan Analisa dengan simulasi pencahayaan lampu tanpa menggunakan system pendingin heatsink dari hasil percobaan dan Analisa telah didapatkan bahwa panel surya vertikal menghasilkan efisiensi yang lebih baik dari pada panel surya fleksibel, yaitu 18.50%, sedangkan panel surya fleksibel menghasilkan efisiensi sebesar 17.37%.
Analisis Pengaruh Kompensasi Impedansi Urutan Nol (Kzn) terhadap Kehandalan Sistem Proteksi Rele Jarak (Distance Relay) pada Penghantar Harapan Indah di Gardu Induk Plumpang Deni Almanda; Juniyanto Juniyanto
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 4, No 1 (2021): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/resistor.4.1.1-6

Abstract

Pada saat terjadi gangguan hubung singkat di saluran transmisi Gardu Induk Plumpang, rele jarak berfungsi sebagai proteksi utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompensasi impedansi urutan nol (kzn) terhadap kehandalan sistem proteksi rele jarak (distance relay) pada penghantar harapan indah di Gardu Induk Plumpang. Setting rele jarak yang didapatkan dari PT PLN (Persero) UPT Pulogadung disimulasikan menggunakan alat uji Omicron. Hasil simulasi gangguan hubung singkat satu fasa, gangguan hubung singkat dua fasa, dan gangguan hubung singkat tiga fasa menggunakan setting lama Z1 = 2.58 Ω, Z2 = 3.87 Ω, dan Z3 = 7.30 Ω, kZn = 0.93 Ω < -0.4° rele jarak tidak bekerja selektif, maka dilakukan resetting. Hasil resetting rele jarak yaitu Z1 = 2.58 Ω, Z2 = 3.87 Ω, dan Z3 = 7.30 Ω, kZn = 0.68 Ω < -0.6°. Setelah dilakukan resetting dan disimulasikan gangguan hubung singkat satu fasa, gangguan hubung singkat dua fasa, dan gangguan hubung singkat tiga fasa, rele jarak bekerja secara handal. Kesimpulannya kZn dapat mempengaruhi kehandalan sistem proteksi rele jarak pada penghantar harapan indah di Gardu Induk Plumpang.In the event of a short circuit in the transmission line of the Plumpang Substation, the distance relay serves as the main protection. This study aims to determine the effect of zero sequence impedance compensation (kzn) on the reliability of the distance relay protection system at the Harapan Indah conductor at the Plumpang Substation. The distance relay setting obtained from PT PLN (Persero) UPT Pulogadung was simulated using the Omicron test tool. Simulation results of single phase short circuit, two phase short circuit, and three phase short circuit using the old setting Z1 = 2.58 Ω, Z2 = 3.87 Ω, and Z3 = 7.30 Ω, kZn = 0.93 < -0.4° relay distance does not works selectively, then resetting is done. The results of resetting the distance relay are Z1 = 2.58 Ω, Z2 = 3.87 Ω, and Z3 = 7.30 Ω, kZn = 0.68 < -0.6°. After resetting and simulating single-phase short circuit, two phase short circuit, and three phase short circuit fault, the distance relay works reliably. In conclusion, kZn can affect the reliability of the distance relay protection system on the beautiful hope conductor at the Plumpang Substation.
Evaluasi Pemasangan Current Transformer Ring Tipe Clamp On yang Berfungsi Sebagai Pengaman Line Differential dan Circulating Current Protection Deni Almanda; Muhammad Isroqi Radifan
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 5, No 1 (2022): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/resistor.5.1.1-6

Abstract

 Gangguan pada Gardu Induk Ancol, terjadi karena benang layangan yang mengakibatkan hubung singkat Fasa T terhadap ground pada SUTT Ancol-Angke. Gangguan ini terjadi karena malfungsi pada sistem proteksi GIS Priok Timur bay Ancol . Gangguan diketahui dengan mengnalisa relai pada GI Ancol dan GIS Priok Timur sehingga diketahui besarnya arus gangguan, relai yang terpasang yaitu micom P543. Dari hasil perhitungan dapat dilihat arus gangguan pada sirkit Ancol- Angke sebesar 92kA dan juga sirkit Priok Timur- Ancol sebesar 17kA. Selanjutnya dilakukan pengecekan pada rangkaian sekunder current transformer dan pengujian kualitas current transformer. Dalam investigasi  di temukan arus yang tidak seimbang pada rangkaian skunder current transformer disebabkan karena pemasangan current transformer yang tidak sesuai dan temukan juga rangkaian leadsheat yang membuat arus sekunder semakin bertambah.However, at the same time, the differential relay and circulating current protection on the East Priok GIS read the Phase T short circuit to the ground which resulted in a trip on the Ancol bay 1. In the investigation, no anomalies were found in the Priok Timur - Ancol circuit, so it can be concluded that there is a malfunction in the system. protection of GIS Priok Timur Ancol Bay. In analyzing the disturbance, it is done by downloading the relay on GI Ancol and GIS Priok Timur to find out the magnitude of the fault current, the relay installed is the micom P543. From the download results, it can be seen that the fault current in the Ancol-Angke circuit is 92kA and also the Priok Timur-Ancol circuit is 17kA.  
Analisi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Menggunakan Sistem Distribusi Air di P.T. Astra Honda Motor Plant 5 Karawang Deni Almanda; Rahmat Kartono
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 3, No 1 (2020): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.78 KB) | DOI: 10.24853/resistor.3.1.1-8

