Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DILEMA PLURALITAS DAN PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Abdul Wahid
Fitrah Vol 1 No 1 (2009)
Publisher : Prodi PAI STIT Sunan Giri Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47625/fitrah.v1i1.142

Abstract

Kehidupan umat manusia sedari awal telah diciptakan secara beragam oleh Tuhan. Keberagaman di satu sisi merupakan anugrah namun di sisi lain menimbulkan problem dalam kehidupan sosial. Alih-alih menjadi kohesi sosial, pluralitas justru kerap kali melahirkan ekslusifisme yang mengantar pada sikap anarkis. Pendidikan agama yang bercorak fiqih oriented yang kental dengan nuansa apologetik dianggap menjadi akar fundamental yang cenderung menggiring peserta didik untuk menafikan keberadaan pihak lain di luar keberadaannya, idealnya pendidikan agama merupakan mercusuar yang dapat memberikan pencerahan sehingga masyarakat memiliki kearifan dalam melihat pluralitas sebagai sebuah keniscayaan, dengan demikian pendidikan agama dapat berperan sebagai kohesi sosial dalam kerangka pluralitas.
Matinya Kepercayaan Agama Abdul Wahid
Ulumuna Vol 10 No 1 (2006): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v10i1.437

Abstract

Otoritas agama sebagai pembawa kedamaian, keberkahan, dan kesejahteraan bagi umat manusia dewasa ini semakin digugat. Kalangan filosof telah memberi preseden bagi gugatan itu. Agama dianggap tidak lagi sejalan dengan kehidupan modern yang rasionalistik.[1] Nietzche, misalnya, dengan statemen “God is dead”-nya, menggugat agama dan kepercayaan umat manusia sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menolong kehidupan dan karenanya ditinggalkan oleh para penganutnya. Karl Marx melihat agama hanyalah sekumpulan mitos-mitos metafisik yang meninabobokan dan seringkali menjadi alat untuk melegitimasi berbagai praktik penindasan sehingga agama tidak ubahnya candu bagi kehidupan. Pandangan skeptis terhadap agama terus berkembang mengikuti mainstreammodernitas. Agama kemudian dibenturkan dengan rasionalisasi cara pandang terhadap segala aspek kehidupan, dan itu seringkali berakhir dengan keterpojokan posisi agama. Pada tataran filosofis, gugatan terhadap agama terjadi karena agama terkikis sedikit demi sedikit pijakan argumentatifnya oleh serbuan rasionalisme modern. Sementara pada tataran sosiologis, agama digugat karena kehilangan elan vitalnya sebagai entitas pembangunan masyarakat di satu sisi dan keterlibatannya yang intens dalam berbagai praktik penindasan, konflik, dan kekerasan.