Ondri Dwi Sampurno
Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Jalan Percetakan Negara No. 29 Jakarta 10560

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Griya Sehat di Indonesia Nurhayati Nurhayati; Hadi Siswoyo; Lucie Widowati; Ondri Dwi Sampurno; Delima Delima; Tri Wahyuni Lestari; Sundari Wirasmi; Aris Yulianto; Annisa Rizky Afrilia; Lusitawati Lusitawati; Hadjar Siswantoro; Agus Dwi Harso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2019)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v3i3.2656

Abstract

Abstrak Saat ini pelayanan kesehatan tradisional semakin berkembang maju. Griya sehat merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tradisional (fasyankestrad) komplementer. Di Indonesia, saat ini banyak terdapat fasilitas pelayanan kesehatan tradisional griya sehat, namun tidak semua griya sehat yang ada di masyarakat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran penyelenggaraan fasilitas pelayanan kesehatan tradisional griya sehat yang ada di Indonesia. Disain penelitian ini adalah potong lintang. Sampel penelitian ini adalah fasilitas pelayanan kesehatan tradisional griya sehat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap 21 griya sehat yang dikunjungi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut kepemilikan griya sehat terdapat 7 milik pemerintah dan 14 milik swasta. Menurut perizinan, terdiri dari 3 UPT pusat, 4 UPT daerah, 10 rekomendasi dinas kesehatan, dan 4 griya sehat belum memiliki perizinan. Ada beberapa jenis pelayanan kesehatan tradisional yang diberikan di setiap griya sehat, terdiri dari 16 herbal, 15 akupunktur, 15 akupresur/pijat, 16 lainnya seperti spa, bekam, totok, fisioterapi. Tenaga yang melakukan pelayanan terdiri dari 16 tenaga kesehatan, 11 tenaga kesehatan tradisional. Pengelola dan penanggung jawab pelayanan fasyankestrad terdiri dari 4 tenaga kesehatan tradisional dan 17 tenaga kesehatan dan lainnya. Pendekatan pelayanan terdiri dari 14 promotif, 18 preventif, 21 kuratif, 16 rehabilitatif, dan 2 paliatif. Penyelenggaraan fasyankestrad komplementer griya sehat masih harus dilengkapi, khususnya terkait perizinan, standar sarana prasarana, standar operasional pelayanan, sistem pelaporan dan pengawasan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Perlu dilakukan sosialisasi ketentuan standar fasilitas griya sehat kepada penyelenggara sesuai pedoman kementrian kesehatan, termasuk tentang kebutuhan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan tradisional. Kata kunci: pelayanan kesehatan, tradisional, griya sehat Abstract In recent years, traditional health services are growing forward. Griya Sehat is a complementary traditional health service facility. In Indonesia, there are many traditional health care facilities as griya sehat, but not all are in accordance with the requirements set by the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. The purpose of this study was to describe the implementation of traditional health care facilities as griya sehat in Indonesia. The design of this study is cross-sectional. The sample of this study is a traditional health care facility that meets inclusion and exclusion criteria. The quantitative data was collected through interviews and observation of the infrastructure in 21 visited griya sehat. The results showed that according to ownership there were 7 government-owned and 14 private (individual)-owned. The license was 3 from the central government, 4 from the district government, 10 from the health office, and 4 did not have a license. There are several types of traditional health services provided in griya sehat, consisting of 16 herbs, 15 acupuncture, 15 acupressure/massage, 16 others such as spa, cupping, full-blooded, physiotherapy. The managers and the people in charge were 4 traditional health workers, and 17 were other health workers. The service approach consists of 14 promotive, 18 preventive, 21 curative, 16 rehabilitative, and 2 palliatives. The implementation of a complementary traditional health service facility must still be completed, particularly in relation to the license, infrastructure facilities, standard operating procedures, reporting systems, and supervision by district/city health office. It is necessary to socialize the provisions on the standard for griya sehat facilities to the providers in accordance with the ministry of health guidelines, including the need for education and training for traditional health workers. Keywords: health service, traditional, griya sehat
Gambaran Keamanan Modalitas Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris Keterampilan Sundari Wirasmi; Ondri Dwi Sampurno; Nurhayati Nurhayati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan (Journal of Research and Development in Health Services)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jpppk.v4i1.3690

