Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

STUDI TENTANG PARTISIPASI PESERTA DIDIK KELAS VIII DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PADA SENI BUDAYA TARI DI MADRASAH TSANAWIAH NEGERI KOTA TERNATE Nuraisyah Adam; Hasmawati Hasmawati
Jurnal Geocivic Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.173 KB) | DOI: 10.33387/geocivic.v1i1.855

Abstract

This research is motivated by an activity to foster the talents, interests and skills of students in the school, which are called extracurricular activities in cultural arts and dance. This study aims to determine the form of student participation in extracurricular activities in dance culture, as well as factors that inhibit the participation of students in extracurricular activities in dance culture. This study uses a type of descriptive qualitative research aimed at gaining a general understanding of social reality from a participant's perspective. The technique of collecting data through observation, interviews, and documentation. The data is analyzed using Data Reduction, Data Presentation, and Verification of Data and conclusions scientifically. The results of this study indicate the form of student participation in extracurricular activities in dance culture arts. The number of eighth grade students in the MTs Negeri Kota Ternate Ternate is 219 students. Only 50 students participated in extracurricular activities. This shows that the participation of students in extracurricular activities is very minimal. Because students are less interested and less like extracurricular activities in dance culture. Factors that hinder the participation of students in extracurricular activities in dance culture are mostly male students who feel inferior to participate in extracurricular activities in the field of dance culture, this is due to male students assume that extracurricular activities in dance culture are especially for female students. So that students who take extracurricular activities in the art of dance culture are mostly female students compared to male students. Keywords: extracurricular activities, dance culture, learners, participation 
PENDIDIKAN FORMAL SUKU TOGUTIL DI DESA LILI KECAMATAN MABA UTARA 2019 Hasmawati Hasmawati; Jainudin Abdullah; Desriyanti Sorofoli
Jurnal Geocivic Vol 3, No 1 (2020): Issue April
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v3i1.1265

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi adanya Kondisi pendidikan formal yang belum mengalami perkembangan secara baik, akan tetapi perubahan pola kehidupan masyarakat togutil di Desa Lili sudah berubah, selanjutnya di harapkan kepada pihak pemerintah agar memperhatikan pengembangan pendidikan formal pada  khususnya sehingga masyarakat Suku Togutil dimasa yang akan datang mampu menjawab tantangan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili, (2) untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami Suku Togutil di Desa Lili dalam melanjutkan pendidikan formal. Sedangkan yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili Kecamatan Maba Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan dan mengungkapkan keadaan di sekitarnya, peristiwa sebagaimana adanya atau mengungkapkan fakta secara lebih mendalam mengenai kondisi yang dapat diamati. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer data sekunder dan yang menjadi penelitih adalah tokoh masyarakat, tokoh pendidikan dan pemerintah desa. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum ada pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili sangat kental dengan perasaan takut dan malu terhadap orang yang bukan suku togutil. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Setelah adanya lembaga pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili hidupnya mulai mengalami, perubahan hidup, pola pikir, adat istiadat, kebiasaan, dan taat hukum karena pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili tahun 2019  mengalami perkembangan hal ini di tunjukan bahwa 85 orang anak yang bersekolah di tingkat sekolah dasar (SD), 20 orang anak melanjutkan pendidikan pada lanjut pertama (SLTP) dan melanjutkan pendidikan padah tingkat sekolah menengah atas (SMA) berjumlah 12 orang. Sedangkan kendala-kendala yang dialami masyarakat Suku Togutil dalam melanjutkan pendidikan formalnya yaitu faktor ekonomi yang masih rendah.Kata Kunci: Pendidikan Formal, Suku Togutil, Desa Lili
Urgensi Pendidikan Multikultural untuk Penguatan Karakter Sosial Peserta Didik pada Masyarakat Pesisir Irwan Djumat; Irwan Abbas; Nani I. Rajaloa; Hasmawati Hasmawati; M. Arief Wicaksono
Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNWAHA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/abdimaspen.v7i1.7208

