Perpustakaan sebagai lembaga yang berhubungan secara langsung dengan ketersediaan informasi perlu memperhatikan perkembangan TIK. Selain memberikan manfaat yang besar dengan ketersediaan TIK di perpustakaan, ketersediaan TIK pun menciptakan semacam rasa ketakutan yaitu TIK akan merebut pekerjaan pustakawan. Pustakawan lupa bahwa seluruh fasilitas TIK hanyalah alat untuk memperlancar pekerjaan di perpustakaan, bukan sebagai tujuan utama. Artikel ini mengangkat aspek-aspek manfaat dan transformasi yang terjadi di perpustakaan dengan tersedianya TIK serta mengetahui lebih jauh akses internet di lingkungan perpustakaan di Indonesia. Pergeseran paradigma karena teknologi tidak saja terjadi pada kegiatan perpustakaan saja tetapi juga terjadi pada paradigma perubahan peran pustakawan yang sedang berlangsung di era digital saat ini. Pustakawan di era digital dituntut untuk mengubah peran konvensional yang diembannya selama ini. Peran-peran baru di era digital membutuhkan kemampuan menggunakan fasilitas TIK dengan baik. Tantangan pustakawan era digital tidaklah ringan selain kemampuan hard skill dibutuhkan kemampuan soft skill dalam memberikan layanan di perpustakaan. Tetapi yang harus menjadi perhatian adalah komitmen pustakawan untuk terus berkembang maju dalam rangka mengakomodir perubahan itu sendiri. Bahwa adanya ketersediaan TIK di perpustakaan memberikan kesempatan pengembangan perpustakaan lebih luas lagi. Perpustakaan dapat melakukan inovasi di berbagai bidang kegiatannya. Dan hal itu semua tergantung dari bagaimana pustakawan sebagai pengelola perpustakaan menyikapi semuanya sebagai satu tantangan bagi pengembangan perpustakaan dan profesi perpustakaan pada umumnya.