Yayah Nurmaliyah
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MERETAS JALAN PEMBEBASAN (Telaah atas Konsep Khudi menurut Sir Muhammad Iqbal) Yayah Nurmaliyah
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.81

Abstract

Peradaban dunia dalam catatan sejarah pernah menempatkan umat Islam di posisi terdepan dalam peradaban manusia. Belakangan sebuah kenyataan juga tidak terbantahkan ketika umat Islam harus mengakui keunggulan komunitas lain dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai upaya mengembalikan kejayaan masa lalu, Muhammad Iqbal menyeru umat Islam untuk tidak terbuai dengan kegemilangan atau romantika masa lalu dan melarang untuk taqlid buta pada pemikiran masa lalu yang mengakibatkan hilangnya kreasi dan inovasi dalam menghadapi realitas perkembangan zaman. Muhammad Iqbal juga menyeru umat Islam untuk tidak bersikap apriori terhadap Barat, sebaliknya dapat memanfaatkannya dan meresponsnya dengan kritis. Hal ini disebabkan Muhammad Iqbal cukup lama mengikuti pendidikan di Barat yang dipenuhi oleh semangat penelaahan dan penelitian ilmu pengetahuan yang tinggi, sehingga ia dengan jelas melihat dan merasakan langsung bergantinya aktifitas ilmiyah dari Timur ke Barat. Hal ini cukup membuatnya kagum dan menginginkan umat Islam untuk mengikuti semangat Barat dalam melakukan kajian-kajian ilmiyah yang notebene pernah dilakukan sebelumnya. Kendatipun demikian, Muhammad Iqbal juga menyadari bahwa faktor tersebut tidak akan bermanfaat apa-apa apabila umat Islam sendiri tidak memiliki semangat dan kemauan untuk berobah. Keadaan umat Islam dewasa ini disebabkan oleh faktor; internal dan eksternal, sehingga kedua faktor itu harus dibenahi demi mengembalikan kecemerlangan masa lalu. Dengan mengutip QS. Al-Ra’d ayat 11, Muhammad Iqbal mencoba mengembangkan gagasannya mengenai khudi bagi kebangkitan umat. Menurutnya moralitas suatu bangsa ditentukan oleh pandangannya mengenai khudi ini, dan segala sesuatu di alam ini memiliki khudinya sendiri-sendiri. Setiap khudi akan bergerak maju sehingga mencapai titik perkembangan kesempurnaannya.