Abstract

The inculcation of multicultural values among the younger generation, particularly students at all levels of education, must continuously be carried out as an effort to protect them from exclusivist attitudes that may hinder the progress and civilization of humankind. One of the parties that plays an important role in disseminating multicultural values is educators and academics. Based on this concern, the lecturer team from the Civic and Pancasila Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Khairun University, conducted a Community Service Program in the form of a Focus Group Discussion (FGD) entitled “The Urgency of Multicultural Education for Strengthening Students’ Social Character in Coastal Communities” at SMA Tododara Maitara Tengah. The activity was implemented using lecture and discussion methods with the aim of equipping students with good character in facing the era of openness and information exchange. The stages of the activity included site observation, coordination with school authorities, implementation, and evaluation. The results showed that the inculcation of multicultural values at SMA Tododara Maitara Tengah was carried out through classroom learning activities across subjects as well as through positive habituation within the school environment. The implementation included encouraging students not to discriminate in choosing friends based on ethnicity, respecting religious holidays, practicing mutual cooperation during disasters or bereavement, cleaning places of worship, and maintaining environmental cleanliness. The recommendations of this activity are: (1) habituation and exemplary behavior should consistently be cultivated by students, teachers, and school leaders; and (2) multicultural education models should adapt to the development of information and technology as instruments that influence students’ character building.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK UNTUK MEMBENTUK KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN DI KELURAHAN KASTELA, KOTA TERNATE BUANG SIRHAN; WAHYUDIN NOE; HASMAWATI HASMAWATI; A. TRI ARWINA DHEAFATI
Jurnal GeoCivic Vol 9 No 1 (2026): GEOCIVIC EDISI APRIL 2026
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v9i1.11552

Abstract

Sampah saat ini merupakan salah satu permasalahan kritis di daerah perkotaaan, salah satunya di Kelurahan Kastela, Kecamatan Ternate Pulau, Kota Ternate. Hal demikian disebabkan oleh pertumbuhan populasi manusia, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi masyarakat yang tidak diiringi dengan pengelolaan sampah yang benar dan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik serta menganalisis faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.) Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik masih tergolong rendah dan bersifat pasif karena sebagian besar warga hanya terlibat dalam kegiatan kebersihan lingkungan namun belum sampai pada tahap pengelolaan sampah organik secara mandiri dan kolektif, dan 2.) Faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik terdiri dari dua faktor, yaitu: a) faktor pendukung karena adanya budaya gotong-royong warga yang masih kuat, dukungan pemerintah setempat, dan ketersediaan sumber daya organik, dan b) faktor penghambatnya karena keterbatasan sarana dan prasarana, rendahnya pengetahuan teknis, kurangnya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah, serta minimnya motivasi ekonomi. Oleh karena itu peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik memerlukan dukungan edukatif, pelatihan berkelanjutan, dan kerja sama antara pemerintah serta masyarakat untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sustainable.
STUDI TENTANG PARTISIPASI PESERTA DIDIK KELAS VIII DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER PADA SENI BUDAYA TARI DI MADRASAH TSANAWIAH NEGERI KOTA TERNATE Nuraisyah Adam; Hasmawati Hasmawati
Jurnal GeoCivic Vol 1 No 1 (2018): GEOCIVIC EDISI APRIL 2018
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v1i1.855

Abstract

This research is motivated by an activity to foster the talents, interests and skills of students in the school, which are called extracurricular activities in cultural arts and dance. This study aims to determine the form of student participation in extracurricular activities in dance culture, as well as factors that inhibit the participation of students in extracurricular activities in dance culture. This study uses a type of descriptive qualitative research aimed at gaining a general understanding of social reality from a participant's perspective. The technique of collecting data through observation, interviews, and documentation. The data is analyzed using Data Reduction, Data Presentation, and Verification of Data and conclusions scientifically. The results of this study indicate the form of student participation in extracurricular activities in dance culture arts. The number of eighth grade students in the MTs Negeri Kota Ternate Ternate is 219 students. Only 50 students participated in extracurricular activities. This shows that the participation of students in extracurricular activities is very minimal. Because students are less interested and less like extracurricular activities in dance culture. Factors that hinder the participation of students in extracurricular activities in dance culture are mostly male students who feel inferior to participate in extracurricular activities in the field of dance culture, this is due to male students assume that extracurricular activities in dance culture are especially for female students. So that students who take extracurricular activities in the art of dance culture are mostly female students compared to male students. Keywords: extracurricular activities, dance culture, learners, participation 
PENDIDIKAN FORMAL SUKU TOGUTIL DI DESA LILI KECAMATAN MABA UTARA 2019 Hasmawati Hasmawati; Jainudin Abdullah; Desriyanti Sorofoli
Jurnal GeoCivic Vol 3 No 1 (2020): GEOCIVIC EDISI APRIL 2020
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v3i1.1265

