Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Stunting Pada Anak Usia Dini Erik Erik
Etos : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2020): Etos : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : IAI Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/etos.v2i1.208

Abstract

Malnutrition and stunting are two interrelated problems. Stunting in children is the result of nutrient deficiency during the first thousand days of life. This causes irreversible disturbances in the physical development of the child, causing a decrease in work performance. Stunted children had a mean Intelligence Quotient (IQ) score, eleven points lower than the average IQ score in normal children. Disorders of growth and development in children due to malnutrition if they do not get intervention from an early age will continue into adulthood. The research method used is a phenomenological qualitative method. Researchers will examine cases of stunting in Mirat Village, Lewimunding District, Majalengka Regency. Sample 2 children who were stunted in Mirat Village, Lewimundin District. Research data source UPTD Puskesmas Lewimunding District. Based on the results of researchers' interviews with nutritionists and environmental health workers (Kesling), as well as observations of two stunted children as well as interviews with parents, it was found that the factors that influence stunting are as follows: a diet that does not fulfill a balanced nutrition during the pregnancy process. and after the baby is born, the child's diet from birth to two years of age, exclusive breastfeeding for less than 6 months, complementary feeding (complementary feeding) too early (less than six months), improper parenting (often yelling at children, less close to children, taking actions that make children away from their parents), poor environmental sanitation, not introducing toilet training to children early on, and genetics does not have a significant role in the incidence of stunting Abstrak Kurang gizi dan stunting merupakan dua masalah yang saling berhubungan. Stunting pada anak merupakan dampak dari defisiensi nutrient selama seribu hari pertama kehidupan. Hal ini menimbulkan gangguan perkembangan fisik anak yang irreversible, sehingga menyebabkan penurunan performa kerja. Anak stunting memiliki rerata skor Intelligence Quotient (IQ) sebelas poin lebih rendah dibandingkan rerata skor IQ pada anak normal. Gangguan tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan gizi bila tidak mendapatkan intervensi sejak dini akan berlanjut hingga dewasa. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif fenomenologi. Peneliti akan meneliti kasus stunting di Desa Mirat Kecamatan Lewimunding Kabupaten Majalengka. Sampel 2 anak yang mengalami stunting di Desa Mirat Kecamatan Lewimundin. Sumber data Penelitian UPTD Puskesmas Kecamatan Lewimunding. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ahli gizi dan petugas kesehatan lingkungan (kesling), serta dilakukan pula observasi kepada dua anak stunting juga wawancara kepada orangtua, ditemukan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi stunting ialah sebagai berikut: pola makan yang tidak memenuhi gizi seimbang selama proses kehamilan dan setelah bayi lahir, pola makan anak sejak lahir sampai usia dua tahun, pemberian ASI eksklusif yang kurang dari 6 bulan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) terlalu dini (kurang dari enam bulan), pengasuhan orangtua yang kurang tepat (sering membentak anak, kurang dekat dengan anak, melakukan tindakan yang membuat anak menjauh dari orangtua), sanitasi lingkungan yang kurang baik, tidak mengenalkan toilet training kepada anak sejak dini, dan genetic tidak memiliki peran signifikan terhadap kejadian stunting
Efektivitas Bermain Playdough dalam Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan Kelompok A RA An-Najah Cantilan Desa Karangmangu Kecamatan Susukan Lebak Kabupaten Cirebon Siti Nurul Badriah; Erik Erik; Ulfah Amini
Hadlonah: Jurnal Pendidikan dan Pengasuhan Anak Vol 3 No 1 (2022): Hadlonah : Jurnal Pendidikan dan Pengasuhan Anak
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah UI BBC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas efektifitas pelaksanaan bermain playdough dalam meningkatkan kemampuan mengenal lambang bilangan kelompok A RA An-Najah Cantilan Desa Karangmangu Kecamatan Susukan Lebak Kabupaten Cirebon. Kajiannya dilatar belakangi oleh Pemahaman anak tentang Lambang Bilangan masih rendah dan belum sepenuhnya dimengerti oleh anak, ini dapat dilihat dari hasil pengamatan bahwa melalui kegiatan berhitung 1-10 dan pada saat anak menuliskan angka misalnya anak menuliskan angka 1-10 tetapi tidak berurutan seperti satu, tiga, empat, tujuh, enam, lima, delapan, sembilan, sepuluh. Anak hanya mampu menyebutkan angka 1-10 tetapi belum tahu bagaimana penulisan angka khususnya angka 2 ke atas, belum mampu mencocokan jumlah benda sesuai dengan lambang bilangannya. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui seberapa besar perbedaan kemampuan mengenal lambang bilangan sebelum dan sesudah bermain playdough kelompok A RA AN-NAJAH Cantilan Desa Karangmangu Kecamatan Susukanlebak Kab. Cirebon. