This Author published in this journals
All Journal Media Pustakawan
Yulianti Yulianti
Universitas Padjajaran

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Two way flow of information: paradigma baru pengelolaan informasi dan perpustakaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan dalam perspektif Library 2.0 Yulianti Yulianti
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.752 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.812

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas mengenai paradigma baru pengelolaan informasi dan perpustakaan berdasarkan Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan dalam perspektif library 2.0. Perkembangan dunia perpustakaan juga didukung oleh perkembangan teknologi informasi. Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan telah mengantisipasi dengan cermat mengenai hal ini. Ada 2(dua) Pasal yang secara eksplisit menyatakan dukungan dan antisipasi pemerintah terhadap perkembangan yang terjadi di dunia perpustakaan, yakni yang terkait dengan pelayanan teknis (Bab V, pasal 14, ayat 3) yang berbunyi: “Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi”, serta yang terkait dengan manajemen dan pengelolaan secara keseluruhan (Bab VI, pasal 19, ayat 2), yang berbunyi : “Pengembangan perpustakaan dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan  kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.” Kedua pasal tersebut di atas membawa konsekuensi yang cukup “menantang “ bagi dunia informasi dan perpustakaan. Konsekuensi untuk tetap memberikan yang terbaik kepada pemustaka, apapun dan bagaimanapun perkembangan yang terjadi. Hal ini didorong juga oleh bunyi Pasal 14 dalam Undang-Undang yang sama, yang menyebutkan bahwa layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka. Pada paradigma lama, pengelola informasi dan perpustakaan menyampaikan informasinya melalui jasa layanan kepada pemustaka. Setelah itu selesai. Umumnya respon atau efek yang muncul kemudian pada diri pemustaka tidak lagi menjadi perhatian pengelola informasi dan perpustakaan. Meskipun mungkin mereka bertemu dan bertatap muka, namun semuanya berlangsung satu arah saja. Pada paradigma baru, setelah pengelola informasi dan perpustakaan menyampaikan informasinya melalui jasa layanan kepada pemustaka, kemudian pemustaka memberikan responnya, sehingga pengelola informasi dan perpustakaan bisa melihat efek yang ditimbulkan dari informasi yang disampaikannya.