Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Analisis Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa M. Azhari Panjaitan; Asmin Panjaitan
Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 1 (2021): Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jfi.v2i1.28655

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem based learning, Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran problem based learning terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa, Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran problem based learning berdasarkan hasil temuan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur (penelitian kepustakaan). Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder berupa hasil penelitian dari jurnal ilmiah, buku, dan skripsi atau tesis. Selanjutnya, data tersebut dianalisis dengan teknik “analisis anotasi bibliografis”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Penerapan model pembelajaran problem based learning yang diajarkan kepada siswa pada saat pembelajaran matematika dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. (2) Terdapat Pengaruh dari model pembelajaran problem based learning terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. (3) Beberapa kelebihan dan kekurangan model pembelajaran problem based learning berdasarkan temuan penelitian,  yaitu dari sisi kelebihannya bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa meningkat setelah pembelajaran dengan model problem based learning, siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, menjadikan siswa mampu mengerjakan soal yang berbeda dari contoh yang diberikan, siswa mampu mencari dengan sendiri, mengalami interaksi antar kelompok dan saling tukar pemikiran secara ilmiah, dan mampu menyelesaikan proses pemecahan masalah. Akan tetapi ada terdapat nilai negatif atau kekurangan dibalik pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah atau kendala yang dialami berupa persiapan pelaksanaan, kurangnya memahami apresiasi guru, jumlah kelompok terlalu banyak, dan keterbatasan waktu dalam pembelajaran
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII SMP Parulian 1 Medan Melalui Model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif Widya Harianja; Asmin Panjaitan
Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 1 (2022): JURNAL FIBONACI: JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jfi.v3i1.35093

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui apakah peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) lebih baik dari peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar melalui pembelajaran biasa, (2) Mendeskripsikan kesalahan jawaban siswa dalam menyelesaikan soal kemampuan pemecahan masalah. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen yang menerapkan dua pembelajaran yaitu model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) dan pembelajaran biasa. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Parulian 1 Medan. Pengambilan sampel dilakukan secara nonprobability sampling, dan diperoleh dua kelas sebagai sampel penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pre-test dan post-test kemampuan pemecahan masalah matematis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji analisis varians satu arah (One Way Anova) berdasarkan n-gain kedua kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Peningkatan kemampuan pemecahan matematis siswa yang mendapatkan model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) lebih baik dari siswa yang mendapatkan pembelajaran biasa, (2) Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa ketika mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kesalahan konseptual, kesalahan prosedural, dan kesalahan teknik
A Systematic Literature Review : the Role of Classical Test Theory and Item Response Theory in Item Analysis to Determine the Quality of Mathematics Tests Hadijah N. I. Siregar; Asmin Panjaitan
Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 2 (2021): Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jfi.v2i2.31056

Abstract

This research aims to: 1) find out the role of Classical Test Theory and Item Response Theory in item analysis, and 2) find out the role of Classical Test Theory and Item Response theory on the previous research results regarding item analysis to determine the quality of mathematics tests. This research is qualitative research that uses Systematic Literature Review (SLR) as a research method. The research data is collected by documentation. The population of this research is all of the articles from the mathematics journal in the Sinta Ristekbrin database. While the sample is the articles that are obtained from screening. From this research, it can be seen that CTT and IRT play an important role in item analysis, both are commonly used theories and each has its own advantages and disadvantages. The selection of theories to be used in item analysis must consider the advantages and disadvantages of each theory. The indicators used in IRT are validity, reliability, parameter a (distinguishing power), parameter b (level of difficulty), and parameter c (false guess). Based on the results of data analysis, it is known that 8 out of 10 articles use indicators of validity, reliability, level of difficulty, and discriminatory power; 7 out of 10 articles used descriptive quantitative methods; all articles tell about the test form used except article 7 (A7) and article 8 (A8); the number of samples taken affects the implementation of each theory; and only 1 in 10 articles, namely article 10 (A10), provides an overall test quality conclusion
Perbedaan Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa yang Diajarkan dengan Model Pembelajaran Tipe Two Stay Two Stray dan Think Pair Share Nita Ernita Simatupang; Asmin Panjaitan
Konstanta : Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 2 No. 3 (2024): September : Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/konstanta.v2i3.3926

Abstract

Based on the observations that have been made, it is shown that students' mathematical communication skills are still relatively low so that an innovative learning model is needed to improve students' mathematical communication skills. This study aims to see whether the improvement in students' mathematical communication skills taught with the Two Stay Two Stray cooperative learning model is higher than the mathematical communication skills of students taught with the Think Pair Share cooperative learning model and to see how the improvement in mathematical communication skills taught with the two models. This study is a study that is included in the quasi-experimental category with a pretest-posttest control group design. The subjects in this study were 62 students in grades VIII-A and VIII-E of SMP Negeri 4 Balige. Based on the research that has been done, the results of the N-Gain test were obtained with an average N-Gain value in experimental class 1, namely 0.813 in accordance with the Gain index criteria in the high category and the average N-Gain value in experimental class 2, namely 0.693 in accordance with the Gain index criteria in the medium category. Based on the research that has been done, because the data is normally distributed and homogeneous, the hypothesis test is carried out using the t-test. Through the t-test that has been done, it was obtained that , namely 2.465>2.000. Therefore is rejected, which means that the increase in mathematical communication skills of students taught with the Two Stay Two Stray cooperative learning model is higher than those taught with the Think Pair Share cooperative learning model.