Kecenderungan masyarakat sekarang adalah membentuk pola hidup masa kini dan masa depan. Kecenderungan itu adalah pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi informasi. Dalam ekonomi industri, kapital merupakan sumber yang sangat strategis; sedangkan dalam ekonomi informasi, sumber yang paling strategis adalah informasi itu sendiri. Pada era global, informasi menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Mereka yang dapat menguasai ekonomi informasi akan menjadi pemenang dalam persaingan hidup. Misalnya, informasi yang disebarluaskan surat kabar dapat memberi kekuatan masyarakat untuk semakin peka terhadap lingkungan, semakin kritis terhadap fenomena sosial, dan semakin waspada terhadap penyimpangan pembangunan. Pergeseran pola hidup tersebut menunjukkan bahwa saat ini masyarakat, khususnya masyarakat kampus, telah menjadi masyarakat informasi (Information society). Information society ditandai dengan kesadaran masyarakat tentang nilai informasi (information awareness), ledakan jumlah informasi (information bombing), kebutuhan informasi (information need), dan cara-cara efektif - efisien dalam melacak informasi (information retrieval). Information awareness dapat dilihat di mana berbagai tempat para anggota masyarakat membaca koran/majalah, dan di warnet-warnet (warung internet) mereka mencari informasi lewat internet. Information bombing dapat diketahui dengan semakin marak penerbitan buku, koran, majalah, tabloid, dsb., dan menjamurnya internet yang menyediakan samudra informasi yang begitu luas. Information need seseorang didasarkan pada kebutuhan (kepentingan) dan keahlian (keilmuan)-nya. Information retrieval harus dilakukan secara efektif dan efisien karena ledakan informasi yang dahsyat dan meluas. Informasi yang banyak dan luas ini membutuhkan kemampuan membaca sebagai syarat untuk hidup dalamnya, membaca yang dimaksud bukan sekedar membaca huruf melainkan kemampuan memahami makna dari suatu bacaan (informasi). Sehingga reading culture atau budaya membaca sebuah masyarakat menjadi salah satu turunan indikator kualitas SDM suatu bangsa, Selain budaya baca yang rendah dan jumlah terbitan buku yang sedikit, permasalahan kepustakawanan di Indonesia adalah pustakawan merupakan profesi yang kurang diminati, terbatasnya kualitas dan kuantitas pustakawan, dan bahkan ada kesan bahwa perpustakaan merupakan tempat “pembuangan” pegawai yang tidak terpakai. Problema inilah yang dihadapi oleh kepustakawanan Indonesia yang harus terus berkembang untuk mengatasi problema tersebut. Bagaimana seharusnya kepustakawanan Indonesia dikembangkan?