Samsuddin Samsuddin
Jurusan Agribisnis, Univerisitas Tomakaka Mamuju

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS KEUNGGULAN BERSAING SECARA KOMPARATIF DAN KOMPETITIF KOMODITAS KAKAO DI PROVINSI SULAWESI BARAT Samsuddin Samsuddin
Perbal : Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.652 KB) | DOI: 10.30605/perbal.v9i1.1566

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis tingkat keunggulan bersaing komoditas kakao secara komparatif (Comparative Advantage) di Provinsi Sulawesi Barat. 2) menganalisis tingkat keunggulan bersaing komoditas kakao secara kompetitif (Competitive Advantage) di Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Polewali Mandar Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju. Pemilihan lokasi didasari pada potensi sumber daya perkebunan sentra penghasil biji kakao di Provinsi Sulawesi Barat. Adapun responden yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan secara purpossive sampling dengan pertimbangan sampel merupakan key informan yang dapat memberikan data yang diperlukan. Data yang diperoleh dianalisis dan disajikan secara diskriptif kualitatif. Jumlah sampel adalah 70 orang, terdiri dari 45 petani kakao, diambil dari 15 orang setiap kabupaten, 5 orang pedagang kecil, 5 orang pedangan besar, 5 pedagang besar di kabupaten, seperti BT. Cocoa dan Tanamas Celebes Indah (TMCI) PT. Olam, PT. Bumisurya dan 5 Orang dari Instansi pemerintah dan lembaga-lembaga yang terkait dengan topik penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif untuk melihat sektor potensi basis keunggulan dan non basis, digunakan analisis Locational Qoutient (LQ) untuk mengukur angka indikator keunggulan bersaing komoditi kakao Provinsi Sulbar, berdasarkan angkatan kerja dan luas lahan di sektor perkebunan kakao di bandingkan dengan angkatan kerja secara nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis Locational Qoutient (LQ) sejak lima tahun terakhir tepatnya pada tahun 2014-2018, nilai LQ > 1 atau mencapai 7,00 pada tahun 2014 merupakan nilai LQ terendah dan cenderung mengalami peningkatan hingga pada tahun 2018 mencapai 11,0. Namun secara umum sejak lima tahun terakhir memiliki nilai LQ > 1 atau rata-rata mencapai 9,2 pada angkatan tenaga kerja di sektor perkebunan kakao di Provinsi Sulawesi Barat sehingga memiliki keunggulan atau basis keunggulan secara komparartif. Sementara hasil analisis Locational Qoutient (LQ) berdasarkan luas lahan kakao Provinsi Sulawesi Barat dengan perbandingan luas lahan kakao area Sulawesi mengambarkan bahwa pada tahun 2016 sampai tahun 2018 Provinsi Sulawesi Barat memiliki basis keunggulan komparatif, hal tersebut berdasarkan nilai LQ > 1, yaitu mencapai 1,0 pada tahun 2016 samapai 2018. Sedangkan kakao Provinsi Sulawesi Barat belum memiliki keunggulan kompetitif, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan (SDM) petani 40 persen berpendidikan SD, akses bantuan pupuk SDA masih lemah 19 persen petani megandalkan bantuan atau subsisdi pupuk, akses dan keterbatasan permodal 60 persen petani mengandalkan akses permodalan melalui pinjaman pedagang pengumpul (tengkulak) dan transmisi harga juga belum kompetitif.