This Author published in this journals
All Journal Media Pustakawan
Sri Rumani
Universitas Gadjah Mada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sertifikasi Profesi Pustakawan Berbasis Kinerja Sebagai Upaya Menghadapi Era Global Sri Rumani
Media Pustakawan Vol 21, No 2 (2014): JUNI
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v21i2.783

Abstract

Abad ke-21 disebut era globalisasi mempunyai karakteristik keterkaitan dan ketergantungan antar individu, kelompok, dan negara saling berinteraksi tanpa batas (borderless). Globalisasi sebagai proses sosial yang alami menuju internasionalisasi, universalisasi, liberalisasi, dan westernisasi dalam ranah sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Dalam era global profesi pustakawan mendapat tantangan dan peluang emas untuk tetap eksis dan bersinergi dengan profesi lain. Perlu upaya dan strategi dalam menghadapi perubahan yang cepat. Masalahnya pustakawan senang di “zona nyaman dan kemapanan”, menentang perubahan, mempertahankan status quo, under estime dengan profesinya, motivasi berprestasi rendah, tidak senang “membaca dan menulis”. Tujuan penelitian untuk mengetahui kesiapan pustakawan dalam menghadapi era persaingan bebas dan faktor-faktor yang menjadi kendala transformasi bagi profesi pustakawan. Jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Teknik pengambilan sampel purposive sampling dan snowball sampling. Instrumen penelitian human instrument, dengan sumber data primer. Metode pengumpulan data wawancara/interview, dan studi dokumentasi. Analisis data melalui reduksi data kemudian ditafsirkan, dianalisis, dan diintepretasikan. Hasil penelitian menunjukkan pustakawan belum menyadari dan menjiwai profesinya yang menuntut kompetensi personal dan profesional. Kendala utama merubah mental dan perilaku bekerja “asal jalan”. Kinerja belum sesuai tupoksi seperti dalam SK Menpan No.132/2002. Pustakawan sering “terjebak pekerjaan rutinitas” diluar kepustakawanan. Untuk menghadapi era global persiapan yang diperlukan adalah kompetensi TI, komunikasi, kepribadian dan ilmu yang mendukung. Profesi pustakawan dalam menghadapi era persaingan bebas masih berkutat dengan persoalan “klasik” baik secara internal maupun eksternal.
Organisasi Profesi Pustakawan Di Indonesia Mau Dibawa Kemana Sri Rumani
Media Pustakawan Vol 16, No 3&4 (2009): September
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.07 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v16i3&4.918

Abstract

IPI sebagai oragnisasi profesi pustakawan dalam era nformasi dan reformasi ini dapat dikatakan berjalan di tempat, walau diakui sudah mempunyai peran untuk memperjuangkan tunjangan fungsional dan ikut menggolkan disahkannya UU No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Sesuai dengan AD/ART IPI tahun 2006 IPI, tujuan didirikannya organisasi ini untuk meningkatkan profesionalisme pustakawan, mengembangkan ilmu pusdokinfo, mengabdikan dan mengamalkan tenaga dan keahlian pustakawan untuk bangsa dan Negara RI. Kenyataannya organisasi ini belum memberikan manfaat langsung kepada para anggotanya, sehingga anggotanya lebih banyak yang berstatus PNS yang sudah menjelang pensiun. Wajar bila sampai usinya yang ke 36 belum dapat mandiri dan independen, karena dibayangi birokrasi yang kental. Dalam era keterbukaan seperti saat ini mutlak adanya peran IPI, perlu mengajak pustakawan junior hasil lulusan program ilmu pusdokinfo yang terbukti lebih energik, inovatif, militan, siap bekerja keras, dan lebih berorientasi pada pelayanan daripada proses perpustakaan. Terlebih adanya tuntutan kompetensi, sertifikasi, IPI harus siap untuk memberi rekomendasi setiap calon pustakawan untuk masuk di dunia kerja. Program-program IPI dibuat sesuai dengan kebutuhan pustakawan, bukan pustakawan yang harus menerima program IPI. Untuk itu perlu ada sistem yang mengikat kepada setiap lulusan pustakawan, agar merasa perlu menjadi anggota IPI. Dari sinilah pendataan anggota itu dilaksanakan, yang pada gilirannya dapat dibuat peta permasalahan dan kebutuhan pustakawan di Indonesia. Surat Bukti Lapor dan Kartu Anggota menjadi tanda untuk memperoleh hak-haknya dan menjalankan kewajibannya. Iuran anggota mejadi sumber dana selain hasil kerjasama dengan sponsor atau lembaga swasta, BUMN yang mempunyai program CSR, untuk menyelenggarakan program IPI dan meng “upgrade” secara terus-menerus ilmu pengetahuan anggota IPI. Selain itu uji kompetensi juga perlu dilaksakan oleh IPI, dan juga berhak mengeluarkan Tanda Lulus Uji Kompetensi. Bila sudah dapat tanda lulus berhak mengikuti sertifikasi dan segala hak yang mengikat, misalnya tunjangan 1 (satu) gaji.
Analisis Kebutuhan Pustakawan Perguruan Tinggi Negeri (PTN): Studi Kasus Perpustakaan PTN Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Rumani
Media Pustakawan Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v25i5.3275

Abstract

Penelitian ini berawal dari perubahan status PTN yang didirikan pemerintah beralih ke PTN BH, dan PTN BLU, bahkan ada PTS menjadi PTN Satker. Perpindahan status ini mempunyai implikasi dan dilema berkaitan dengan pengelolaan SDM dan keuangan, karena masih melibatkan kewenangan pemerintah pusat. Disisi lain dalam perekrutan pustakawan selama ini belum berdasarkan analisis kebutuhan yang seksama. Dampaknya perbandingan jumlah pustakawan ahli, pustakawan terampil dan tenaga teknis lainnya belum tercapai secara proporsional. Tujuan penelitian untuk mengetahui kebutuhan tenaga perpustakaan berdasarkan komposisi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) No.7330:2009 untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi dengan rumus dari Ranganathan yang disesuaikan. Metodologi penelitian menggunakan metode kualitatif, yang menghasilkan data deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data purposive sampling dan snowball sampling, sedang metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data dengan triangulasi, direduksi dan analisis kualitatif serta dipaparkan secara deskriptif. Hasil penelitian di perpustakaan PTN Provinsi DIY ada 220 orang tenaga perpustakaan terdiri 89 pustakawan ahli, 45 orang pustakawan terampil, dan 86 orang tenaga teknis lainnya. Terjadi kelebihan pustakawan ahli, dan pustakawan terampil terus berkurang. Kebutuhan ideal pustakawan sebanyak 273 orang, dengan rincian 30 orang pustakawan ahli, 92 orang pustakawan terampil, dan 151 orang tenaga teknis lainnya. Berdasrkan data ada kelebihan pustakawan ahli 59 orang, disisi lain kekurangan pustakawan terampil 47 orang, dan tenaga teknis lainnya 65 orang.