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan menggunakan metode eksperimen. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner atau angket untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan bermain playdough (X) dan dokumentasi untuk mendapatkan data tentang kemampuan mengenal lambang bilangan (Y). Penelitian ini merupakan penelitian populasi, karena mengambil seluruh Anak Kelompok A di RA AN-NAJAH Cantilan Desa Karangmangu Kecamatan Susukanlebak Kab. Cirebon dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 20 responden. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi satu prediktor dan dua variabel yang ada yaitu variabel X (Bermain Playdough) dan variabel Y (kemampuan mengenal lambang bilangan). Kemudian data penelitian dari kedua variabel tersebut diolah untuk mengetahui dan menjawab permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Setelah melakukan uji instrumen kemudian peneliti menyebarkan angket untuk memperoleh data X dan Y. Selanjutnya, dari perhitungan statistik berdasarkan hasil penelitian diketahui nilai thitung = 33,909 nilai tersebut didapat dari nilai ttabel didapat ttabel sebesar 2,093 Berdasarkan ketentuan jika thitung 33,909 > 2,093 ttabel maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa thtung 33,909 > 2,093 ttabel yang artinya bahwa Ho (Hipotesis nihil) ditolak, artinya terdapat perbedaan kemampuan mengenal lambang bilangan anak sebelum dan sesudah bermain playdough. Penerapan bermain playdough diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi murid di sekolah. Dengan adanya bermain playdough ini, diharapkan murid akan merubah cara belajar dari belajar pasif menjadi belajar aktif. Penelitian ini, diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi kegiatan belajar mengajar di sekolah khususnya di di RA AN-NAJAH Cantilan Desa Karangmangu Kecamatan Susukanlebak Kab. Cirebon, terutama dalam memberi dorongan kepada anak untuk senantiasa meningkatkan motivasi berprestasi secara lebih memadai.
Efektivitas Penggunaan Media Busy Book Flanel Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 3-4 Tahun KB Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Cirebon Erik Erik; Carniyati Carniyati
Hadlonah: Jurnal Pendidikan dan Pengasuhan Anak Vol 3 No 1 (2022): Hadlonah : Jurnal Pendidikan dan Pengasuhan Anak
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah UI BBC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas “Efektivitas Penggunaan Media Busy Book Flanel Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 3-4 Tahun KB Al Irsyad Al Islmaiyyah Kota Cirebon”. Kajiannya dilatarbelakangi berdasarkan pengamatan peneliti bahwa peserta didik masih banyak mengalami kesulitan dalam kemampuan motorik halus, terbukti ketika menyelesaikan kegiatan anak masih mengandalkan orang tua dan guru di sekolah. Terkait dengan permasalahan tersebut, perlu adanya peningkatan kembali perkembangan motorik halus pada anak. Busy book flanel sebagai media diharapkan dapat memberikan solusi untuk meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak. Anak-anak mampu menggerakkan jari-jarinya dengan baik dan mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan melalui aktivitas menggunakan media busy book flanel. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kemampuan motorik halus anak usia 3-4 tahun di KB Al Irsyad Al Islamiyyah sebelum dan sesudah menggunakan media busy book flanel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dengan desain penelitian pre ekperimental tipe one group pretest- posttest design (menggambarkan perbandingan keadaan sebelum dan sesudah diberi perlakuan). Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kisi-kisi instrumen observasi dan dokumentasi. Sampel yang digunakan adalah sampel jenuh, yaitu mengambil seluruh anak usia 3-4 tahun KB Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Cirebon Tahun Pelajaran 2021/2022 sebanyak 15 responden. Data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan uji-t. Uji signifikansi dengan membandingkan thitung dan ttabel. tingkat signifikansi adalah 5%. Analisis hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 31,18 kemudian dibandingkan dengan nilai ttabel sebesar 2,145 terlihat bahwa thitung>ttabel yaitu 31,18>2,145, maka tolak H0 dan terima Ha yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan penggunaan media busy book flanel terhadap kemampuan motorik halus anak usia 3-4 tahun di KB Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Cirebon. Analisis juga dilakukan dengan menggunakan uji gain yang dihitung dengan menggunakan interpretasi gain ternormalisasi menurut klasifikasi Meltzer termasuk kategori tinggi dengan nilai 0,71. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keefektifan media busy book flanel terhadap peningkatan keterampilan motorik halus adalah signifikan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam kegiatan pembelajaran KB Al Irsyad Al Islamiyyah di Kota Cirebon untuk meningkatkan kemampuan motorik halus peserta didiknya