Sri Rumiati
STKIP Arrahmaniyah

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perilaku Politik Elite Nahdlatul Ulama dan Implikasinya terhadap Pemilih Nahdliyin pada Pilpres 2024 di Kota Depok Udoh Mafudoh; Mohamad Abduh; Sri Rumiati
Jurnal Citizenship Virtues Vol. 6 No. 1 (2026): Transformasi Nilai Kewargaan, Karakter, dan Praktik Sosial dalam Dinamika Pendi
Publisher : LPPM STKIP Kusuma Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37640/jcv.v6i1.2746

Abstract

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia memiliki pengaruh sosial dan politik yang signifikan, terutama melalui peran elite keagamaannya di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika dan perilaku politik elite NU serta implikasinya terhadap perilaku pemilih nahdliyin pada Pemilihan Presiden 2024 di Kecamatan Cipayung Kota Depok. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari elite NU struktural, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang dipilih melalui purposive dan snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku politik elite NU pada Pilpres 2024 bersifat cair, plural, dan tidak monolitik. Secara organisatoris NU tetap berpegang pada khittah sebagai organisasi sosial-keagamaan, namun secara personal elite NU terlibat dalam politik elektoral melalui dukungan informal, jaringan politik kandidat, legitimasi simbolik keagamaan, serta pemanfaatan media digital. Fragmentasi sikap politik elite NU berimplikasi pada perilaku pemilih nahdliyin yang semakin rasional dan mandiri, khususnya di wilayah urban. Elite NU tidak lagi menjadi penentu tunggal pilihan politik, melainkan berperan sebagai referensi moral dalam pembentukan preferensi politik masyarakat.
Pengembangan Bahan Ajar PPKn Berbasis Digital: Kelayakan dan Peningkatan Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila pada Peserta Didik Sekolah Menengah Maylisa Pujiana; Mohamad Abduh; Mohamad Sutisna; Sri Rumiati; Asako Sadira P
Jurnal Citizenship Virtues Vol. 6 No. 2 (2026): Kewarganegaraan, Ketahanan Nasional, dan Inovasi Pendidikan di Era Transformasi
Publisher : LPPM STKIP Kusuma Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37640/jcv.v6i2.2897

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) berbasis digital, menilai kelayakan produk, serta menganalisis peningkatan pemahaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik sekolah menengah setelah penggunaan bahan ajar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Produk dikembangkan dalam bentuk bahan ajar digital yang mengintegrasikan materi nilai-nilai Pancasila, multimedia, studi kasus kewarganegaraan, aktivitas analitis-reflektif, dan evaluasi interaktif. Kelayakan produk dinilai melalui validasi ahli materi dan ahli media, sedangkan perubahan pemahaman peserta didik dianalisis menggunakan desain one-group pretest–posttest dan paired-samples t-test. Hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar memperoleh skor 95,0% dari ahli materi dan 91,6% dari ahli media, yang keduanya berada pada kategori sangat layak. Skor rata-rata pemahaman nilai-nilai Pancasila meningkat dari 73,29 pada pretest menjadi 81,79 pada posttest, atau meningkat sebesar 8,50 poin. Hasil paired-samples t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah penggunaan bahan ajar (p < 0,001). Temuan tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar PPKn berbasis digital yang dikembangkan layak digunakan dan diikuti oleh peningkatan pemahaman nilai-nilai Pancasila pada peserta didik sekolah menengah. Namun, karena penelitian menggunakan satu kelompok tanpa kelompok pembanding, peningkatan yang ditemukan ditafsirkan sebagai perubahan yang teramati setelah penggunaan produk dan bukan sebagai bukti kausalitas tunggal.