Abstract

Energi listrik dan merupakan salah satu kebutuhan vital yang tidak bisa dipisahkan bagi masyarakat pada umumnya maupun perusahaan industri khususnya. Maka dari itu mendorong pelaku usaha untuk melakukan suatu pengolahan energi yang beretujuan meningkatkan efisiensi energi dan juga mencari sumber energi yang terbarukan seperti air, angin, surya dan lain-lain.Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) merupakan salah satu energi listrik alternatif yang mempunyai beberapa kelebihan diantaranya tidak memakai bahan bakar dan sumber energi didapat dengan gratis. Menurut Larasakti (2012:245) jadi pada prinsipnya dimana ada air mengalir dengan ketinggian minimal 2,5 meter dengan debit 250 liter/detik, maka disitu ada energi listrik.Pada Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) PT Astra Honda Motor menggunakan generator dengan output 1100 watt serta sumber energi memanfaatkan aliran sirkulas air cooling tower dengan debit 2000 lpm serta head total 7 meter. Berdasarkan data tersebut didapatkan potensi energi sebesar 1152,82 watt. Pada aktualnya PLTMH menghasilkan energi sebesar 950,4 watt. Berdasarkan data tersebut dapat kita simpulkan bahwa PLTMH tersebut hanya menghasilkan 83,16% dari kapasitasnya.
Analisis Kebutuhan Motor Listrik Untuk Meningkatkan Efisiensi Waktu Tunggu Elevator Deni Almanda; Ilham Taqwa Ramadhan
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 4, No 2 (2021): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/resistor.4.2.91-96

Abstract

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta banyaknya Gedung bertingkat pada zaman sekarang ini, mengakibatkan alat transportasi vertikal atau yang biasa dikenal dengan nama elevator/lift sangat dibutuhkan sebagai sarana transportasi pada Gedung bertingkat. Elevator atau lift digunakan untuk mengefisiensikan waktu, jarak tempuh, dan tenaga bagi pengguna untuk menuju setiap lantai dalam gedung. Penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain study literature, observasi, interview. Speed lift ditentukan berdasarkan waktu tunggu lift yang dibutuhkan pada Gedung bertingkat dan mengacu pada data SNI, sehingga diharapkan akan mempermudah dalam menganalisisnya. Dari hasil analisis untuk meningkatkan efisiensi waktu tunggu lift perlu menghitung ulang kebutuhan motor listrik yang digunakan, karena motor listrik sebagai mesin utama penggerak lift dan alat pengangkut beban sehingga besarnya daya motor listrik akan sangat mempengaruhi kapasitas orang yang di angkut dan waktu tempuhnya. Dengan speed lift yang disarankan 4 m/s akan mempersingkat waktu tunggu lift sebesar 12%, waktu perjalanan bolak-balik 11%, meningkatnya daya angkut 13% dan membutuhkan kapasitas daya motor listrik sebesar 39,5 kW.The development of science and technology as well as the number of high-rise buildings in this day and age, resulted in vertical transportation equipment or commonly known as elevators / elevators are needed as a means of transportation in high-rise buildings. Elevators or lifts are used to streamline the time, distance, and energy for users to get to each floor in the building. This study uses several methods including literature study, observation, interviews. The lift speed is determined based on the waiting time for the lift required in a multi-storey building and refers to SNI data, so it is hoped that it will make it easier to analyze it. From the results of the analysis to improve the efficiency of the elevator waiting time, it is necessary to recalculate the need for the electric motor used, because the electric motor is the main engine driving the elevator and the load-carrying tool so that the magnitude of the electric motor power will greatly affect the capacity of the people being transported and the travel time. With the recommended speed lift of 4 m/s, it will shorten the lift waiting time by 12%, the round trip time by 11%, the increase in carrying capacity by 13% and requires an electric motor power capacity of 39.5 kW.
Perbandingan Sistem Pendingin pada Konsentrasi Water Coolant, Air Mineral, dan Air Laut Menggunakan Panel Surya Fleksibel Monocrystaline 20 Wp Deni Almanda; Budiman Putra Piliang
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 2, No 2 (2019): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.213 KB) | DOI: 10.24853/resistor.2.2.73-82