Abstract

Abstrak Saat ini modalitas ketrampilan banyak digunakan oleh penyehat tradisional (hattra) dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tradisional (yankestrad) empiris. Penyelengaraan modalitas ketrampilan harus terjamin keamananannya karena banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran keamanan modalitas yankestrad empiris keterampilan yang diselenggarakan oleh hattra, baik yang memiliki maupun yang tidak memiliki Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT). Disain penelitian ini adalah potong lintang. Sampel penelitian ini adalah hattra pada Panti Sehat di Tangerang, Jakarta Timur, Bandung, Semarang, Solo, Purwokerto, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Denpasar, Badung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan instrumen penilaian keamanan modalitas pelayanan kesehatan tradisional empiris pada panti sehat dengan nilai cut off aman ≤ 77,76. Informan penelitian adalah hattra pada panti sehat perorangan atau panti sehat berkelompok. Hattra dipilih secara proporsional purposive sampling berdasarkan jenis modalitas yankestrad (keterampilan atau ramuan) dan kepemilikan STPT. Keseluruhan Hattra keterampilan yang terpilih sebagai informan dari 12 Kabupaten/Kota berjumlah 139 hattra. Penilaian Parameter keamanan berdasarkan pada Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) nomor 61 Tahun 2016 tentang yankestrad empiris yang meliputi aspek hattra, cara perawatan dan sarana. Hasil penelitian menunjukkan hattra dengan modalitas keterampilan banyak menggunakan teknik manual baik pada hattra memiliki STPT (82,5%) dan Hattra yang tidak memiliki STPT (93,9%). Gambaran keamanan pada hattra yang menggunakan modalitas ketrampilan dan memiliki STPT menunjukkan tidak semuanya masuk dalam kategori aman; sedangkan pada hattra yang menggunakan modalitas keterampilan dan tidak memiliki STPT menunjukkan ada yang masuk ke dalam kategori aman. Kata kunci: keamanan, pelayanan kesehatan, tradisional, empiris, keterampilan Abstract Currently, the skill modality is widely used by traditional healers (hattra) in empirical traditional health services (yankestrad). The safety of the skill modality must be guaranteed because it is widely used by the community. This study’s aimed to obtain an overview of the safety skill modality of empirical traditional health services held by traditional healers, both those with and without STPT. This study design was cross-sectional. The sample of this study is traditional healers at Panti Sehat in Tangerang, East Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Purwokerto, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Denpasar, Badung which meet the inclusion and exclusion criteria of the study. The data was collected by interviews with observations using an instrument for assessing the safety of empirical traditional health service modalities in Panti sehat with a safe cutoff value of ≤ 77.76. The research informant was a traditional healer in individual or group Panti Sehat. The traditional healer was selected by proportional purposive sampling based on the type of traditional health services modality (skill or ingredient) and STPT ownership. The total number of Hattra modalities of skill selected as informants from 12 cities was 139 skills, traditional healer. Assessment of safety parameters refers to the Minister of Health Regulation (PMK) number 61 of 2016 concerning traditional empirical health services which including aspects of a traditional healer, methods of care, and facilities. The results showed that the most used manual techniques of a traditional healer in traditional health services modality with skills was a traditional healer with STPT (82.5%) and a traditional healer without STPT (93.9%). The safety description on the empirical traditional health services modality of skills by traditional healer skills with STPT shows not all of them fall into the safe category; whereas in the empirical traditional health services modality, skills by traditional healer without STPT are included in the safe category. Keywords: safety, health services, traditional, empirical, skills