Farida Ariyani
Balai Besar Penelitian Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Sensori Dengan Metode Demerit Point ScoreTerhadap Penurunan Kesegaran Ikan Nila Selama Pengesan Farida Ariyani; Dwiyitno Dwiyitno
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i2.418

Abstract

Kajian sensori dengan metode demerit point scoreterhadap penurunan kesegaran ikan nila (Oreochromis niloticus) selama pengesan telah dilakukan. Kajian dilakukan dengan mematikan ikan nila hidup secara hypothermia, dan ikan yang telah mati disusun dalam kotak berinsulasi yang berisi es dengan perbandingan es : ikan = 2:1 (b/b), selanjutnya kotak disimpan pada suhu ruang dan setiap hari dilakukan penggantian es yang mencair. Pengamatan terhadap kemunduran mutu ikan dilakukan secara sensori setiap 3 hari dengan metode scoring yang didasarkan pada Demerit Point Score/DPS untuk ikan mentah dengan parameter kenampakan, mata, insang, perut, anus, dan rongga perut menggunakan skala 0–3. Pengamatan juga dilakukan terhadap ikan matang dengan parameter bau, rasa, dan tekstur menggunakan skala 0–10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila segar dapat disimpan sampai 15 hari dan setelah 18 hari sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Pada penyimpanan 18 hari, nilai DPS ikan mentah adalah 25,9 sedangkan nilai penerimaan nila matang adalah 5,7. Parameter yang cepat mengalami penurunan nilai selama penyimpanan adalah kenampakan, mata, insang, dan rongga perut, sedangkan penurunan nilai parameter anus dan kondisi perut berjalan lebih lambat, bahkan untuk atribut kondisi kulit dan lendir permukaan pada parameter kenampakan umum dan kondisi anus pada parameter anus tidak berkorelas i pos itif dengan waktu penyimpanan. Pada saat ditolak, kondisi ikan telah kusam, sisik mudah lepas, mata berkabut, warna insang pudar dengan lender tebal dan berbau agak basi, rongga perut kuning kecoklatan dan warna darah coklat, bau ikan matang asam agak basi dan rasa ikan amis agak asam. Peningkatan DPS maupun penurunan nilai penerimaan nila kukus berkorelasi positif dengan peningkatan waktu penyimpanan dengan koefisien korelasi (R) masing-masing 0,97 dan 0,93
Penggunaan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) sebagai Pengawet Pindang Tongkol Farida Ariyani; Jovita Tri Murtini; Tuti Hartati Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.424

Abstract

Penelitian aplikasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) untuk menghambat kemunduran mutu pindang tongkol (Scomber australasicus CV) telah dilakukan. Pada penelitian ini digunakan 4 konsentrasi ekstrak daun jambu (0, 3, 6, dan 9%) sebagai larutan perebus pada pengolahan pindang tongkol. Perubahan mutu ikan pindang diamati setiap 24 jam secara organoleptik, kimia (TVB, TBA) dan mikrobiologi (TPC, kapang), sedangkan pengamatan terhadap perubahan asam lemak dilakukan pada ikan pindang dengan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun jambu sebagai larutan perebus pada pemindangan ikan tongkol mampu menghambat peningkatan kadar TBA dan menekan oksidasi asam lemak tidak jenuh, tetapi tidak mampu menghambat peningkatan kadar TVB dan pertumbuhan mikroorganisme selama penyimpanan pada suhu ruang. Meskipun penggunaan ekstrak daun jambu menyebabkan warna pindang cenderung menjadi lebih gelap (kecoklatan), pindang tongkol yang direbus dengan ekstrak daun jambu mempunyai intensitas bau dan rasa tengik yang sangat rendah dan tekstur yang lebih baik bila disbanding kontrol. Perlakuan ekstrak daun jambu yang paling efektif sebagai pengawet pindang tongkol dengan nilai sensori terbaik adalah perlakuan ekstrak daun jambu pada konsentrasi 9%.
Uji Toksisitas Sub Kronik Spirulina platensis secara In-vivo Jovita Tri Murtini; Radestya Triwibowo; Nandang Priyanto; Ninoek Indriati; Farida Ariyani
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i2.416

Abstract

Penelitian toksisitas subkronik Spirulina platensis secara in-vivo telah dilakukan. Spirulina spp. merupakan sumber protein nabati yang cukup tinggi sehingga pada umumnya dimanfaatkan sebagai suplemen makanan. Spirulina platensis dalam bentuk tablet dan kapsul telah dihasilkan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, maka perlu dilakukan uji keamanannya bagi konsumen. Uji toksisitas sub-kronik Spirulina platensisdilakukan secara bioassaymenggunakan mencit jantan (Mus musculus L.) dari galur DDY, umur 2-3 bulan dengan bobot 20–30 g/ekor. Pemberian bahan uji (bubuk Spirulinakering disuspensikan dalam larutan 0,5% CMC-N a) dilakukan secara oral selama 4 minggu, selanjutnya dilakukan masa pemulihan selama 2 minggu dan setiap 2 minggu dilakukan pengambilan darah dan organ (hati, ginjal, dan lambung). Dibuat 4 kelompok perlakuan yaitu control negatif (0,5% CMC-Na sebesar 0,8 mL), dosis I (2,6 mg Spirulina/20 g bb mencit), dosis II (5,2 mg Spirulina/20 g bb mencit), dan kelompok dosis III (10,4 mg Spirulina/20 g bb mencit). Parameter yang diamati adalah kandungan GOT (Glutamic Oxaloacetic Trans aminase), GPT (Glutamic Piruvate Transaminase), kreatinin, dan albumin. Hasil analisis kandungan GOT dan, GPT, kreatinin, dan albumin mencit selama perlakuan masih dalam batas normal. Hasil analisis statistik semua parameter tidak berbeda nyata pada variasi dosis, kecuali pada dosis II, namun semua nilai masih dalam rentang nilai normal untuk mencit sehat. Pengamatan secara histopatologi menunjukkan bahwa pada kontrol dan dosis I tidak terjadi kerusakan yang berat pada hati, ginjal, dan lambung, sedangkan pada perlakuan dosis II dan III terjadi kerusakan ringan pada organ hati dan ginjal ditandai dengan adanya pengkerutan buluh darah, degenerasi sel hati; nekrosis pada sel tubulus, dan adanya endapan protein pada glomerulus ginjal, tetapi tidak terjadi kerusakan pada lambung.