Muhammad Teguh Saputro
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

WACANA KONFLIK DALAM NOVEL DAWUK: KISAH KELABU DARI LUBUK RANDU KARYA MAHFUD IKWAN Muhammad Teguh Saputro
TELAGA BAHASA Vol 9, No 1 (2021): TELAGA BAHASA VOL.9 NO.1 TAHUN 2021
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v9i1.258

Abstract

Hubungan sastra sebagai produk kebudayaan tidak pernah lepas dengan ilmu sosiologi. Dalam sosiologi klasik yang berkembang di abad XIX, Marx mengeluarkan gagasan tentang kritik sosial terkait klasifikasi strata sosial (kelas) yang menghasilkan sebuah titik kompetisi antar kelas berupa konflik dalam masyarakat. Salah satu novel yang mengambil ide gagasan konflik kelas Marx sebagai pemicu utama dalam segala konflik di alur cerita adalah novel Mahfud Ikhwan berjudul Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu. Novel ini menggunakan gaya bahasa yang unik, meniadakan bias realitas dan fiksionalitas, serta membawa unsur lokalitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif, dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Berdasarkan hasil analisis tampak bahwa novel Dawuk membawa nuansa konflik sosial secara dominan. Di tengah jalannya konflik yang begitu padat ditemukan permasalahan dan perjuangan kelas yang memicu pecahnya konflik sosial dalam masyarakat Rumbuk Randu. Pangkal konflik kelas tersebut menyangkut permasalahan Sinder Harjo sebagai wajah kelas borjuis dengan Mbah Dulawi sebagai wajah kelas proletar dalam masyarakat Rumbuk Randu. Perkara konflik keduanya diakibatkan oleh sistem ekonomi kapitalisme yang terus terjadi.
SUBJEKTIVITAS EKA KURNIAWAN MELALUI NOVEL LELAKI HARIMAU Muhammad Teguh Saputro
TELAGA BAHASA Vol 7, No 1 (2019): TELAGA BAHASA VOL.7 NO.1 TAHUN 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36843/tb.v7i1.63

Abstract

Paradigma humanis dalam kajian sastra memposisikan manusia sebagai pusat. Penelitian ini mengkaji subjektivitas tokoh dan pengarang dalam semesta novel Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan menggunakan teori subjektivitas Slavoj Zizek. Zizek memfokuskan pemikirannya pada tatanan riil dan simbolik dalam kehidupan manusia. Menurutnya, manusia mampu meraih kebebasan dan keotentikan dirinya selama ia bertindak melampaui norma-norma simbolik dan bergerak menuju dimensi riil dalam kehidupannya. Sebaliknya, manusia akan tetap terpenjara dalam dimensi simbolik, selama ia membiarkan dirinya tetap hanyut dalam kesadaran palsu ideologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada upaya radikal yang dilakukan oleh tokoh utama untuk mencapai kondisi riil melalui tindakan sadis dan tak berkeprimanusiaan yang melanggar aspek normatif dalam lingkaran simbolik. Akan tetapi, peristiwa yang dihadapi oleh tokoh tersebut berlawanan dengan diri pengarang sebagai subjek. Pengarang justru tidak menunjukkan adanya upaya radikal dalam kehidupannya sehingga ia tetap berada dalam fantasi ideologis.Kata Kunci:Subjektivitas, Slavoj Zizek, Eka Kurniawan, Tindakan Radikal, Fantasi ideologis. The humanist paradigm in literature study assigns humans as the center. This research examines the subjectivity of the characters and the author in Lelaki Harimau novel by Eka Kurniawan using Slavoj Zizek's theory of subjectivity. Zizek focused his thoughts on the real and symbolic order in human life. According to him, humans are able to achieve freedom and authenticity as long as they act beyond the symbolic norms and move towards the real dimension in their life. On the contrary, humans will remain imprisoned in a symbolic dimension as long as they allowed themselves drifted away on a false consciousness of ideology. This research indicates that there are radical efforts made by the main characters to achieve the real conditions through sadistic and inhumane actions that violate the normative aspects in a symbolic circle. However, the events faced by these characters are opposite to the author as the subject. In fact, the author does not perform any radical efforts in his life so that he remains in ideological fantasies.Keywords: subjectivity, Slavoj Zizek, Eka Kurniawan, radical act, ideological fantasy