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi adanya Kondisi pendidikan formal yang belum mengalami perkembangan secara baik, akan tetapi perubahan pola kehidupan masyarakat togutil di Desa Lili sudah berubah, selanjutnya di harapkan kepada pihak pemerintah agar memperhatikan pengembangan pendidikan formal pada  khususnya sehingga masyarakat Suku Togutil dimasa yang akan datang mampu menjawab tantangan yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili, (2) untuk mengetahui kendala-kendala yang dialami Suku Togutil di Desa Lili dalam melanjutkan pendidikan formal. Sedangkan yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili Kecamatan Maba Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang menggambarkan dan mengungkapkan keadaan di sekitarnya, peristiwa sebagaimana adanya atau mengungkapkan fakta secara lebih mendalam mengenai kondisi yang dapat diamati. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer data sekunder dan yang menjadi penelitih adalah tokoh masyarakat, tokoh pendidikan dan pemerintah desa. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebelum ada pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili sangat kental dengan perasaan takut dan malu terhadap orang yang bukan suku togutil. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Setelah adanya lembaga pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili hidupnya mulai mengalami, perubahan hidup, pola pikir, adat istiadat, kebiasaan, dan taat hukum karena pendidikan formal Suku Togutil di Desa Lili tahun 2019  mengalami perkembangan hal ini di tunjukan bahwa 85 orang anak yang bersekolah di tingkat sekolah dasar (SD), 20 orang anak melanjutkan pendidikan pada lanjut pertama (SLTP) dan melanjutkan pendidikan padah tingkat sekolah menengah atas (SMA) berjumlah 12 orang. Sedangkan kendala-kendala yang dialami masyarakat Suku Togutil dalam melanjutkan pendidikan formalnya yaitu faktor ekonomi yang masih rendah.Kata Kunci: Pendidikan Formal, Suku Togutil, Desa Lili
PERAN PEMERINTAH DESA DALAM MEMPERKUAT INTERAKSI SOSIAL PADA PEMERINTAH DESA KUNTUM MEKAR HALMAHERA UTARA Jainudin Abdullah; Hasmawati Hasmawati; Rosita Muhlis
Jurnal GeoCivic Vol 4 No 2 (2021): GEOCIVIC EDISI OKTOBER 2021
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v4i2.4110

Abstract

Latar belakang penelitian ini peran pemerintah dalam Interaksi sosial merupakan hubungan sosial timbal balik yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang secara perorangan, antara kelompok- kelompok manusia,  ataupun  antara  orang  dengan  kelompok manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui peran pemerintah desa kuntum mekar dalam memperkuat sosial interaksi di Desa Kuntum Mekar. (2) Untuk mengetahui kendala pemerintah desa kuntum mekar dalam memperkuat sosial interaksi di Desa Kuntum Mekar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif pendekatan deskriptif. Sumber data data yakni, data primer yang terdiri dari kepala Desa, tokoh Adat dan Masyarakat Desa Kuntum Mekar dan data sekunder terdiri dari buku dan hasil penelitian terdahulu. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Dalam memperkuat interak sisosial pemerintah desa dituntut untuk berinteraksi dengan sesame secara baik agar tercipta masyarakat yang tentram dan damai. Interaksi social merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interaksi social tidak ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. (2) Salah satu factor kendala dalam memperkuat interaksi social kurangnya komunikasi sebagai hal yang sangat penting dalam menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat agar bersedia dengan sukarela ikut serta secara aktif dalam mempererat interkasi social didesanya. Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh Kepala Desa untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan didesanya, sudah sangat baik terbukti dengan partisipasi dari masyarakat yang sangat tinggi dalam pembangunan desanya, maupun antara kelompok dengan individu.
PERAN LEMBAGA KEPOLISIAN DALAM MENANGANI PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KOTA TERNATE Hasmawati Hasmawati; Mukhtar Yusuf; Amri Kaledar
Jurnal GeoCivic Vol 8 No 1 (2025): GEOCIVIC EDISI APRIL 2025
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v8i1.10487

