Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Karakteristik Pengeringan Rumput Laut Ulva sp. dan Sargassum sp. Dwi Joko Prasetyo; Tri Hadi Jatmiko; Crescentiana Dewi Poeloengasih
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v13i1.515

Abstract

AbstrakDalam penelitian ini karakteristik pengeringan dari rumput laut Ulva sp. dan Sargassum sp. telah dipelajari. Proses pengeringan dilakukan pada kondisi variasi suhu 40, 50, dan 60 °C di dalam alat pengering laboratorium. Laju pengeringan dievaluasi dengan empat model pengeringan lapis tipis, yakni Newton, Page, Two-Term, dan Midilli. Model yang paling sesuai ditentukan dari nilai sum square error (SSE) dan root mean square error (RMSE) terendah, serta nilai r tertinggi. Laju pengeringan kedua rumput laut memperlihatkan adanya periode laju pengeringan menurun dan tidak ada periode laju pengeringan konstan pada pengeringan Ulva sp. dan Sargassum sp. Hasil menunjukkan bahwa laju pengeringan meningkat seiring peningkatan kadar air dan suhu, dan laju pengeringan menurun seiring dengan berjalannya waktu. Laju pengeringan tertinggi diperoleh pada suhu 60 °C untuk Ulva sp. dan Sargassum sp. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model Midilli memiliki nilai SSE dan RMSE terendah, serta nilai r tertinggi. Berdasarkan hasil tersebut model Midilli merupakan model yang paling sesuai untuk menggambarkan laju pengeringan Ulva sp. dan Sargassum sp. Drying Characteristics of Ulva sp. and  Sargassum sp. SeaweedsAbstractIn this project drying characteristic of Ulva sp. and Sargassum sp. were studied. Drying process was conducted using laboratory scale dryer at various temperatures (40, 50, and 60 °C). Four different thin layer drying models, i.e., Newton, Page, Two-term and Midilli were used to evaluate the drying kinetics. The most appropriate model was determined based on the lowest value of sum square error (SSE) and root mean square error (RMSE), and the highest value of r. There was only decrease period and no constant drying period in drying rate of  Ulva sp. and Sargassum sp. The results showed that drying rate increased as moisture content and temperature increased, while drying rate decreased as drying time increased. The highest drying rate was obtained at 60 °C for  Ulva sp. and  Sargassum sp. The evaluation reveals that Midilli model has the lowest value of SSE and RMSE and the highest value of r at all condition. Based on the results, it was found that Midilli model was the appropriate model to describe the drying rate of  Ulva sp. And Sargassum sp.
Peruraian Anaerobik Termofilik Limbah Vinasse : Pengaruh Zeolit Alam Teraktivasi Asam dan Basa Terhadap Performa Proses Dwi Joko Prasetyo; Wiratni Budhijanto; Rifki Wahyu Kurnianto; Satriyo Krido Wahono
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.2 Desember 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i2.7005

Abstract

Vinasse merupakan limbah produksi bioetanol dengan kadar chemical oxygen demand (COD) tinggi dan dapat diolah melalui peruraian anaerobik untuk menghasilkan biogas. Optimasi proses dapat dilakukan pada kondisi termofilik (55°C) dengan penambahan zeolit alam terkativasi. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efek zeolit alam terkativasi asam dan basa terhadap performa proses peruraian anaerobik termofilik vinasse. Proses aktivasi zeolit alam diawali dengan perendaman selama 24 jam pada larutan asam klorida (HCl) 3 M atau natrium hidroksida (NaOH) 3 M, dilanjutkan pengeringan dan kalsinasi. Selanjutnya zeolit alam tanpa aktivasi (NZ), teraktivasi asam (NZA), dan teraktivasi basa (NZB) ditambahkan pada proses peruraian anaerobik termofilik limbah vinasse secara batch dengan inokulum digested vinasse yang diperoleh dari reaktor skala laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NZB mempercepat puncak produksi gas metana (hari ke9) dibanding NZ (hari ke-12), sedangkan pada NZA tidak terdapat produksi gas metana. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pH cairan. Penambahan NZB menyebabkan pH berada pada kisaran nilai optimum sedangkan NZA menyebabkan hasil sebaliknya. Hasil methane yield NZB juga menunjukkan hasil lebih tinggi yakni 84.37 mL-CH4/g-sCOD removal dibanding NZ 73.94 dan NZA 0.07. Oleh karena itu, direkomendasikan penambahan zeolite teraktivasi basa untuk meningkatkan performa process peruraian anaerobik termofilik limbah vinasse.Kata Kunci: aktivasi zeolit alam, kondisi termofilik, limbah vinasse, peruraian anaerobik