Abstract

Energi matahari dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang potensial, terutama dilihat dari sumbernya yang memancarkan energi yang sangat besar serta waktunya yang panjang. Selain itu diharapkan energi matahari dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik yang ramah lingkungan, sehingga apabila energi ini dapat dikelola dengan baik, diharapkan kebutuhan masyarakat akan energi dapat terpenuhi. Panel surya bisa ditingkatkan efisiensinya dengan cara menambahkan reflektor atau konsentrator. Reflektror atau konsentrator pada panel sel surya berbentuk seperti cermin yang difungsikan sebagai pemantul dan pemfokus cahaya matahari ke panel sel surya. Pemantulan cahaya Pemantulan cahaya matahari ini akan membuat intensitas cahaya matahari lebih terkonsentrasi pada panel sel surya sehingga energi listrik yang di keluarkan panel sel surya menjadi semakin besar. Peningkatan daya keluaran pada panel sel surya ini akan meningkat menjadi sekitar 46%. Dari hasil pengujian dan analisa dengan simulasi pencahayaan matahari langsung pada Panel Surya Fleksibel dengan sudut 0 derajat menggunakan Sistem Pendingin Water Coolant, Air Mineral, Air Laut didapatkan efisiensi sebesar 15.41%, sedangkan menggunakan system pendingin Air Mineral sebesar 14.45%, dan menggunakan system pendingin Air Laut Sebesar 13.50%. Pengujian Efisiensi Panel Surya Fleksibel pada Sudut 25 Derajat pada penyinaran matahari langsung menggunakan system pendingin Water Coolant sebesar 14.74%, sedangkan menggunakan system pendingin Air Mineal sebesar 14.01%, dan menggunakan system pendingin Air Laut sebesar 13.06%
Analisis Pengujian Tangen Delta Pada Bushing Trafo 150/20 Kv 60 Mva Di Gardu Induk Karet Lama Deni Almanda; Ardiansyah Ardiansyah
RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer) Vol 5, No 2 (2022): RESISTOR (Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/resistor.5.2.97-102

Abstract

ABSTRAKTransformator daya merupakan peralatan penting dalam sistem tenaga listrik. Terdapat komponen utama yang perlu mendapatkan perhatian khusus pada transformator yaitu bushing. Bushing merupakan sarana penghubung antara belitan dengan jaringan luar. Untuk mengetahui kondisi bushing transformator dapat diketahui  Pemburukan atau kegagalan isolasi buhing dapat menyebabkan kegagalan operasi bahkan kerusakan pada transformator. Metode untuk mengetahui kondisi bushing yaitu menggunakan metode pengujian tangen delta dimana pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi isolasi yakni kondisi isolasi pada C1 (isolasi antara konduktor dengan center tap) yang menggambarkan kondisi isolasi kertas bushing. Berdasarkan hasil pengujian tangen delta  bushing trafo dan pembuktian hasil uji menggunakan rumus perhitungan tangen delta bushing trafo diperoleh bushing transformator phasa s di Gardu Induk Karet Lama sudah tidak layak beroperasi, hasil uji 1,32%. Mengacu pada standar hasil uji tangen delta bushing transformator, yaitu SKDIR520 PT PLN (IEC 60137 – DF tan δ) batas nilai tangen delta melebihi 1%, maka bushing transformator dikatakan dalam kondisi buruk sehingga perlu dilakukan penggantian. Terdapat kecenderungan penurunan kondisi bushing yang memburuk dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. ,Atas dasar itulah dilakukan penggantian bushing transformator tenaga sisi primer fasa S di Gardu Induk Lama. Setelah dilakukan penggantian bushing didapatkan nilai tangen delta atau dissipation factor (faktor disipasi) sebesar 0,29% yang menunjukkan bahwa bushing dalam kondisi baik dan dapat dioperasikan kembali. Kata Kunci : Transformator, Bushing, Tangen DeltaABSTRACTThe power transformer is an important piece of equipment in the electric power system. There is a main component that needs special attention on the transformer, namely the bushing. Bushing is a means of connecting the winding with the external network. To determine the condition of the transformer bushing, it can be seen Deterioration or failure of buhing insulation can cause operation failure and even damage to the transformer. The method to determine the condition of the bushing is using the tangent delta test method where this test aims to determine the condition of the insulation, namely the insulation condition at C1 (insulation between the conductor and the center tap) which describes the condition of the bushing paper insulation. Based on the test results of the tangent delta bushing of the transformer and the proof of the test results using the formula for calculating the tangent delta bushing of the transformer, it is found that the s-phase transformer bushing at the Old Karet Substation is no longer feasible to operate, the test result is 1.32%. Referring to the standard results of the transformer bushing tangent delta test, namely SKDIR520 PT PLN (IEC 60137 – DF tan ) the limit value of the delta tangent exceeds 1%, the transformer bushing is said to be in bad condition so it needs to be replaced. There is a downward trend in bushing conditions that have worsened in the last three years. On this basis, the bushing of the primary side of the S-phase power transformer was replaced at the Old Substation. After replacing the bushing, the tangent delta value or dissipation factor is 0.29% which indicates that the bushing is in good condition and can be operated again Keywords : Transformer, Bushing, Tangent Delta