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui peran kepolisian dalam menangani penyalahgunaan narkoba dan (2) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pihak kepolisian dalam menangani penyalahgunaan narkoba di kalangan masyarakat khususnya di wilayah Ternate, Maluku Utara. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil penelitian di lapangan bahwa (1) Peran institusi Polres Ternate dalam menangani penyalahgunaan narkoba. Pertama, cara melakukan pendekatan sosialisasi terhadap masyarakat untuk melihat berbagai karakter masyarakat yang terjerumus dalam penggunaan narkoba dan pengedar narkoba setelah di cari tahu lalu kemudian ada yang dapat mencurigakan langsung dari pihak Saturan Reserse (Satres) Narkoba dapat melakukan pengamanan terhadap tersanka terlebih dahulu kemudian melakukan proses secara hukum. Kedua, Peran institusi Polres Ternate dalam menangani penyalahgunaan narkoba sudah sangat baik dalam menjalani tugas sebagai kepala satuan reserse narkoba dan penyidik dalam penanganan terhadap pelaku pengguna narkoba itu sudah sangat baik terhadap masyarakat dan demi kenyamanan bersama warga masyarakat Kota Ternate. (2) Faktor yang mendukung yaitu adanya dukungan dari masyarakat yang dapat memberikan kemudahan dan kelancaran kinerja Polres Ternate khususnya Satres Narkoba dalam mengungkap kasus-kasus peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang terjadi khususnya wilayah Ternate. Sedangkan faktor penghambat adalah adanya keterlambatan anggaran dana yang menjadi kendala Satres Polres Ternate dalam melaksanakan upaya-upaya penanganan narkoba di wilayah Ternate, serta sebagian masyarakat yang takut memberikan informasi kepada pihak Satres Narkoba Polres Ternate terhadap penyalahgunaan narkoba di lingkungan masyarakat.
MERAJUT KARAKTER TOLERANSI MELALUI GERAKAN PRAMUKA DI SMA NEGERI 7 HALMAHERA BARAT Hasmawati Hasmawati; Nani Rajaloa; Hamdan Udin
Jurnal GeoCivic Vol 8 No 1 (2025): GEOCIVIC EDISI APRIL 2025
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/geocivic.v8i1.10488

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui upaya membangun dan merajut karakter toleransi melalui pelaksanaan kegiatan pramuka di SMA Negeri 7 Halmahera Barat serta, (2) untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat pembentukan karakter toleransi peserta didik melalaui kegiatan pramuka di SMA Negeri 7 Hamahera Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakasek kesiswaan, Pembina pramuka, ketua osis dan anggota pramuka. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data.Hasil penelitian dalam artikel ini sebagai berikut; (1) Pelaksanaan kegiatan Pramuka di SMA Negeri 7 Halmahera Barat telah berjalan dengan efektif dan baik karena telah melakukan beberapa upaya untuk mengembangkan karakter toleransi peserta didik melalui kegiatan Kepramukaan yaitu kegiatan perkemahan penerimaan tamu Ambalan, perkemahan kenaikan tingkat, mengikuti Raimuna Nasional, dan Scot Competition. Pramuka adalah kegiatan ekstrakurikuler yang didukung oleh program kerja dan dapat membentuk serta menumbuhkan karakter toleransi peserta didik seperti saling membantu sesama teman, saling menghargai perbedaan, gotong royong, atau kerja sama (2) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pembentukan karakter toleransi peserta didik melalui pelaksanaa kegiatan Pramuka di SMA Negeri 7 Halmahera Barat, faktor pendukung internal (dari dalam diri) yaitu kesadaran, sikap, pengalaman, pengetahuan, dan faktor eksternal yaitu kompetensi yang dimiliki pembina, teman sebaya atau faktor pendukung lainya seperti dukungan dari pihak sekolah, pembina Pramuka, anggaran atau dana BOS, orang tua, atribut perkemahan, dan program kerja.Selanjutnya masyarakat juga memberi dukungan dalam kegiatan yang telah diprogramkan oleh anggota Pramuka seperti bakti sosial, penghijauan dengan masyarakat setempat sehingga karakter toleransi dapat dibentuk dengan baik. Sedangkan faktor penghambat pembentukan karakter toleransi peserta didik faktor internal: kondisi fisik peserta didik dan kurangnya motivasi dari dalam diri, faktor eksternal: pengaruh teman sebaya dan orang tua juga merupakan salah satu faktor penghambat pembentukan karakter toleransi melalui pelaksanaan kegiatan Pramuka.